1. News
  2. Kombitainment
  3. 16 Tahun Rock in Celebes Gaungkan Isu Perubahan Iklim bersama IKLIM Fest

16 Tahun Rock in Celebes Gaungkan Isu Perubahan Iklim bersama IKLIM Fest

16-tahun-rock-in-celebes-gaungkan-isu-perubahan-iklim-bersama-iklim-fest
16 Tahun Rock in Celebes Gaungkan Isu Perubahan Iklim bersama IKLIM Fest

Kota Makassar indah berselimut langit biru nan cerah ketika saya tiba Sabtu untuk menghadiri 16th Rock in Celebes IKLIM Fest. Di perjalanan menuju tempat penginapan, Bapak yang mengantar saya dan rekan media dari Jakarta sempat mengatakan, padahal kemarin percis kota ini diguyur hujan. Pertanda cuaca hari pertama Rock in Celebes akan aman hingga malam hari. 

Tempat penyelenggaraan Rock in Celebes tahun ini masih sama dengan 2024 lalu, Fort Rotterdam, Jl. Ujung Pandang. Selama dua hari tanggal 1 dan 2 November 2025, festival diisi berbagai kegiatan yang berfokus kepada Music & Art Performance, Visual & Movie Screening, Talks, Exhibition, Markets, dan Intangible Heritage Showcase yang secara keseluruhan dimulai pukul 11.00 WITA. 

Pertunjukan musisi terbagi menjadi 4 panggung yang terdiri dari Center Stage, Wing Stage, Bastion Stage, dan Heritage Area. Panggung-panggung bergantian menampilkan musisi-musisi asal Makassar dan luar kota ini, termasuk 15 musisi, band, dan aktor yang mengisi album kompilasi sonic/panic Vol. 3 sesuai yang tertera dalam tajuk utama festival bekerja sama dengan IKLIM (Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab) dan Music Declares Emergency (MDE) Indonesia.

Sebagai informasi, IKLIM adalah kolektif yang menggerakkan kesadaran dan aksi menghadapi krisis iklim lewat seni, musik, dan komunikasi. Sementara Music Declares Emergency Indonesia merupakan cabang pertama gerakan global MDE di Asia.

Dua hari RIC panggung-panggung bukan sekadar ajang bagi para penampil untuk mempromosikan karya musik yang sudah tercatat, namun juga menjadi tempat bagi mereka menyuarakan keresahan tentang isu perubahan iklim.

Semua nama yang masuk daftar album kompilasi sonic/panic terbaru dengan lantang menyanyikan lagu “Goliath Falling” oleh Manja, “Sacred Soil” Scaller, “I Don’t Wanna Hate The World” Reality Club, “Titipan Ibu” Egi Virgiawan, “Kebangkitan” Sukatani, “Rain” Usman and The Blackstones, “Biru” Teddy Adhitya, “Grey” PEACH, “Saudara Purba” Bunyi Waktu Luang,  “Aku, Kopi, dan Bumi” Chicco Jerikho & Gede Robi Navicula, “Hukum Rimba” The Brandals, “BUMI” Ave, “Manusia Terakhir Di Bumi” Kunto Aji, “In A Land” The Melting Minds, dan “Mama-Mama Perlawanan” Majelis Lidah Berduri di set panggung masing-masing. 

Nyanyian yang diharapkan bisa menggerakkan siapa pun yang hadir juga didukung langsung dengan praktik di lapangan. Bentuk dukungan tercipta oleh tenant-tenant di area F&B RIC yang memedulikan tentang pencegahan sampah plastik. Seperti saat saya membeli kopi susu, penjual meminjamkan gelas kaca seharga 5 ribu, yang setelah selesai dipakai uang siap dikembalikan. 

Wujud kepedulian terhadap isu perubahan iklim di RIC 2025 / Dok. Pohan

Untuk mengetahui alasan RIC kolaborasi dengan IKLIM, saya langsung menemui Gede Robi Navicula selaku pendiri IKLIM dan MDE. Kami berbincang lebih dari 30 menit yang hasil lengkapnya saya akan buatkan artikel terpisah segera. Bagaimana keterlibatan IKLIM di usia RIC ke-16 tahun bukan tanpa latar belakang. Di mana Robi dan pendiri RIC, Ardy Siji memang sudah berteman baik lama sejak festival dicetuskan. 

