
HARI Raya Idulfitri, atau yang kerap disebut Lebaran, identik dengan belah ketupat. Ketupat menjadi simbol Lebaran sekaligus salah satu makanan khas yang selalu disiapkan saat hari raya. Lebaran Ketupat dirayakan oleh masyarakat Jawa dengan berkumpul bersama keluarga setelah Salat Id di masjid.
Tradisi makan ketupat Lebaran ini juga dilakukan oleh sanak keluarga Bani Carmid bin Carya, warga Desa Banjarharjo, Kecamatan Banjarharjo, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Sabtu (21/3/2026).
Terdiri dari ibu, anak-anak, menantu, serta cucu-cucu, mereka langsung menyantap ketupat yang telah dipersiapkan sehari sebelumnya. Mereka nampak sangat asyik menikmati sedapnya ketupat bersama keluarga, termasuk sebagian anggota keluarga yang datang dari perantauan.
Budayawan PanturaAtmo Tan Sidik, menyampaikan bahwa masyarakat Jawa selalu merayakan Lebaran Ketupat setiap tahun. Tradisi ini memiliki sejarah panjang dan makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Jawa.
“Makan ketupat juga mempunyai makna simbolis. Ketupat dalam bahasa Jawa disebut Lepet yang dalam bahasa Indonesia artinya kesalahan atau kesalahan. Bagi setiap individu yang melakukan kesalahan atau kesalahan selama setahun, tradisi ini menjadi momen saling memaafkan,” kata Atmo.
Sejak Zaman Sunan Kalijaga
Menurut Atmo, yang pernah dinobatkan sebagai Maestro Pelestari Warisan Budaya atau Maestro Seni Tradisi oleh Kemendikbud pada 2014, tradisi menyantap ketupat pada Lebaran sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga pada abad ke-15.
“Saat ini, tradisi serupa juga dijumpai di negara lain, seperti Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Thailand Selatan,” tutur mantan Kepala Humas Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Brebes tersebut.
Diketahui, makan ketupat Lebaran telah menjadi tradisi penting masyarakat Jawa, khususnya di Pantura. (JI/I-1)