Duo folk-pop asal Bekasi, Petrichor merilis single baru berjudul “Epilog” (08/10). Single ini menjadi karya terbaru dari Bada pada vokal dan Ale (gitar, vokal) yang kian mempertegas warna musik mereka, lembut, jujur, dan penuh cerita personal.
Bagi mereka, musik bukan sekadar ruang berkarya, tapi juga cara untuk meninggalkan jejak dalam artian supaya orang-orang terdekatnya tidak melupakan suaranya.
“Sebelum usia gue habis, gue pengin suara dan karya gue abadi. Supaya orang-orang gak lupa suara gue, dan kalau mereka kangen, mereka bisa akses di internet,” kata Bada saat dihubungi Pophariini (21/10).
Sementara Ale menambahkan, musik itu enggak ada matinya. Hidup tanpa musik tidak lengkap baginya, “Dan gue ngerasa musik bisa jadi alat untuk menjalin hubungan dengan manusia lain.”
Bade dan Ale sepakat bahwa Petrichor lahir dari keinginan untuk bercerita dan berbagi. Mereka punya harapan untuk hadir di cerita para pendengar meski hanya lewat lagu.
“Kami suka sharing, berbagi cerita, menemani, dan mengobati luka melalui karya yang tercipta,” ungkap Bada.
Penggarapan “Epilog” dimulai sejak Juli 2024 yang ide awalnya datang dari seorang produser sekaligus teman dekat yang memberikan potongan nada kepada Ale.
“Kami ngobrol sedikit tentang backstory dari lagu tersebut, lalu saling lengkapi bagian-bagian lagunya. Akhirnya karya itu rampung dalam waktu satu hari,” kenang Bada.
Meski proses kreatifnya singkat, perjalanan menuju rilis cukup panjang. Setelah masuk tahap rekaman pada Februari, lagu ini baru selesai mixing dan mastering di awal Maret. Sebelumnya lagu diberi judul “Lepas”, sampai akhirnya berganti menjadi “Epilog”.
“Kami sepakat mengganti judulnya karena ‘Epilog’ terasa lebih menarik dan masih linear dengan makna lagu,” jelas Ale.
Materi ini juga sempat mengalami beberapa kendala sebelum akhirnya resmi naik di platform digital. Namun, Petrichor aktif memperdengarkannya ke teman-teman sekitar dan mendapatkan banyak tanggapan positif.
Sebagai band yang tumbuh di Bekasi, mereka menaruh harapan besar terhadap perkembangan skena musik. Ale berharap kota asalnya ini terus bertumbuh menjadi ekosistem yang solid dan saling dukung.
“Bekasi punya banyak talenta yang belum tersentuh sorotan. Dengan kolaborasi antar musisi, komunitas, dan pelaku industri kreatif, semoga skena ini bisa dikenal bukan cuma sebagai penonton, tapi juga pusat lahirnya gerakan musik baru,” ujar Ale.
Dalam waktu dekat, Petrichor berharap bisa tampil di Soundsfest, festival musik besar yang juga jadi ruang bagi talenta baru. Alasan Bada memilih acara tersebut karena ia merasa festival ini bisa membuat Petrichor melebarkan jejaring mereka dengan musisi-musisi lain.
Lewat single “Epilog”, Petrichor menghadirkan penutup yang justru terasa seperti pembuka. Sebuah lagu yang lahir dari kejujuran, tumbuh dari pengalaman personal, dan ditulis dengan harapan agar musik mereka bisa terus menemani, bahkan ketika kata-kata tak lagi sempat diucapkan.