“Network ini kami bikin. Dan seiring waktu ide untuk mengangkat value sustainability dalam lingkungan itu sebenarnya udah lama banget. Cuma mungkin pada waktu itu kami lihat, saya dengan Ardy juga waktu itu rasanya kayak kami sebagai dua sahabat yang bounce ideas gitu. Kayaknya belum punya resources, belum punya ini, belum punya kemampuan, timing-nya mungkin belum pas gitu. Tapi begitu kami rasa dari IKLIM tahun pertama itu kayaknya timing-nya pas deh sekarang. Karena kami juga lihat kejenuhan di festival kan. Kalau festivalnya cuma untuk hura-hura pulang, joget-joget abis itu gak ada apa, gak seru juga gitu loh, apa bedanya dengan festival lain. It’s just another festival kan,” kata Robi.

Saya juga sempat menemui Tuan Tigabelas, musisi yang masuk daftar album kompilasi sonic/panic edisi pertama (2023). Di hari kedua RIC, Upi panggilan akrabnya tampil bersemangat membawakan trek “Kenapa” dari album tersebut. Spesialnya, ia berkolaborasi dengan duo asal kota Tentena, Poso (Sulawesi Tengah), Guritan Kabudul.

Tuan Tigabelas di 16th Rock in Celebes IKLIM Fest / Dok. Pohan

“Mereka sering bawain lagu itu katanya, jadi enak. Tinggal cobain pas cek sound terus ngeng,” kata Tara, anggota R.E.P yang tak lain band Tuan Tigabelas. 

Upi juga mengatakan peran musisi sangat penting sebagai penyampai pesan karena isu perubahan iklim adalah isu yang berat, “Gue rasa kalo dikemas dengan art, dengan pop culture itu akan lebih mudah diterima sama orang. Itu sih, penting banget kalo buat gue.”

Sang musisi mengaku takjub dengan IKLIM karena bisa merealisasikan kampanye dalam bentuk kolaborasi yang spesial di penyelenggaraan RIC. Upi sempat berpikir rasanya unreal untuk dilakukan karena birokrasi

“Gue orangnya skeptis, tapi ketemu sama temen-temen IKLIM tuh kayak, segitu ngototnya mereka untuk fight buat isu ini. Sampai akhirnya keyakinannya menular ke gue. Jadi waktu tadi gue dateng, gue ketemu mereka, gue pelukin. Men, kejadian nih. Gokil. Ini gue ngomongin merinding. Ya gue masih gak percaya bahwa ini bisa kejadian. Karena ngumpulin temen-temen musisi di satu isu yang sama, itu susah banget. Kami berhasil ngelakuin itu 3 tahun, gue rasa itu pencapaian luar biasa. Dan ternyata temen-temen gak kenyang di situ. Temen-temen upgrade pergerakannya, dan tiba-tiba bekerja sama dengan Rock in Celebes. Jadi buat gue, gue kayak ngeliat harapan baik. Gue ngeliat bahwa isu ini bisa kami sampaikan bersama-sama dengan cara yang baik,” jelas Upi. 

Di hari terakhir, saya tak ingin melepaskan kesempatan, tentu untuk menemui Ardy. Melihat kembali catatan bagaimana awal festival ini dicetuskan hingga apa yang menjadi harapannya untuk industri musik Indonesia dalam menghadapi krisis iklim di masa depan. Simak langsung tanya jawab saya dan Ardy di bawah ini. 

Apa yang menjadi tujuan Rock in Celebes sejak tahun awal penyelenggaraan?

Sebelum Rock in Celebes, kami mendirikan clothing brand store, Chambers (2003). Aktif bikin gigs namanya Chambers Show sampai 2009. Kemudian kami merasa perlu scale up. Harus bikin satu festival yang dipromotorin oleh lokal, karena waktu itu memang boleh dibilang belum ada festival yang skalanya cukup besar dan dipromotori oleh lokal Makassar. Ada pun beberapa event atau festival biasanya datang dari Jakarta. Akhirnya coba inisiasi bikin festival dengan pengalaman kami udah bikin puluhan gigs, tercetuslah satu festival dengan nama Rock in Celebes dengan cakupan yang bisa lebih luas.

