Sebagai orang tua yang punya anak yang masih berada di usia sekolah dasar, tentu saya tidak asing dengan dunia pendidikan. Anak saya bercerita kalau temannya ada yang ikut bimbel di luar jam sekolah. Hasilnya, nilai akademiknya pun bagus.
Istri saya pun tertarik untuk memasukkan anak saya ikut les atau bimbel. Tujuannya? Jelas, agar nilai anak saya tinggi.
Saya jadi berpikir, lantas selama ini sekolah buat apa kalau yang membuat anak itu pintar dan cerdas adalah les-lesan atau bimbel? Kadang saya justru merasa kalau sekolah itu seperti pelengkap dari bimbel saja.
Dan semakin dipikir, semakin muncul pertanyaan yang agak mengganggu, “Kalau les atau bimbel memang lebih efektif mencerdaskan siswa, lalu sebenarnya sekolah itu fungsinya apa?”
Kalau bimbel lebih efektif, sekalian saja jangan sekolah
Ini memang terdengar satire, tapi coba dipikir pelan-pelan. Banyak siswa sekarang kalau pagi sekolah, sore les, dan malam masih belajar lagi mengerjakan PR.
Dan lucunya, tidak sedikit yang justru lebih paham materi setelah ikut les atau bimbel dibanding saat di kelas sekolah. Di sekolah, kadang murid dirasa terlalu banyak, waktu terbatas, dan guru diburu administrasi sehingga suasana kelas tidak kondusif
Sementara di bimbel, penjelasan justru lebih fokus, trik cepat lebih banyak diajarkan sehingga anak bisa belajar lebih efektif, dan suasana lebih santai. Bahkan, les atau bimbel itu kadang lebih menghibur ketimbang di sekolah.
Akhirnya muncul kesan aneh: sekolah untuk absen dan ijazah, belajar seriusnya di bimbel.
Kalau sudah begini, kadang saya berpikir nakal, sekalian saja tidak usah sekolah terlalu lama. Belajarnya di bimbel saja. Kalau cuma mau mencari ijazah, tinggal kejar paket. Pintar dapat, ijazah juga dapat. Toh yang dikejar sekarang sering kali bukan proses pendidikan, tapi hasil akhirnya.
Sekolah? Suasana membosankan. Tidak ada jaminan pintar atau cerdas. Guru sudah lelah dengan administrasi. Apalagi honorer, gajinya mengenaskan. Suasana belajar semacam ini sangat tidak efektif.
Guru terkadang lebih bersinar di kelas
Hal yang lebih menarik lagi adalah kenyataan bahwa banyak guru di sekolah ternyata bisa mengajar jauh lebih hidup ketika berada di tempat les dibanding di sekolah. Sebab, tidak jarang juga guru di sekolah itu membuka les-lesan atau mengajar di tempat bimbel.
Di sekolah, guru mengajar dengan penjelasan singkat, suasana datar, dan kadang terlihat lelah karena harus mengurus RPP, LKPD, input data di Dapodik atau Simpatika, juga Emis.
Tapi, begitu mengajar di bimbel atau les, guru mendadak energik, penuh trik cepat, murid tertarik, dan materi terasa mudah dicerna oleh peserta didik.
Kreativitas guru di tengah gaji yang tidak kreatif
Di titik ini, saya justru tidak bisa sepenuhnya menyalahkan guru. Dapur di rumahnya harus mengepul. Perutnya juga harus diisi. Paket data juga harus selalu di-topup. Token listrik pun bikin risih kalau bunyi terus.
Kenyataannya, banyak guru honorer hidup dengan gaji yang bahkan kadang kalah dari uang jajan siswa yang diajar. Kadang, guru hanya menelan ludah ketika melihat siswanya jajan macam-macam sementara dirinya harus menerapkan gaya hidup frugal living.
Maka ketika ada guru membuka les-lesan atau mengajar di bimbel lalu penghasilannya jauh lebih baik, itu sebenarnya bukan sekadar mencari tambahan uang. Itu bentuk kreativitas bertahan hidup. Dan ironisnya, kreativitas mengajar mereka justru lebih keluar di sana. Mungkin karena di sana guru lebih dihargai, lebih fokus, atau memang ada insentif nyata ketika mengajar dengan baik.
Sementara di sekolah, energi guru sering habis bukan untuk mengajar, tapi untuk bertahan dengan sistem yang terlalu sibuk mengurus administrasi.
**
Saya tidak sedang bilang sekolah tidak penting. Sekolah tetap punya fungsi sosial, pendidikan karakter, pertemanan, dan banyak hal lain yang tidak bisa digantikan bimbel. Tapi tetap saja, ada sesuatu yang terasa janggal ketika tempat “tambahan” justru terasa lebih efektif dibanding tempat utama.
Dan mungkin keresahan terbesar sebenarnya bukan soal les atau bimbelnya. Tapi, soal sistem pendidikan yang membuat terlalu banyak orang merasa bahwa belajar yang sesungguhnya justru terjadi setelah jam sekolah selesai.
Penulis: Supriyadi
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2026 oleh