1. News
  2. Berita
  3. Berpikir di Era “AI”

Berpikir di Era “AI”

berpikir-di-era-“ai”
Berpikir di Era “AI”

Saat ini, AI sudah menjadi rekan kita dalam bekerja. Pekerjaan-pekerjaan yang dahulu harus menghabiskan waktu cukup panjang dapat diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat oleh AI. Namun, apakah ini berarti kita bisa menyerahkan tugas kita sepenuhnya kepada AI?  

Beberapa waktu lalu, kita mendengar kabar ketika perusahaan konsultan raksasa dunia mendapat tuntutan hukum karena hasil pekerjaannya ternyata dikerjakan oleh AI tanpa proses pengolahan profesional lagi.

Bagi konsultan, akademisi, penulis, peneliti, analis, dan banyak lagi, AI memang memberi kenyamanan walaupun kita tetap harus berhati-hati dalam memanfaatkannya. Dengan cepat, kita bisa minta AI untuk mengolah data, tetapi sebagai konsultan, akademisi, dan para pekerja yang mengandalkan kemampuan analisisnya, bagian terpenting yang menunjukkan kredibilitas kita adalah kemampuan menggunakan informasi, menimbang nuansa, membaca konteks, dan berbicara dengan pikiran yang penuh. 

Mampukah kita menguasai hasil analisis itu untuk disampaikan dalam sesi tatap muka dengan para klien sesuai dengan fakta dan konteksnya? AI memang bisa membantu pekerjaan kita, tetapi tidak bisa menggantikan kedalaman pemikiran manusia. Kita memang dipermudah dalam menghasilkan output, tetapi tidak boleh lupa bahwa inti pekerjaan “knowledge worker” tidak hanya pada hasil, tetapi juga proses berpikir yang membuat output itu berarti.

Fran Lebowitz pernah berkata bahwa sebelum berbicara, seseorang perlu berpikir dan sebelum berpikir, ia perlu membaca. Kalimat yang terasa sederhana ini sangat penting pada masa sekarang. Kita hidup pada masa ketika membaca pelan-pelan digeser oleh “scrolling” yang cepat dan sering kali tidak pernah tuntas.

Akibatnya, opini datang lebih cepat daripada data dan data datang lebih cepat daripada proses belajar. Ancaman dari AI di sini bukanlah karena ia lebih pintar sehingga membuat manusia menjadi tak berarti, melainkan karena ia perlahan-lahan membuat manusia berhenti melatih otot berpikirnya.

Kecepatan membuat penilaian tanpa disadari “naik pangkat” menjadi “berpikir”, padahal ia hanya tepi paling tipis dari proses mental. Reaksi cepat dalam memberikan penilaian sebelum mempertimbangkan konteks, relevansi, hubungan, dan aspek-aspek berpikir lainnya menjadi proses menyederhanakan dunia yang rumit menjadi benar atau salah, setuju atau tidak, hitam atau putih, padahal kehidupan tidaklah sesederhana dua kubu.

Aneka bentuk berpikir

Banyak ahli menyatakan bahwa berpikir tidak hanya terdiri atas satu jenis. Ada yang mengelompokkan dalam strategic, reflective, hingga possibility thinking. Ada juga yang mengelompokkan menjadi analytical, abstract, concrete, convergent, divergent, critical, dan creative thinking.

Ketika terjadi keluhan dari para penyewa sebuah gedung bahwa lift yang ada terlalu lambat, solusi logis adalah memanggil teknisi untuk melakukan analisis apa yang dapat dilakukan untuk mempercepat pergerakan lift tersebut. Namun, kita juga dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis, seperti apa yang sebenarnya membuat lift itu terasa lama? Apakah karena jumlah pengguna yang terlalu banyak atau karena waktu menunggu memang membuat orang merasa tidak nyaman.

Dari situ, kita dapat memikirkan cara-cara kreatif untuk mengatur arus pengguna lift ataupun mencari cara yang dapat membuat waktu menunggu menjadi tidak terasa, misalnya dengan memasang TV atau cermin yang membuat orang jadi berfokus melihat dirinya. Di sini, kita melihat bahwa solusi dalam menyelesaikan sebuah permasalahan dapat dilakukan dengan model berpikir yang berbeda.

Mesin memang dapat mengambil alih pekerjaan yang sempit dan operasional: merangkum, mengurutkan, dan mengolah. Namun, mesin tidak mengenal ambiguitas, tidak memiliki rasa ingin tahu, tidak bertanya apakah ada alternatif lebih baik. Kemampuan-kemampuan inilah yang sebenarnya merupakan keunggulan manusiawi. Bila manusia menanggalkan kemampuan itu, otomatis ia masuk ke area kompetisi yang dimenangkan mesin.

Berani untuk ragu

Berpikir juga membutuhkan keberanian. Keberanian untuk berkata “saya belum tahu”. Keberanian untuk menunda jawaban. Keberanian untuk menimbang sebelum memutuskan. Di banyak ruang publik, ketidaktahuan dipandang sebagai kelemahan, padahal dalam proses berpikir, ketidaktahuan adalah pintu masuk.

Isaac Newton tidak menemukan gravitasi dari kepastian, tetapi dari keheranan. Marie Curie tidak menjadi pelopor fisika nuklir dengan jawaban yang siap, tetapi dengan pertanyaan yang menggelitik bertahun-tahun. Banyak kemajuan lahir dari mereka yang berani untuk tidak segera yakin.

Oleh karena itu, berpikir tidak hanya kemampuan intelektual, tetapi juga sikap mental. Ia membutuhkan toleransi terhadap ambiguitas, kesediaan menerima bahwa hidup tidak selalu selesai dalam satu paragraf, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa perspektif orang lain mungkin benar. Pendidikan di bangku sekolah seharusnya melatih agar siswa dapat mengembangkan sikap mental seperti ini sehingga mereka siap menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian.  

Bagi para pemimpin, tantangannya tidak hanya membuat organisasi bergerak cepat, tetapi bagaimana membuat organisasi berpikir lebih dalam. Inovasi tidak lahir dari kecepatan eksekusi, tetapi dari kualitas pertanyaan. Banyak organisasi merancang sistem kerja yang mendukung keputusan cepat, tetapi tidak mendukung refleksi. Pertemuan hanya mengumpulkan jawaban, bukan mengumpulkan keraguan yang sehat. Padahal, pemimpin yang baik tidak hanya mengarahkan, tetapi juga menciptakan ruang untuk berpikir.

Bagi individu yang ingin menjadi versi yang lebih baik dari dirinya, perlu berjalan lebih lamban meskipun dengan risiko tertinggal dari yang lain, agar pada akhirnya ia dapat memahami dengan lebih mendalam. Kita bisa mulai dengan membaca lebih banyak sebelum beropini, bertanya lebih dulu sebelum menyimpulkan, dan memberi ruang kepada diri sendiri untuk menimbang tanpa segera menghakimi. Tidak semua pengembangan membutuhkan pelatihan atau sertifikat. Kadang cukup dilakukan dengan kesediaan berhenti lima menit bersama pikiran sendiri.

Pada akhirnya, manusia tidak perlu menjadi lebih pintar daripada mesin. Manusia hanya perlu menjadi lebih manusia daripada mesin. Menjadi manusia berarti berani mempertahankan kemampuan yang membuat kita berbeda: merenung, meragukan, menghubungkan, mengkritik, mempertanyakan, dan memberi makna. Masa depan tampaknya tidak dimenangkan oleh mereka yang paling cepat merespons, tetapi oleh mereka yang paling jernih berpikir.

Baca juga: Generasi Cemas

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Berpikir di Era “AI”
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us