1. News
  2. Kombitainment
  3. Apa Kabar Jurnalisme Musik Indonesia?

Apa Kabar Jurnalisme Musik Indonesia?

apa-kabar-jurnalisme-musik-indonesia?
Apa Kabar Jurnalisme Musik Indonesia?

Tiga tahun yang lalu saya menghadiri LUC fest 2023 di Taiwan. Festival musik sekaligus konferensi musik berskala Asia dan Internasional. Satu hal yang paling membekas adalah reaksi para delegasi negara lain yang terkejut mengetahui masih ada media musik lokal di Indonesia yang melakukan praktik jurnalistik musik seperti esai, wawancara mendalam, hingga review album. “Kalian punya waktu untuk menulis semua itu?Memang tulisan esai dan review album ada yang baca?”

Saat itu saya menganggapnya pujian. Memang, kondisi industri musik kita belum bisa dibilang sempurna. Tapi yang tidak saya sadari adalah ekosistem musik kita punya semuanya dan terbilang lengkap – meski masih jauh dari tangan pemerintah. Dari musisi, komunitas, promotor, festival musik, kolektor, media, semuanya ada.

Lalu apa yang terjadi sekarang? Masihkah musik menghampiri kita melalui media musik, dan para jurnalisnya yang kita anggap kredibel itu untuk membiarkan hidup kita diubah total oleh rekomendasi mereka?

“Kalian punya waktu untuk menulis semua itu?Memang tulisan esai dan review album ada yang baca?”

Tengok kiri dan kanan, saat ini website musik lokal dengan jangkauan nasional tidak banyak. Pophariini masih termasuk salah satunya. Sebagai alumninya, harusnya saya bangga, tapi kok saya merasa sebaliknya. Entah mengapa terasa bagaikan alarm sunyi yang bergetar begitu bising. 

Di sisi lain, kita punya podcast dan para content creator musik. Juga media budaya pop dan gaya hidup yang menyediakan ruang untuk membahas musik seperti Whiteboardjournal dan Maple Media. Kesamaan mereka adalah adaptif terhadap kecepatan tren di era-era algoritma dan platform digital. Apakah ini berarti semua baik-baik saja? Tidak juga.

Karena internet dan seisinya adalah berkah sekaligus petaka. Ambil contoh podcast musik terpopuler saat ini, Vixtape. Digawangi Vincent Rompies, musisi sekaligus presenter; Soleh Solihun, mantan jurnalis musik/podcaster budaya pop, juga komika; Haris Franky, content creator muda yang sering membahas musik.

Yang tidak saya sadari adalah ekosistem musik kita punya semuanya dan terbilang lengkap. Dari musisi, komunitas, promotor, festival musik, kolektor, media, semuanya ada.

Berkahnya, Vixtape hadir seperti majalah musik versi podcast video. Dari wawancara, review, daftar album favorit atau terbaik, hingga rekomendasi semua hadir dalam bentuk ngobrol santai seolah lagi di tongkrongan. Ditonton khidmat bisa, didengarkan sambil beraktivitas pun aman. Asupan musik dijamin bergizi.

Petakanya, Vixtape mengubah cara orang mengakses, mendistribusi dan melegitimasi konten musik hari ini. Kebiasaan membaca tergeser oleh konten video ngobrol. Tentu konten video tidak otomatis membunuh kebiasaan membaca. Tapi kedalaman dan konteks utuhnya akan tersampingkan melalui video yang dicacah jadi format pendek, mudah di-share, lalu terlupakan oleh algoritma.

Apakah ini berarti jurnalisme musik konvensional sudah usang? Apakah sosok figur publik, reputasi daring dan jumlah pengikut kini lebih menentukan dibanding jejak rekam dan dedikasi belasan tahun?

Juga media budaya pop dan gaya hidup yang menyediakan ruang untuk membahas musik seperti Whiteboardjournal dan Maple Media.

Lagipula, siapa hari ini yang (masih) membaca esai panjang dan review album mendalam? Sudah ada para content creator lokal yang merangkum musik-musik bagus ke dalam video 30 detik. Tapi salah bila berpikir mereka adalah gatekeeper musik saat ini. Di era algoritma dan platform digital, “Tuhan” yang kita sembah 24/7 adalah algoritma.

