Bandungan Semarang tengah naik daun. Bagaimana tidak, pengembangan wisata di sana sedang digencarkan. Lebih dari itu, kecamatan yang terletak 16 km dari ibukota Kabupaten Semarang, Ungaranini memang indah.
Bagi kalian yang belum pernah ke Bandungan sini saya beri sedikit gambaran. Bandungan terletak di lereng Gunung Ungaran. Sejak zaman kolonial kawasan ini memang sudah terkenal sebagai objek wisata pegunungan bagi warga dari kota-kota sekitarnya. Tidak heran kalau di Bandungan terdapat banyak losmen, hotel, hongga villa.
Sayangnya, stigma yang melekat pada daerah ini begitu kuat. Jadi, mau Bandungan berkembang bagaimana pun, citra yang melekat pada kawasan ini masih saja negatif. Sejak dahulu hingga detik ini masih banyak yang menganggap Bandungan Semarang sekadar “tempat begituan”.
Sulit dimungkiri, prostitusi memang sudah jadi bagian atau sejarah Bandungan. Homestay atau hotel-hotel kecil di pinggir jalan adalah saksinya. Akan tetapi, Bandungan sebenarnya lebih dari itu.
Sayangnya justru “tempat begituan” yang lebih melekat di benak pendatang dan wisatawan. Ujung-ujungnya, bercandaan yang menyerempet tempat ini bermunculan. Misal, pertanyaan bercanda “tempat yang paling rame di mana ya?”
Sekilas kalimat itu terdengar biasa saja. Namun, pertanyaan itu bisa diterima berbeda oleh warlok Bandungan. Bagaimana tidak, mereka sudah terlalu sering mendengarnya. Sekali atau dua kali sih nggak apa-apa ya, tapi kalau mendengarnya berulang kali, warlok muak juga.
Situasinya mirip dengan orang mampir Jogja, pertama kali menginjakan kaki di Tugu lalu berkelakar soal tempat prostitusi Pasar Kembang atau Sarkem. Sekali dua kali mendengarnya mungkin masih lucu. Namun, kalau sudah berkali-kali ya kesal juga. Seolah-olah daerah tempat tinggal mereka cuma tempat esek-esek.
Baca juga Nasib Peterongan Semarang: Dulu Pusat Cuan, Sekarang Terancam Jadi Kawasan Kumuh.
Wisatawan Bandungan Semarang yang nggak peka itu bikin kesal
Ada hal lain yang bikin warlok emosi yakni wisatawan atau pendatang yang nggak peka. Asal tahu saja, pemandangan berupa perkebunan sayur dan bunga menghiasi jalanan-jalan di Bandungan. Wisatawan yang peka pasti akan menikmati pemandangan itu dengan penuh etika.
Sayangnya, tidak semua wisatawan ternyata bisa mikir dan peka. Tidak sedikit dari mereka kemudian foto-foto di tengah kebun hingga merusak sayur maupun bunga. Padahal, sayur dan bunga tersebut adalah sumber penghasilan bagi petani yang menanam.
Hal lain yang bikin kesal adalah pendatang atau wisatawan yang suka pegang-pegang barang dagangan di pasar bunga.
Jadi, Bandungan Semarang itu terkenal akan pasar bunganya. Setiap pagi selalu ada bunga fresh yang dijual di sana. Ada banyak sekali jenis bunganya dan cantik-cantik. Saking senangnya, kadang wisatawan terlalu lama memilihnya bahkan sampai dipegang-pegang dan bikin layu. Ini adalah hal yang bikin penjualnya geram.
Bandungan Semarang memang punya daya tarik yang luar biasa sebagai kawasan wisata. Tentu sebagai tempat dengan potensi besar dengan arah pengembangan ke wisata, kelakuan-kelakuan aneh wisatawan sulit terhindarkan.
Akan tetapi, alangkah lebih baik kalau wisatawan atau pendatang lebih peka, sementara warlok atau pengelola daerah setempat juga lebih aktif menyuarakan keinginan atau kehendak mereka dengan tak lelah-lelahnya memberikan edukasi ke pendatang dan wisatawan.
Penulis: Wulan Maulina
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2026 oleh