Semarang (ANTARA) – Sebanyak 147 kuda dari 12 daerah di Indonesia berlaga pada Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026 di Gelanggang Pacuan Kuda Tegalwaton, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Minggu.
Ajang edisi tahun ini mengambil tajuk “IHR Piala Raja Mangkunegaran & Triple Crown Serie 2” dan memperebutkan Piala Raja Mangkunegaran dan laga krusial dalam perburuan gelar Triple Crown Indonesia.
Piala Raja Mangkunegaran merupakan kolaborasi antara Sarga.Co, PP Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) dan Mangkunegaran yang memiliki tradisi kuat dalam budaya berkuda.
“Sebagai promotor olahraga pacuan kuda pertama dan satu-satunya di Indonesia, dengan bangga kami mempersembahkan perebutan perdana Piala Raja Mangkunegaran,” kata Managing Director Sarga Group Nugdha Achadie.
Piala Mangkunegaran merupakan seri pertama King’s Cup Series dalam rangkaian IHR 2026, yang bertujuan meningkatkan pamor pacuan kuda di Indonesia sebagai warisan tradisi dan budaya.
Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenagoro X menjelaskan bahwa tradisi berkuda dan pacuan kuda di Mangkunegaran berakar sejak awal abad ke-19.
“(Daerah) Solo Balapan dulu pacuan kuda. Karena itu, sejarah berkuda di Mangkunegaran sangat panjang, di dalam istana ada arena berkuda untuk keprajuritan. Melalui ini, kami coba hidupkan kembali,” katanya.
Pria yang akrab disapa Gusti Bhre itu menjelaskan kuda menyimbolkan keberanian, ketangkasan, disiplin, dan motivasi kuat yang diharapkan menjadi awal yang baik untuk menghidupkan ekosistem olahraga berkuda di Indonesia.
Baca juga: Stable baru bermunculan, persaingan pacuan kuda nasional makin sengit
“Melalui Piala Raja Mangkunegaran, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pacuan kuda di Indonesia sebagai salah satu kekayaan tradisi dan budaya bangsa yang istimewa yang patut dilestarikan,” kata Gusti Bhre.
Ketua Umum PP Pordasi Aryo PS Djojohadikusumo mengatakan ajang ini merupakan program pengurus Pordasi dalam memadukan olahraga, budaya, dan modernitas atau hiburan.
“Sesuai program sebagai ketua umum, kami akan memperbanyak Piala Raja. Ada Piala Raja Paku Alam, Piala Raja Hamengku Buwono. Bukan hanya di DIY Yogyakarta, Insya Allah juga di Kalimantan, Sumatra, dan berbagai daerah di nusantara,” katanya.
Penyelenggaraan di Tegalwaton yang berbatasan dengan Kota Salatiga itu juga menjadi momentum berharga sebagai catatan sejarah asal muasal trah Mangkunegaran yang didirikan pada 1757 di Salatiga.
Komisi Pacu PP Pordasi pertama kali pula memperkenalkan sistem handicap dalam Kelas Terbuka 2.000M dan Kelas Terbuka Sprint 1.300M pada balapan tersebut.
IHR 2026 melombakan 28 kelas, antara lain Kelas 3 Tahun Derby 1.600 meter, Kelas Terbuka Handicap 2.000 M, Kelas 3 Tahun Derby Divisi II 1.600 M, Kelas 3 Tahun Divisi I 1.400 M, dan Kelas 2 Tahun Pemula A/B 1.200 M.
Kuda-kuda yang tampil merupakan kuda terbaik dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, DIY, Jawa Barat, Jawa Timur, Jateng, Jakarta, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Antusiasme masyarakat cukup tinggi, terbukti dari jumlah penonton di Tegalwaton yang mencapai 30 ribu orang.
Baca juga: Dinov kibarkan Merah Putih di Tashkent setelah tempati posisiketiga
Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Jafar M Sidik
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.