Kombinasi algoritma dan figur publik juga terbukti ampuh menghidupkan kembali Indonesian Idol. Ketika Soleh yang kritis dan ceplas ceplos didapuk menjadi salah satu jurinya. Alih-alih mencari rekam jejak, warganet lebih sibuk berdebat di kolom komentar.

Ada dua hal yang menarik. Pertama, perdebatan kelayakan Soleh Solihun. Penulis Tom Nichols pernah menulis tentang ini di bukunya, The Death of Expertise (2017). Menurutnya, kemudahan akses internet melahirkan para pakar dadakan, dan kredibilitas ditentukan oleh platform via jumlah followers, daripada sosok profesional dengan jejak rekam dan dedikasi panjang. 

Karena internet dan seisinya adalah berkah sekaligus petaka. Ambil contoh podcast musik terpopuler saat ini, Vixtape

Yang kedua, tujuan utama mengundang Soleh. Kadar sisi hiburan dan viralitas tentu dominan ketimbang edukasi. Algoritma akan membanjiri kita dengan potongan video pendek tanpa konteks utuh. Lupakan perjuangan penyanyi untuk bisa sampai titik tersebut. Usaha keras dan impian digantikan jadi hiburan beberapa detik di layar gawai yang mudah terlupakan.

Di tengah situasi seperti itu, pertanyaan awal kembali relevan: Bagaimana jurnalisme musik Indonesia di era algoritma dan platform digital ini?

Apakah menulis musik masih menjadi syarat utama jurnalis musik, ataukah bentuk podcast video dan obrolan cukup? Ya dan tidak. Butuh diskusi panjang untuk bisa menjawab lebih lanjut. Yang jelas praktik jurnalisme musik Indonesia masih berjalan dan tengah dalam pencarian bentuknya yang optimal di era algoritma dan platform digital ini. 

Apakah menulis musik masih menjadi syarat utama jurnalis musik, ataukah bentuk podcast video dan obrolan cukup? Ya dan tidak

Buat saya, problem utama jurnalisme musik bukanlah kekurangan penulis, atau kehadiran podcast dan content creator, melainkan desain sistem semua platform yang menitikberatkan pada algoritma dan viralitas, sehingga kita mudah kehilangan fokus dan seolah kedalaman musik tidak dibutuhkan lagi.

Saya jadi berpikir ulang soal pertanyaan di LUC fest dan tersadar, jangan-jangan mereka sudah melalui hal ini. Mungkin di beberapa negara, apakah jurnalisme musik sudah punah lebih dulu? 

Sementara Indonesia, jurnalisme musik seperti dinosaurus di Jurassic Park. Makhluk langka yang seharusnya sudah punah, masih berkeliaran dengan naif. Saya sendiri jadi merasa seperti dinosaurus yang masih berpikir tulisan panjang tentang musik itu penting.

Buat saya, problem utama jurnalisme musik bukanlah kekurangan penulis, atau kehadiran podcast dan content creator, melainkan desain sistem semua platform yang menitikberatkan pada algoritma dan viralitas

Mungkin, keheranan para delegasi musik di Asia Tenggara itu bukanlah pujian. Bisa jadi mereka takjub melihat kita masih sibuk membangun belantara hutan literasi musik, sementara di negara mereka, jurnalisme musik tidak seberuntung di sini.

Kita mungkin naif karena masih berpikir bahwa menulis itu penting. Tapi di Hari Musik Nasional ini, saya memilih untuk tetap membaca dan menulis musik. 

Karena jurnalisme musik bukan semata tanggung jawab penulis, tapi juga pembacanya. Jika tidak ada tulisan tentang musik yang mendalam, maka musik hanya akan menjadi ‘bunyi semu’ di layar gawai kita, viral sekejap lalu hilang tanpa ada konteks dan sejarahnya sama sekali.

Selamat Hari Musik Nasional!

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Apa Kabar Jurnalisme Musik Indonesia?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us