Berapa lama kita bisa tahan duduk mengobrol dengan teman atau keluarga tanpa menyentuh ponsel sama sekali? Di restoran, kafe, sering kita melihat orang-orang duduk bersama, tetapi masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri. Bahkan, dalam pembicaraan yang cukup seru sekalipun, kadang tangan refleks bergerak melihat notifikasi ponsel.
Hantaman informasi bertubi-tubi yang kita dapatkan melalui telepon pintar, merangsang otak untuk terus menerus mencari hal baru yang menarik perhatian kita. Setiap menitnya ada 138.9 juta reels yang diputar di Instagram dan Facebook menanti untuk dinikmati. Dr Aditi Nerurkar, penulis buku The 5 Resets, Rewire Your Brain and Body for Less Stress and More Resilience, mengatakan, “Otak kita menjadi terbiasa dengan aliran informasi yang terus-menerus ini.”
David M Levy, seorang ilmuwan komputer dari University of Washington menyebut fenomena ini sebagai “popcorn brain”, ketika pikiran terus berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain, seperti biji jagung yang meletup satu demi satu di dalam wajan panas. Mirip perilaku ADHD meskipun popcorn brain bukan sebuah diagnosis klinis.
Levy mengatakan, mereka yang begitu kecanduan multitasking elektronik merasa kehidupan offline berjalan lebih pelan dan tidak terasa menarik. Akibatnya, rentang toleransi terhadap keheningan, berfokus mendengarkan orang lain, maupun membaca buku menjadi lebih singkat. Sering kali di kantor kita merasa belum menyelesaikan apa-apa, padahal hari sudah malam akibat begitu banyak interupsi yang terjadi.
Psikolog Gloria Mark dari University of California menemukan bahwa rentang perhatian manusia terhadap layar menurun drastis, dari 2,5 menit pada 2004 menjadi hanya sekitar 47 detik pada 2016. Menurut Gloria, karyawan membutuhkan sekitar 23 menit 15 detik untuk benar-benar kembali berfokus setelah sebuah interupsi.
Bayangkan 8 jam kerja kita sebagai 8 gelas kosong yang perlu diisi penuh dengan fokus. Namun, setiap interupsi ibarat kita menumpahkan sebagian isi gelas yang sedang diisi dan ini membutuhkan 23 menit untuk mengisinya kembali ke posisi semula. Kalau interupsi datang setiap beberapa menit, bukankah gelas itu nyaris tidak pernah sempat terisi penuh?
Evolusi otak
Otak kita memang menyukai hal baru. Setiap kali muncul sesuatu yang segar, baik pesan, judul berita, maupun video pendek, otak melepaskan sedikit dopamin sebagai bentuk “penghargaan”.
Otak manusia telah berevolusi untuk mendambakan serta mencari perhatian positif dan penguatan sosial; keduanya memicu lonjakan dopamin. Dengan demikian, reaksi positif dan konten yang kita terima melalui interaksi di medsos dapat secara otomatis memicu dorongan primitif ini.
Dengan kecanggihan teknologi saat ini, medsos sengaja dirancang untuk memuaskan mekanisme kerja otak ini, membuat kita terus kembali dan sulit berhenti. Aplikasi medsos dan hiburan, dibangun di atas pola scroll, refresh, klik, dan geser yang lama-kelamaan melatih otak untuk mengharapkan stimulasi tanpa henti.
Orang dewasa sebenarnya memiliki kemampuan yang lebih kuat untuk menahan godaan memeriksa ponsel terus-menerus, apalagi ketika memiliki tanggung jawab lain yang harus dipenuhi. Namun, sayangnya kemampuan tersebut sering kali belum berkembang dengan baik pada anak-anak.
Anak-anak yang mengalami fenomena popcorn brain bisa mengalami berbagai dampak negatif, termasuk rentang perhatian yang pendek, stres, kelelahan, peningkatan sifat impulsif, tidak sabar, sampai dampak pada kesehatan fisik, seperti mata lelah, sakit kepala, rasa lesu, dan kualitas tidur yang buruk.
Bukan sekadar detoks digital
Menangani popcorn brain ini tidak sesederhana menghentikan akses ke berbagai stimulus yang mengganggu. Sebab, perilaku scrolling medsos berkelanjutan ini memang memiliki jejak biologis di area otak yang mengatur atensi. Kita tidak bisa “mengistirahatkan” popcorn brain dalam lima menit seperti mengistirahatkan mata yang lelah. Memulihkannya butuh proses membiasakan ulang otak pada ritme yang lebih lambat.
Di level individual, kita dapat menerapkan metode ready to resume plan. Sebelum beralih ke hal lain ketika diinterupsi, luangkan waktu untuk menuliskan posisi terakhir pekerjaan kita dan apa yang kita rencanakan untuk tindak selanjutnya. Dengan demikian, otak kita dapat berpindah fokus pada interupsi, menyelesaikannya, dan kembali lagi ke titik yang kita tinggalkan tanpa harus berpikir keras “tadi sampai di mana ya”.
Batasi waktu scrolling medsos kita di luar pekerjaan dan catat setiap kali pelanggaran terjadi untuk melatih kemampuan menahan diri kita. Gunakan lebih banyak waktu untuk aktivitas fisik seperti olahraga ringan bila otak merasa membutuhkan stimulus baru. Kesibukan aktivitas fisik dapat membantu kita untuk melepaskan diri dari telepon dan berfokus pada kegiatan yang sedang kita lakukan.
Ingat, popcorn brain di tempat kerja bukan sekadar kebiasaan personal. Ia juga merupakan hasil dari lingkungan kerja yang secara struktural dirancang untuk menginterupsi kita setiap beberapa menit.
Mekanisme bekerja di organisasi memiliki kemiripan dengan mekanisme popcorn brain. Rapat yang bertumpuk-tumpuk serta tuntutan koordinasi lintas fungsi membuat kesempatan melepaskan diri dari perangkat kerja kian sulit. Siapa yang berani mengabaikan pesan interupsi yang datang dari atasan? Sebagaimana dahulu ada standar di dunia servis untuk mengangkat telepon sebelum habis dering ketiga, lambat dalam merespons pesan yang masuk juga berpotensi mengurangi penilaian kinerja seseorang.
Organisasi bisa memberikan dukungan dengan hari bebas rapat. Riset MIT Sloan Management Review yang mengamati 76 perusahaan menemukan satu hari bebas rapat per minggu meningkatkan produktivitas 35 persen, mengurangi stres 26 persen, dan meningkatkan kepuasan kerja 52 persen.
Teknologi juga dapat dimanfaatkan untuk mengaktifkan budaya kerja asynchronous. Semua keputusan didokumentasikan secara tertulis sehingga kehadiran sinkron tidak lagi menjadi syarat mutlak untuk tetap terinformasi. Memorandum menggantikan presentasi rapat, memaksa penulis menyusun argumen secara utuh dan terstruktur, sekaligus membebaskan pembacanya dari kewajiban hadir untuk memahami sebuah keputusan.
Coba lihat, seberapa sering tangan kita tanpa sadar mencari ponsel, mencari stimulasi baru, bahkan di saat-saat ketika kita seharusnya mengistirahatkan otak dan mata untuk pulih kembali. Mungkin sudah saatnya kita memperbaiki kembali kebiasaan kerja otak kita.
Baca juga: Berlaga dengan Diri Sendiri
HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Eileen Rachman
Character Building Assessment & Training EXPERD
EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.