1. News
  2. Adventure
  3. Animo Panjat Tebing yang Terus Memuncak

Animo Panjat Tebing yang Terus Memuncak

animo-panjat-tebing-yang-terus-memuncak
Animo Panjat Tebing yang Terus Memuncak

Oleh : Karina Londy
Fotografer. Penulis lepas.
Anggota Mapala UI.

Wartapalaindonesia.com, PERSPEKTIF – Lapangan parkir pusat bisnis SCBD di Jakarta Pusat disulap menjadi lokasi Piala Dunia panjat tebing yang dihelat oleh International Federation of Sport Climbing pada September 2022 lalu. Ini merupakan IFSC World Cup pertama yang digelar di Indonesia[1].

Berkat popularitas panjat tebing yang sedang naik daun di Indonesia, venue pada malam final pun penuh dengan penonton. Sampai-sampai ada kontestan yang mengaku, baru di sini dia mendapati penonton yang begitu antusias untuk minta foto bareng. Berasa artis, katanya.

Tak berhenti sampai di situ, pada Mei 2023 Jakarta kembali menjadi tuan rumah kompetisi IFSC[2]. Melejitnya ketenaran olahraga ekstrem ini di Indonesia tidak lepas dari prestasi para atlet speed climbing nasional. Bisa dibilang, ketenaran ini dimulai sejak Aries Susanti dan Aspar Jaelolo yang berhasil mengantongi medali – serta kekaguman para penonton – dalam gelaran Asian Games 2018[3].

Dalam konteks kompetisi, speed climbing adalah pemanjatan jalur vertikal 15 m yang pegangan serta injakannya telah terstandarisasi. Gerakan atau kekuatan tidak terlalu dinilai di sini, yang penting dulu-duluan sampai di atas[4].

Selain Aries dan Aspar, ada juga Kiromal Katibin. Kiromal adalah atlet panjat nasional yang setelah menyelesaikan jalur speed hanya dalam 5,25 detik pada Mei 2021, sempat menjadi pemegang rekor dunia pemanjatan speed tercepat. Predikat itu tidak lama ia pegang sebab dalam perhelatan yang sama, rekannya Veddriq Leonardo merebut gelar itu hanya dengan selisih 5 detik saja.

Sejak saat itu hingga sekarang, Kiromal dan Veddriq bergantian mencetak rekor waktu baru. Sayangnya, estafet antara mereka harus ditangguhkan, karena Samuel Watson dari Amerika Serikat kini memegang rekor tersebut setelah performanya di IFSC World Cup Wujiang 2024 dan Olimpiade Paris 2024. Meski begitu, Veddriq tetap muncul sebagai peraih medali emas di Paris, yang merupakan emas Olimpiade pertama Indonesia dari cabang olahraga selain bulu tangkis[5].

Menarik untuk diketahui bahwa sebelum kemunculan dua pemanjat Indonesia ini, rekor pemanjatan speed tercepat terakhir kali ditembus sudah agak lama, tepatnya pada tahun 2017 oleh pemanjat Reza Alipour asal Iran. Sebelum itu, ditembus pada 2014 oleh Danyil Boldyrev asal Ukraina. Namun sejak 2021, dalam setahun bisa ada dua hingga empat rekor waktu baru yang dipecahkan oleh Kiromal dan Veddriq[6]. Sebuah pencapaian yang luar biasa.

Prestasi mereka membuat Indonesia dilabeli sebagai pentolan speed climbing di kancah dunia. Mereka pun berperan besar dalam mengenalkan panjat tebing pada hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia.

Lalu, apa efek dari popularitas ini selain membuat suasana Piala Dunia IFSC di Jakarta semarak?

Imbas yang Begitu Luas
Saya sudah lama menggeluti panjat tebing, meski hanya sebagai hobi musiman. Saya mulai belajar memanjat pada tahun 2017. Kini, 7 tahun sudah berlalu sejak saya berkenalan dengan dunia panjat tebing.

Saya menilik, 7 tahun ini adalah rentang waktu yang tepat untuk melihat before-after dunia panjat tebing dari segi popularitas. Pada 2018, setahun setelah memulai hobi ini, saya menyaksikan titik balik popularitas panjat tebing di Indonesia.

Dulu, panjat tebing identik sebagai kegiatan mahasiswa pencinta alam yang stereotipnya adalah anak-anak rimba proletar yang begajulan. Dinding-dinding panjat juga hanya tersedia di kampus dan sekolah tertentu serta di beberapa gelanggang olahraga dengan kualitas seadanya.

Toko penyedia alat panjat? Wah jangan ditanya, cukup sulit dicari. Tak hanya alat, pelatihan skill manjat pun tak bisa diakses banyak orang karena jarang sekali ada klub yang aktif selain komunitas Mapala atau komunitas yang spesifik lokasinya seperti Skygers di Bandung.

