Sekitar dua ribu tahun lalu, saat dunia belum mengenal buku seperti hari ini, masyarakat kala itu mencatat di bilah bambu, kulit binatang, batu, atau kain sutra. Namun, pada 1957, para arkeolog menemukan fragmen kertas kuno di dekat kota Xi’an, China, wilayah yang kala itu menjadi pusat pemerintahan Dinasti Han Barat.

Fragmen kertas itu ditemukan di daerah Baqiao, kemudian dikenal sebagai Baqiao Paper. Analisis arkeolog menunjukkan kertas ini berasa dari sekitar abad ke-2 sebelum masehi. Artinya, teknologi dasar pembuatan kertas sudah ada sekitar dua ratus tahun sebelum tokoh yang selama ini dikenal sebagai penemu kertas muncul dalam catatan sejarah.
Kertas awal ini kemungkinan dibuat dari serat tanaman seperti rami yang dihancurkan kemudian bentuk menjadi lembaran tipis.. Strukturnya sangat kasar, tetapi temuan ini menunjukkan bahwa teknologi pembuatan kertas berkembang secara bertahap.
Walaupun penemu pertamanya tidak ditemukan, tetapi arkeolog berkesimpulan para pengrajin anonim ini mencoba mengolah serat tanaman menjadi media tulis yang lebih ringan dari bambu.
Baca juga: Mengapa Ukuran Kertas Berbeda-beda? Ini Sejarah Panjang Kertas Dunia
Metode baru yang mengubah dunia
Teknologi pembuatan kertas berkembang pada awal abad kedua masehi. Sejarah mencatat seorang pejabat istana Dinasti Han Timur bernama Cai Lun memperkenalkan metode baru pembuatan kertas kepada kaisar pada 105 masehi.. Cai Lun sehari-hari bekerja di lingkungan istana dan mengawasi berbagai produksi kerajinan kerajaan.

Ia menyempurnakan teknik yang sudah ada dengan menggunakan bahan-bahan seperti kulit pohon murbei, rami, kain bekas, dan jaring ikan tua. Bahan-bahan ini direbus hingga menjadi bubur serat, lalu dicampur dengan air. Cai Lun kemudian menyaring campuran itu menggunakan bingkai bambu atau kayu sehingga serat-seratnya membentuk lapisan tipis. Lapisan inilah menjadi kertas.
Metode dari Cai Lun ini menghasilkan kertas yang jauh lebih halus dan kuat dibandingkan versi sebelumnya. Selain itu, bahan bakunya murah dan mudah didapat. Inovasi ini membuat produksi kertas menjadi lebih efisien dan dapat digunakan secara luas.

Setelah dilaporkan kepada Kaisar Han He, teknik pembuatan kertas ini segera diadopsi oleh administrasi kerajaan. Dari lingkungan istana, teknologi tersebut kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Tiongkok.
Dalam beberapa abad berikutnya, kertas menjadi medium utama untuk dokumen pemerintahan, karya sastra, hingga kaligrafi. Para sarjana dan seniman mulai mengembangkan berbagai tradisi budaya berbasis kertas.
Seiring waktu, teknologi pembuatan kertas dari Tiongkok menyebar ke Asia Tengah, dunia Islam, dan akhirnya ke Eropa. Proses ini berlangsung selama lebih dari seribu tahun sebelum kertas menjadi bahan tulis utama di seluruh dunia.