WartapalaIndonesia.com, SLEMAN – Sekolah Air Hujan Banyu Bening kembali menjadi pusat pembelajaran alternatif tentang pemanfaatan air hujan yang ramah lingkungan dan sarat manfaat. Kali ini yang berkunjung ke kawasan Sekolah Banyu Bening, Sleman, adalah rombongan ibu-ibu Fatayat dari Kebun Pemulihan Gresik. Pada Senin, 25 Mei 2025.
Kepada para tamunya, pendiri Sekolah Banyu Bening Sri Wahyuningsih yang akrab disapa bu Ning, mengajak masyarakat untuk mengubah pola pikir terhadap air hujan, termasuk membebaskan anak-anak bermain hujan, karena hujan bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bisa menjadi sumber kesehatan dan kehidupan.
“Air hujan memiliki banyak manfaat. Untuk mencuci baju misalnya, hasilnya lebih bersih dibanding air biasa, bahkan bisa membersihkan lantai. Kalau air bisa membersihkan lantai, logikanya tubuh kita juga bisa dibersihkan dari ‘karat-karat’ atau racun tubuh,” ujar Sri Wahyuningsih.
Dalam sesi diskusi, peserta diajak merenung soal kepedulian terhadap air bersih. Salah satunya soal kebutuhan air minum yang mencapai 1000 liter per hari, sementara selama 10 bulan masyarakat hanya mengambil 300 liter dari air sumur. Hal ini membuka kesadaran tentang pentingnya merawat air hujan agar bisa dimanfaatkan secara optimal.
Salah seorang peserta bertanya, “Apakah air hujan untuk dikonsumsi harus direbus terlebih dahulu?”. Sri Wahyuningsih menjawab, hal itu tergantung keyakinan masing-masing.
“Kalau mau direbus silakan, kalau tidak pun tak apa-apa, asalkan sumber dan penyimpanannya bersih,” jelasnya.
Pertanyaan lain mengenai pencampuran air hujan dengan air sumur juga dijawab secara langsung, bahkan dipraktikkan di tempat. “Kalau sehari kita mengambil 15 liter air tanah, apakah bisa dikembalikan? Tidak. Ini yang menjadi alarm bagi kita untuk menjaga lumbung air dan pangan ke depan,” tegas Sri Wahyuningsih.
Peserta juga diajak memahami perbedaan kualitas air di tiap daerah, termasuk di Gresik yang terkenal dengan tingkat polusinya. Meski air sumur di beberapa lokasi masih tergolong baik, namun Sri Wahyuningsih mengingatkan pentingnya mensyukuri dan memanfaatkan air hujan yang merupakan anugerah langsung dari Allah.
Penjelasan teknis juga diberikan mengenai alat elektrolisa air hujan yang menggunakan tandon, bejana, ring toren, titanium, adaptor, dan kapas. Teknologi sederhana ini digunakan untuk meningkatkan kualitas air hujan agar layak konsumsi.
Salah satu momen menarik adalah ketika peserta bernama Iin menanyakan, “Apakah air hujan bisa membantu kesuburan?”.
Sri Wahyuningsih menjawab dengan logis dan ilmiah, bahwa air hujan dapat membantu merilekskan sistem saraf, terutama jika dikonsumsi secara terukur dan diiringi pola hidup sehat serta doa.
Peserta lainnya, sempat bertanya mengenai alat terbaik untuk merebus air hujan. Sri Wahyuningsih menyarankan menggunakan wadah dari tanah liat atau stainless steel, dan menghindari penggunaan aluminium karena dapat menurunkan kualitas air.
Sebagai bagian dari kampanye edukatif, peserta diajak untuk hujan-hujanan bersama, mengabadikan momen tersebut, dan membagikannya di media sosial sambil menandai akun resmi Sekolah Air Hujan Banyu Bening.
Dengan semangat baru, para peserta menyatakan kesiapannya untuk mulai merawat air hujan dengan baik dan benar. “Insyaallah, kami siap,” jawab para peserta dengan mantap.
Acara ditutup dengan praktik penggunaan air hujan sebagai tetes mata pada masing-masing peserta, lalu dilanjutkan dengan tur keliling melihat langsung sistem penampungan air hujan di sekitar Sekolah Air Hujan Banyu Bening. (AN)
Kontributor || Ainaya Nurfadila
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)