Ya, 16 tahun lalu mungkin nama-nama festival besar di luar sana selalu identik dengan hal-hal yang spiritnya rock. Sebenarnya bukan rock festival. Jadi orang-orang mungkin kalau mendengar nama Rock in Celebes dipikirnya festival rock. Rock itu adalah spirit, gerakannya sama dengan festival-festival di luar yang kita kenal, karena mungkin salah satu yang menginspirasi Rock in Celebes salah satu festival tua di Brazil namanya Rock in Rio. Waktu itu kami merasa spiritnya cocok nih, bikinlah Rock in Celebes. Apalagi kan ada nama Celebes yang cukup mewakili timur Indonesia.

Rock in Celebes dibikin memang muncul karena kami juga berkembang secara independen dan komunitas. Akhirnya bikin satu festival yang community based banget. Tujuan awalnya memang bagaimana kami coba merepresentasikan sebuah event yang memang datang dari Makassar, dari timur Indonesia yang pada saat itu 16 tahun lalu juga belum rame, bahkan dulu masih familiar istilah festival identik dengan perlombaan. Kami cukup beruntung karena festival ini digarap 16 tahun lalu, di saat mungkin akhir-akhir ini sudah sangat banyak festival baru.

Kami merasa Rock in Celebes sudah mulai terus bertransformasi. Format dan konsepnya macam-macam. Kami pernah bikin hampir di semua venue terbuka di Makassar dengan kapasitas puluhan ribu orang, belasan ribu orang, kemudian akhirnya berkembang menjadi merespons cagar budaya segala macam. Kemudian hadir di beberapa tempat di Makassar, tour beberapa kota di Sulawesi, bikin satelit di Jawa, Sumatera, Kalimantan. Udah seperti itu. 

Berbagai format diusahakan di berbagai wilayah di Makassar. Lebih jelas, apa transformasinya?

Kami merespons sesuatu yang kami suka karena ini berangkatnya dari independen. Kami juga bisa dengan mudah membuat festival ini lebih inklusif, lebih fleksibel. Kalau misalnya pengen nge-set cuman 10 ribu orang, 5 ribu orang, ya bisa seperti itu karena kami pengen menampilkan artis-artis yang kami suka dengan kapasitas, mungkin segitu. Festival ini juga merepresentasikan artis-artis yang kami kurasi karena memang menurut kami artis ini perlu kami highlight, bukan yang streaming gede. Kalau kami merasa mengapresiasi artis ini, ya kami mainin artis ini.

Makin ke sini orang juga punya trust terhadap Rock in Celebes. Apa pun yang dimainin Rock in Celebes berarti artis tersebut mungkin perlu ditonton. Toh kami juga makin ke sini, tidak lagi esensinya siapa yang bermain. Orang-orang di Makassar akhirnya bisa, khususnya di Makassar percaya bahwa Rock in Celebes itu adalah sebuah ruang festival yang orang bisa dateng nongkrong, main. Gak peduli siapa yang bermain. Harusnya seperti itu, dan itu makin ke sini makin jadi. Ya udah dengan kami mau bikin tahun depan, oh konsepnya gini, ada band-band seperti ini.

Toh kalau misalnya band-bandnya juga mungkin relatif baru atau mungkin tier 2, tier 3, ya kami juga bisa mengukur akan seperti apa karena memang festival ini juga gak lahir dari, kami mau bikin festival dengan bisnis festival atau bisnis event. Festival ini memang lahir dari spirit independen. Dan ya akhirnya bisa konsisten, dan mungkin itu salah satu kunci yang mungkin kami juga tidak pernah memikirkan sampai 16 tahun. Kalau kepikiran apakah festival ini 10 tahun karena waktu itu kami merasa beberapa tahun pertama, kedua, ketiga, oh ini bisa jadi annual gitu ternyata. 

Apakah tim kurator artis di Rock in Celebes masih sama sejak tahun pertama dan bagaimana proses kurasinya?  

Jangankan tim kurasi, tim yang ada di Rock in Celebes dari tahun pertama masih sama, bahkan nambah. Alhamdulillah kami beruntung karena timnya solid, tim kurasi juga begitu. Tim kurasi artis ada 5 orang sampai sekarang. Jadi 5 orang ini background-nya macam-macam. Selain saya, ada music director, designer, merchandiser, dan penulis musik. Dari 5 background ini dan tentunya karena suka musik, jadi secara objektivitas bisa mengumpulkan kurasi yang menurut kami bisa menjadi sesuatu yang orang akan penasaran, kenapa artis ini, gitu.