Penampilan para pemanjat dulu juga seadanya saja. Tidak berbaju quick-dry keren seperti sekarang atau dilengkapi peralatan bagus dengan warna variatif. Seperti sepatu panjat warna ungu pastel keluaran jenama asal Italia misalnya, atau harness pink. Duh, gemas. Bikin makin semangat manjatnya.

Panjat tebing pun jadi makin inklusif sehingga memungkinkan terbukanya peluang-peluang yang sebelumnya tidak terpikirkan. Peluang untuk merintis climbing gym di pusat perbelanjaan misalnya. Dalam 5 tahun terakhir di Jabodetabek, telah dibuka 4 climbing gym di dalam pusat perbelanjaan. Lokasinya ada yang di Senayan hingga di pusat kota Bogor. Selain itu, climbing gym juga bermunculan di berbagai daerah lain seperti Bandung dan Bali.

Harga untuk menikmati fasilitas ini memang terbilang mahal. Bisa dilihat dari lokasi yang dipilih, salah satunya yaitu di pusat bisnis Ibukota. Sasaran utama mereka tentunya orang-orang yang cukup berada. Inilah yang mungkin memantik tren olahraga panjat di kalangan warga kelas atas alias mereka yang tidak masuk dalam kategori anak rimba begajulan itu tadi.

Ada fasilitas lain buat mereka yang budget-nya lebih terbatas. Kini, banyak climbing wall baru berstandar internasional di gelanggang olahraga milik pemerintah[7]. Di berbagai GOR itu, akhirnya bermunculan pula klub pelatihan panjat tebing yang diwadahi Federasi Panjat Tebing Indonesia. Klub-klub ini diminati oleh masyarakat dari berbagai umur, terutama anak-anak. Andaikan dulu saat saya kecil ada klub panjat yang bisa saya ikuti!

Penyelenggaraan kompetisi taraf dunia di Indonesia seperti IFSC World Cup adalah dampak positif lainnya. Toko-toko alat panjat juga mulai menjamur sehingga harganya jadi bersaing. Kalau geliat ini diteruskan dan dijaga baik-baik, saya rasa panjat tebing dapat menjadi olahraga kesayangan Indonesia selanjutnya, selain bulu tangkis dan sepak bola.

Apalagi cabang olahraga panjat tebing baru saja menyumbang satu dari tiga medali kemenangan Indonesia dalam Olimpiade Paris 2024. Betapa gegap gempitanya masyarakat kita merayakan keberhasilan Veddriq menyabet emas pertama untuk Indonesia dalam ajang bergengsi itu[8].

Terlepas dari segala perkembangan menyenangkan ini, efek positif dari populernya panjat tebing paling esensial menurut saya adalah kelestarian karst atau gunung kapur di Indonesia.

Dari segi lokasi, olahraga panjat terbagi menjadi indoor dan outdoor climbing. Indoor climbing dilakukan di dinding panjat seperti di gym. Sementara outdoor climbing dilakukan di tebing langsung.

Sebagai pemanjat, saya lebih sering manjat di tebing daripada di gym. Maklum, saya termasuk mantan kaum mahasiswa proletar itu tadi, yang menganggap biaya transport ke tebing-tebing terdekat dari Jakarta masih lebih murah daripada harga masuk climbing gym.

Saya menjumpai hampir semua tebing terdekat dari Jakarta, seperti di daerah Bogor dan Bandung, pasti bertetanggaan dengan aktivitas pertambangan atau pabrik semen. Bahkan ada tebing yang berada di bekas atau di dalam kawasan tambang, seperti Tebing Arpam di Klapanunggal, Bogor.

Di sana, latar suara bom saat lagi manjat menjadi hal yang lazim. Pasalnya, penambang daerah tersebut memang sering menggunakan bom untuk membuka jalan dan semacamnya. Meski bom tidak diaktifkan dalam radius sejauh pandangan mata pemanjat Arpam, namun tentu saja kondisi ini tidak ideal. Tetap ada unsur bahaya, terlebih karena bom di Klapanunggal pernah beberapa kali menyebabkan kecelakaan fatal yang merenggut nyawa para penambang[9].

Tebing Arpam juga dikenal sebagai Gua Sigugula. Bentuk tebingnya memang menyerupai gua. Kedua sisi dinding tebing yang berhadapan menyatu di atas membentuk sebuah atap. Pemandangan sekelilingnya adalah gunung-gunung kapur lain dengan berbagai macam bentuk dan ukuran. Namun setiap kali saya menyambangi Arpam, gundukan karst yang menghiasi horizon itu terus berkurang.

Arpam sendiri sudah “ditandai” oleh komunitas panjat dan masyarakat setempat sebagai spot panjat. Mereka memasang pengaman-pengaman di dinding tebing dan membangun mushola di dekatnya. Meski begitu, terakhir saya ke sana pada Oktober lalu, terdengar desas-desus bahwa Tebing Arpam sedang dalam tahap negosiasi untuk ditambang. Saya pun jadi termenung. Terlepas dari betul atau tidaknya desas-desus itu, rasanya aneh sekali tempat main saya sejak kuliah ini, di masa depan bisa hilang tak berbekas.

