Kejadian kemarin malam membuktikan bahwa dalam rantai kehidupan di Sumatera, Kabupaten Bungo perannya begitu vital
Kemarin malam, tiba-tiba listrik di Pulau Sumatera mendadak padam. Banyak masyarakat yang heran dan bertanya-tanya. Dari ujung Lampung sampai Aceh, semua gelap gulita. Grup WhatsApp keluarga yang biasanya sepi langsung ramai dengan info forward-an penyebab mati lampu, sementara lini masa medsos penuh dengan sumpah serapah kepada PLN.
Di tengah kepanikan massal itu, sebuah nama daerah mendadak mencuat ke permukaan dan menjadi kambing hitam, yakni Kabupaten Bungo.
Konon, menurut rilis resmi yang beredar, biang kerok dari drama “Sumatera Blackout” ini bermula dari gangguan pada sistem transmisi atau gardu induk 275 kV Muara Bungo-Sungai Rumbai yang berlokasi di Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi Provinsi, yang disebabkan oleh cuaca buruk,” ungkap Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Sumatera Utara Darma Saputra, dilansir dari Detiknews.
Seketika, daerah yang mungkin jarang dilirik dalam peta konstelasi politik nasional ini sukses bikin satu pulau gelap gulita dan megap-megap kehabisan daya HP.
Sebagai penulis yang menghormati asas keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang kegelapan, saya merasa ini saat yang tepat untuk mengajak Anda sekalian kenalan dengan Bungo.
Bungo itu di mana, sih?
Saya bisa membayangkan, bagi orang-orang di luar Pulau Sumatera atau bahkan warga Sumatera sendiri pasti langsung membuka Google Maps begitu membaca berita semalam. Sambil bertanya “Bungo itu sebelah mananya, ya?”
Mari saya perjelas lagi biar tidak ada miskonsepsi yang mendarat di kepala kalian. Kabupaten Bungo, atau yang sering disebut Muara Bungo, adalah sebuah kabupaten yang ada di Provinsi Jambi dengan ibu kota bernama Muara Bungo. Letaknya pun terbilang cukup strategis karena berada tepat di jalur perlintasan Jalan Lintas Sumatera.
Daerah ini memiliki motto “Bumi Langkah Serentak Limbai Seayun”. Sebuah filosofi adat yang mendalam tentang kebersamaan. Langkah Serentak berarti masyarakat dan pemerintah selalu kompak sejalan dalam bertindak. Sementara Limbai Seayun (mengayunkan tangan seirama) bermakna segala masalah selalu diselesaikan lewat musyawarah mufakat demi semangat gotong royong.
Intinya, semboyan ini menggambarkan persatuan yang kuat untuk membangun daerah. Meskipun kemarin malam, kekompakan itu agak kebablasan sampai bikin warga se-Sumatera ikutan “kompak” gelap gulita secara serentak.
Kalau Anda naik bus AKAP dari Jakarta menuju Padang atau Medan dan sebaliknya, kemungkinan besar Anda akan terbangun di Bungo karena busnya berhenti untuk masuk ke terminal atau saat melihat kiri-kanan anda disuguhi pemandangan kelapa sawit dan pohon karet.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Bungo lumayan seksi berkat adanya kelapa sawit, karet, dan batu bara. Bahkan, di Kabupaten Bungo punya bandara sendiri, yakni bernama Bandara Muara Bungo. Jadi, bayangan bahwa Bungo adalah daerah terpencil yang minim peradaban itu jelas keliru. Bungo punya peradaban, salah satunya punya alfamart dan indomaret yang banyak.
Solidaritas di balik listrik padam
Ada satu hukum tidak tertulis di negeri ini, daerah yang menjadi simpul energi atau jalur transmisi utama justru sering kali menjadi yang paling dramatis saat ada gangguan. Kabupaten Bungo adalah buktinya. Sebagai bagian penting dalam sistem interkoneksi kelistrikan Sumatera, Bungo ibarat jantungnya. Begitu jalur transmisi di sana “batuk” sedikit saja, efek dominonya langsung bikin listrik se-Sumatera ikutan “masuk angin”.
Kemarin malam, warga Bungo mungkin menjadi orang-orang pertama yang meraba-raba mencari lilin, tanpa menyadari bahwa beberapa menit kemudian, saudara-saudara mereka di Padang, Palembang, Pekanbaru, bahkan Medan juga sedang melakukan ritual yang sama. Bungo sukses mempraktikkan konsep “sharing is caring” secara ekstrem sebuah keadilan sosial dalam bentuk kegelapan yang merata.
Tadi pagi saja listrik di Kabupaten Bungo mendadak mati lagi, mulai habis subuh sampai jam 10-an siang. Sungguh sebuah loyalitas tanpa batas sebagai tuan rumah pemadaman.
Pesan cinta untuk PLN dari warga Bungo
Sebagai penutup esai ini, saya cuma mau bilang: We love you, Bungo. Kita jelas tidak benci dengan daerahnya, kita cuma agak gemas saja dengan sistem interkoneksinya. Kejadian kemarin malam membuktikan bahwa dalam rantai kehidupan di Sumatera, Bungo adalah mata rantai yang sangat vital. Begitu vitalnya, sampai-sampai kalau gardu bermasalah sedikit saja, semua Sumatera langsung gelap.
Jadi, buat warga Sumatera sekalian, saya sebagai warga Bungo meminta maaf. Anggap saja insiden ini adalah alarm lingkungan dari alam (lewat perantara PLN) agar kita rehat sejenak dari layar gawai dan merenungi arti kehidupan dalam kesunyian. Lagi pula, tanpa adanya gangguan di Bungo, tulisan ini tidak akan pernah ada di Terminal Mojok. Anda tidak akan pernah tahu kalau ada sebuah daerah di Jambi yang sanggup membuat satu pulau kompak menyalakan lilin dan lampu senter HP secara bersamaan.
Kepada pihak PLN, tolong itu gardu di Bungo di berikan kasih sayang lagi. Kalau perlu, kasih sesajen berupa kopi hitam dan pisang goreng tiap malam Jumat biar dia tidak ngambek lagi. Pasalnya, efek domino dari drama ini ternyata belum sepenuhnya kelar.
Menurut info dari kawan saya yang bekerja di PLN, hari ini bakal ada pemadaman bergilir selama 3 jam khusus untuk daerah Bungo dan sekitar demi pemulihan sistem. Sementara itu, kawan saya yang tinggal di Kota Padang malah melaporkan kalau listrik di sana sudah padam sejak jam 11 siang tadi.
Akhir kata, mari cas semua HP dan powerbank Anda sekarang juga. Tetap tenang, tetap waspada, dan jangan lupa cabut colokan rice cooker sebelum ditinggal misuh-misuh.
Penulis: Pratma Yandrefo
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Hal tentang Provinsi Jambi yang Nggak Bikin Kalian Terkejut
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2026 oleh