Kalau ngomongin artis gede seharusnya sesuai dengan box office, itu juga kami lakukan. Walaupun sebenarnya tidak ada yang selalu gede di Rock in Celebes, kalau diperhatikan sejak tahun pertama sampai sekarang. Tapi bukan berarti kami tidak pengen seperti itu, itu bisa terjadi. Tapi kami juga melihat apa yang terjadi di Makassar. Makassar event tuh hampir tiap minggu, festival bahkan tiap bulan. Tiap bulan itu pasti ada single show, artis-artis tier 1 mainstream Indonesia nasional itu pasti selalu datang ke Makassar dan bahkan berkali-kali.

Apakah Rock in Celebes mau memainkan artis yang sama, yang baru datang sebulan lalu, yang akan datang 2 bulan nanti. Menurut kami, masih banyak artis-artis yang lebih menarik dan kami juga selalu berpikir, ya memang kalau artis itu kan bakal rame dan menguntungkan, tapi kalau itu kami lakukan itu mungkin festival ini udah bubar dari dulu. Jadi kami punya keunikan dan secara kurasi mungkin 5 orang ini memang mengikuti band-band bukan hanya dari sisi materi, karena kalau berbicara materi per hari ini menurutku band-band yang ada di permukaan materinya udah bagus.

Produksinya juga sudah relatif bagus. Kenapa bagus karena memang ya secara teknologi, digital segala macem. Nah sekarang mungkin karena band-band mungkin lebih banyak apa ya, secara exposure-nya di konten apa segala macem. Justru kami tidak fokus soal konten, kami fokus dengan selain materi bagaimana band ini memainkan materinya. Jadi kami selalu memastikan ketika ada band masuk di radar kami, kami bisa memastikan panggung terbaiknya itu di mana, kami coba memastikan seberapa pertunjukannya, kalau bisa. Kalau engga juga kami akan coba lihat bagaimana highlights-nya.

Berapa persen porsi untuk artis Makassar dan luar kota ini?

Porsi lokal pasti masih jauh lebih banyak dibanding porsi band tamu. Kami mengatakan band tamu sama band tuan rumah gitu ya. Band tamu sama band lokal, porsinya masih selalu banyak band lokal. Performers lokal bahkan 70-30 atau 80-20, bahkan 90-10 persen. Selalu terjadi di atas 50 karena memang kalau kami berhitung. Apakah kami bisa memainkan, rata-rata di setiap tahun memainkan kurang lebih sekitar 60 performers. Bukan tidak mungkin ya kayaknya kalau mendatangkan 40 band tamu dengan hitungan ya, dengan cost gitu.

Bagaimana coba kami menjadikan, merepresentasikan band lokal kami, dan sedikit banyaknya band lokal di sini lahir dari festival ini atau diketahui dari festival ini. Bahkan ada beberapa band yang memang kami highlight untuk digedein dari sini. Tahun ini performers-nya itu kan gini, bukan hanya band yang kami highlight tapi ada sekarang ada kolektif DJ, selektor segala macem. Nah yang paling berbeda karena kami menambah porsi yang lebih banyak itu justru datang dari penampil-penampil dari warisan budaya. Menurut kami mungkin ini bisa menjadi sesuatu, otentitas kami.

Pertunjukan warisan budaya di RIC 2025 / Dok. Pohan

Rock in Celebes itu selalu berpikir kami gak akan mungkin sama dengan festival yang terjadi khususnya di Jakarta karena memang secara talenta di Jakarta band lokalnya band nasional atau mungkin di Jakarta dengan band sebanyak itu juga mungkin bisa siapa aja dimainin. Kami melihat talenta lokal macam-macam. Beberapa mungkin bukan band tapi solo. Ada elektronik, ada hip hop, ya ada hyper-local sekarang. Kemudian ada performers seni budaya yang menurut kami kayaknya belum ada festival yang mengeksplorasi ini. Akhirnya festival ini bertransformasi juga menghadirkan itu.

Apa yang diharapkan dengan adanya kolaborasi spesial bersama IKLIM yang berfokus kepada isu perubahan iklim?

