1. News
  2. Mojok
  3. Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

hunian-di-gresik-dan-sidoarjo-memang-murah,-tapi-sulit-wira-wiri:-jauh-ke-mana-mana,-bikin-bosan-dan-stres
Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres

Awalnya saya termasuk orang yang sangat optimis ketika memutuskan tinggal di Gresik dan Sidoarjo. Alasannya sederhana: harga rumahnya masih masuk akal. Dibandingkan Surabaya yang harganya sudah terasa seperti mimpi yang sulit diraih, kawasan pinggiran ini terlihat seperti solusi realistis bagi generasi muda yang ingin punya rumah sendiri.

Coba, lihat iklan perumahan, terdengar sangat meyakinkan. Lingkungan tenang, udara lebih bersih, jauh dari kebisingan kota, dan tentu saja cicilan yang tidak membuat jantung berdebar setiap tanggal tua. Begitu menarik, begitu indah. Saat itu saya berpikir, “Yang penting punya rumah dulu. Soal jarak, nanti juga biasa.”

Ternyata, realitasnya tidak (pernah) sesederhana itu.

Hari-hari pertama tinggal di Gresik dan Sidoarjo terasa menyenangkan. Lingkungan masih baru, rumah rapi, tetangga ramah. Yah, malam memang terasa lebih sunyi dibandingkan kota. Tetapi setelah rutinitas berjalan, perlahan saya mulai merasakan sisi lain yang sebelumnya tidak pernah benar-benar dipikirkan.

Akses yang ternyata penting

Hidup di Gresik dan Sidoarjo itu enak, tapi perkara akses, nanti dulu. Di sini, setiap aktivitas hampir selalu membutuhkan perjalanan jauh. Mau kerja, harus berangkat lebih pagi. Mau beli kebutuhan tertentu, harus keluar kawasan. Nongkrong atau sekadar mencari suasana berbeda, lagi-lagi harus ke Surabaya.

Tiba-tiba, melawan kemacetan di pagi hari menjadi rutinitas baru. Jalan utama dipenuhi kendaraan pekerja yang punya tujuan sama: menuju kota. Waktu yang awalnya saya kira hanya perjalanan biasa berubah menjadi perjalanan yang menguras energi bahkan sebelum hari kerja dimulai.

Pulangnya pun sama. Tubuh sudah lelah bekerja, tetapi masih harus menghadapi perjalanan panjang lagi. Sampai rumah, rasanya bukan ingin menikmati rumah baru, melainkan hanya ingin langsung tidur. Di titik itu akhirnya saya sadar atas apa yang selama ini orang luput: bisa jadi rumah itu murah, tapi mahal di ongkos perjalanan.

Nongkrong jauh, beli sayur bisa jadi lebih jauh, mau kerja, jelas jadi lebih jauh. Kalau sudah kayak gini, apa ya harga murah jadi pilihan?

BACA JUGA: Sidoarjo Cocok untuk Perintis, Tak Harus Kerja Keras di Jakarta Sampai Mental Rusak

Ketenangan akhir pekan yang fana

Awalnya saat memilih untuk tinggal di Gresik dan Sidoarjo, di bayangan saya adalah ketenangan. Dan memang, ketenangan itu saya dapat. Tapi, ketenangan yang muncul dibarengi rasa bosan. Kawasan perumahan cenderung sepi karena banyak penghuni juga bekerja di luar kota. Fasilitas hiburan terbatas. Tidak banyak ruang publik untuk sekadar jalan santai atau menikmati suasana.

Terakhir ya lagi, pilihan hiburannya tetap sama: ke Surabaya. Lagi.

Ironisnya, hampir semua aktivitas hidup tetap berpusat di kota. Kerja di kota, nongkrong di kota, hiburan di kota. Rumah di Gresik atau Sidoarjo perlahan terasa hanya menjadi tempat pulang dan tidur.

Ada momen ketika saya mulai merasa stres tanpa alasan jelas. Bukan karena rumahnya buruk, bukan karena lingkungannya jelek, tetapi karena rutinitas terasa monoton. Rumah–jalan–kerja–jalan–rumah. Begitu terus setiap hari.

Gresik dan Sidoharjo menarik, tapi…

Saya mulai memahami satu hal yang dulu tidak pernah saya pikirkan: lokasi tempat tinggal sangat memengaruhi kesehatan mental. Tinggal jauh dari pusat aktivitas membuat hidup terasa lebih lambat, tetapi bukan selalu dalam arti positif. Ketika mobilitas sulit, interaksi sosial berkurang, dan akses hiburan terbatas, rasa jenuh datang tanpa disadari.

Banyak orang membeli rumah di kawasan pinggiran seperti Gresik dan Sidoarjo karena pertimbangan logis—dan memang itu keputusan yang masuk akal. Saya pun tidak menyesal memiliki rumah sendiri. Tetapi sekarang saya lebih memahami bahwa harga murah bukan satu-satunya faktor yang perlu dipikirkan. Nyatanya, rumah bukan hanya soal bangunan, melainkan tentang bagaimana kita menjalani hidup setiap hari di dalamnya.

Gresik dan Sidoarjo sebenarnya terus berkembang. Infrastruktur perlahan membaik, fasilitas mulai bertambah, dan kawasan industri membuka peluang ekonomi baru. Mungkin beberapa tahun ke depan situasinya akan jauh lebih nyaman.

Namun bagi siapa pun yang sedang mempertimbangkan membeli rumah di sini, ada satu saran dari pengalaman pribadi: jangan hanya melihat harga rumahnya.

Coba bayangkan rutinitas harianmu. Berapa lama perjalanan kerja? Seberapa sering harus keluar kota? Apakah kamu siap menghabiskan banyak waktu di jalan? Apakah kamu tipe orang yang butuh keramaian dan aktivitas?

Kalau jawabannya sering, tidak, dan iya, maka, rumah di pinggiran justru bikin kalian stres. Gresik dan Sidoarjo, jelas bukan untuk kalian.

Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Hal Tentang Gresik yang Sering Disalahpahami Orang Awam

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 12 Mei 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Hunian di Gresik dan Sidoarjo Memang Murah, Tapi Sulit Wira-wiri: Jauh ke Mana-Mana, Bikin Bosan dan Stres
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us