Selain untuk dipanjat, tentunya karst punya manfaat lain bagi manusia. Dilansir dari mongabay.co.id, kawasan karst adalah penyedia cadangan air serta merupakan habitat flora dan fauna endemik. Kelestarian karst punya peran besar dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Namun sayangnya, sekitar 9,5% dari total wilayah karst di Indonesia telah rusak sementara 11% nya diizinkan untuk ditambang[10]. Tidak seperti hutan yang ketika gundul bisa direboisasi, karst adalah mineral tidak terbarukan yang ketika rusak, manfaatnya bagi ekosistem pun hilang.

Banyak akademisi dan aktivis lingkungan yang bisa menjelaskan pentingnya kelestarian karst dengan lebih baik daripada saya. Jujur, saya hanya sedih tempat main saya bisa terancam keberadaannya. Namun kata orang, biasanya alasan yang lebih personal yang akan lebih menggerakkan kita.

Mungkin itulah alasan saya menyusun tulisan mengenai panjat tebing ini, dengan harapan olahraga tersebut makin dikenal dan digemari. Kalau makin terkenal, maka panjat tebing serta para penggiatnya – baik yang proletar maupun yang kelas atas – makin punya kekuatan untuk melestarikan karst Indonesia, supaya masih bisa kita nikmati bersama di masa depan.(KL).

Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB

Daftar Pustaka

1 Ayudiana, S. (2022, 27 September).  Presiden IFSC puji gelaran Piala Dunia Panjat Tebing di Jakarta. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari https://www.antaranews.com/berita/3140985/presiden-ifsc-puji-gelaran-piala-dunia-panjat-tebing-di-jakarta

2 Syachniar, Z.E. (2023, 6 Mei). Piala Dunia Panjat Tebing 2023 seri Jakarta resmi dibuka. Diakses pada 19 Agustus 2024, dari https://m.antaranews.com/berita/3524448/piala-dunia-panjat-tebing-2023-seri-jakarta-resmi-dibuka

3 Wirajati J.W., Gonsaga A. (2018, 23 Agustus). Asian Games 2018, 1 Emas, 1 Perak, dan 1 Perunggu dari Panjat Tebing. Diakses pada 20 Agustus 2024, dari https://olahraga.kompas.com/read/2018/08/23/19004088/asian-games-2018-1-emas-1-perak-dan-1-perunggu-dari-panjat-tebing

4 IFSC. Speed Index. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari https://www.ifsc-climbing.org/speed/index

5 The Straits Times. (2024, 9 Agustus). Indonesia’s Veddriq Leonardo upsets American Sam Watson to win speed gold. Diakses pada 29 Agustus 2024, dari  https://www.straitstimes.com/sport/climbing-indonesias-leonardo-upsets-american-watson-to-win-speed-gold

6 IFSC. World Records. Diakses pada 19 Agustus 2024, dari https://www.ifsc-climbing.org/speed/world_records#nolink

7 Pribady, M.L. (2024, 15 Agustus).  Jakarta International Climbing Wall Park, Arena Panjat Dinding Mewah Milik DKI. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari https://travel.detik.com/travel-news/d-7491153/jakarta-international-climbing-wall-park-arena-panjat-dinding-mewah-milik-dki

8 Pahlevi, A. (2024, 21 Agustus). Walau Diguyur Hujan, Ribuan Warga Pontianak Sambut Peraih Medali Emas Olimpiade Veddriq Leonardo. Diakses pada 27 Agustus 2024, dari https://sport.tempo.co/read/1906673/walau-diguyur-hujan-ribuan-warga-pontianak-sambut-peraih-medali-emas-olimpiade-veddriq-leonardo

9 Sakti, R.M. (2019, 17 September). Dua Penambang Batu Kapur Tewas Kena Ledakan. Diakses pada 20 Agustus 2024, dari https://www.jpnn.com/news/dua-penambang-batu-kapur-tewas-kena-ledakan

10 Paino, C. (2022, 25 April). Karst Indonesia, Kaya Manfaat Namun Minim Penelitian dan Perhatian. Diakses pada 21 Agustus 2024, dari  https://www.mongabay.co.id/2022/04/25/karst-indonesia-kaya-manfaat-namun-minim-penelitian-dan-perhatian/

[1] antaranews.com

[2] antaranews.com

[3] kompas.com

[4] ifsc-climbing.org

[5] straitstimes.com

[6] ifsc-climbing.org

[7] detik.com

[8] tempo.co

[9] jpnn.com

[10] mongabay.co.id

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Animo Panjat Tebing yang Terus Memuncak
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us