Ada kesamaan prinsip. Kalau ngomongin prinsip versi iklim ramah lingkungan. Kalau ngomongin prinsip ada dua persamaan yang sudah kami jalani sebelumnya. Kami pengen ini berdampaknya ekonomi berkelanjutan, udah pasti seperti itu. Kami pikir ada juga memang spirit-spirit yang sama ketika kami melihat bahwa ketika festival ini mau makin panjang usianya kami harus bisa punya kontribusi sosial. Jadi tidak hanya berpikir dampak ekonominya, tapi juga dampak sosialnya. Salah satunya juga adalah bagaimana punya perhatian terhadap lingkungan.

Namun di luar itu, kami selalu berpikir bahwa Rock in Celebes ini adalah salah satu platform. Mungkin bahasanya, yang bisa memberikan kontribusi untuk memengaruhi orang-orang khususnya penikmat musik di Makassar untuk punya kesadaran atau berubah, ini memang harusnya dijalankan. Selain itu, kami memang teman-teman inti di Rock in Celebes pengen kesadaran dan menjalankan ini secara keseharian. Berangkat dari kami juga secara pribadi dengan keseharian kami terhadap apa yang kami secara kritis secara aktivisme kami.

Toh apa yang kami lakukan bisa kami lakukan di festival ini dan IKLIM adalah satu dari tidak banyak lembaga yang mungkin punya perhatian dan bisa berkolaborasi dengan mudah karena sebelumnya IKLIM juga sudah menggarap, ya maksudnya IKLIM juga sudah ada program yang memang mengajak musisi. Kemudian mereka juga bikin event, bikin campaign. Kami juga gak mungkin ayo tiba-tiba campaign ini. Kami mengajak ahlinya, yang berpengalaman paling tidak dan ternyata ya spiritnya sama udah dengan mudah kawin.

Dan memang kami sangat inklusif dan selalu ada kolaborasi dan ini ya kolaborator baru kami. Tahun depan pasti kolaborasi lagi. Formatnya belum tau, tapi keterlibatan IKLIM adalah sesuatu yang kami butuhkan. Bukan sekadar bekerja sama dan saling support, tapi kita merasa value ini harus digedein. Musik itu bukan hanya medianya adalah lagu. Musik salah satu media terbesarnya adalah panggungnya itu sendiri. Kami percaya karena kami ada di divisi panggung, divisi pertunjukan. Pertunjukan itu adalah medium yang paling mudah.

Sampai sekarang semua orang buat event. Mau lembaga, brand, corporate yang tidak ada hubungannya, akhirnya masuk event karena event medium yang paling besar untuk mengomunikasikan atau men-deliver apa pun, musik khususnya di pertunjukan. Kami percaya musik itu bukan sekadar materi publikasi, tapi justru panggung itu sendiri. Sangat berpengaruh karena kami melihat konkretnya orang bisa datang. Sesimpel kami kemarin sempat skeptis orang-orang penikmat musik di Makassar yang selama ini kami kenal kadang cuek, di luar ekspektasi kami ternyata mereka bisa.

Terakhir, apa harapan Rock in Celebes terhadap industri musik Indonesia dalam menghadapi isu perubahan iklim di masa sekarang dan masa depan?

Kalau ngomongin industri musik Indonesia mungkin terlalu besar. Kami percaya bahwa apa yang kami lakukan, paling tidak di lingkungan Rock in Celebes mungkin sedikit demi sedikit, terus-menerus, mudah-mudahan makin banyak bisa memberikan kontribusi dan bisa menginspirasi atau bisa memberikan dampak yang akhirnya kami juga melihat bahwa festival ini salah satu festival ketika mau panjang atau mau terus menerus dan makin panjang usianya harus melakukan ini. Bukan berbicara ini di tahun pertama, tahun kedua, tahun ketiga, kami percaya bahwa Rock in Celebes harusnya bisa menjadi satu festival yang terus berlangsung, berjalan, makin tua, tapi punya dampak dan mungkin dampak ini akhirnya bisa memberikan contoh atau bisa memberikan sesuatu yang lebih baik bukan hanya penikmat musik tapi mungkin pelaku industri. Cukup kompleks dan rumit, paling tidak ya kami bisa menjalankan ini. Mungkin akhirnya kami sesimpel bisa memengaruhi, stakeholder kota bisa kami sentuh. Semua event di Makassar harus begini standarnya, misalnya gitu. Kemudian misalnya pemerintah merespons di skala kota, provinsi. Ya mungkin kota-kota lain akhirnya bisa mengikuti.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
16 Tahun Rock in Celebes Gaungkan Isu Perubahan Iklim bersama IKLIM Fest
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us