1. News
  2. Mojok
  3. Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

dulu-wisuda-milik-sarjana,-kini-dirayakan-di-setiap-jenjang,-dan-itu-tak-masalah,-tapi-ada-yang-lebih-penting
Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting

Beberapa waktu lalu saya menghadiri sebuah wisuda yang suasananya tidak kalah meriah dari wisuda sarjana. Ada fotografer, sesi foto keluarga, dan orang tua yang sibuk mengangkat ponsel. Saya sempat mengira sedang menghadiri wisuda sarjana. Ternyata yang mengenakan jubah adalah anak-anak TK.

Pemandangan seperti itu kini bukan hal yang aneh. Anak TK, SD, SMP, hingga siswa SMA wisuda. Bahkan lembaga nonformal seperti pesantren atau kursus tertentu juga memiliki seremoni yang mirip. Toga yang dulu terasa eksklusif bagi mahasiswa tingkat akhir kini hadir hampir di setiap jenjang pendidikan.

Saya tidak sedang mempermasalahkan hal itu. Setiap tahap pendidikan memang layak diapresiasi. Orang tua tentu bangga melihat anak-anak mereka berhasil menyelesaikan satu fase belajar. Namun dari berbagai wisuda yang pernah saya hadiri, mulai dari TK, SD, SMA, sarjana, magister, doktor, hingga pesantren, ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.

Mengapa kita begitu bersemangat merayakan akhir sebuah proses, tetapi tidak selalu antusias mendampingi proses itu sendiri?

Ketika wisuda menjadi sebuah momen

Yang menarik, hampir semua wisuda memiliki pola yang sama. Yang dirayakan bukan sekadar kelulusan, melainkan momen, kebanggaan, pengakuan, dan kenangan.

Saya juga sering mendengar keluhan orang tua mengenai biaya wisuda yang tidak sedikit. Ada yang harus membayar sewa gedung, membeli pakaian khusus, hingga biaya dokumentasi profesional. Namun banyak yang tetap menjalaninya dengan senang hati.

Alasannya sederhana: mereka tidak ingin kehilangan momen.

Saya bisa memahami hal itu. Masa kecil anak berlangsung sangat cepat. Hari ini mereka baru belajar membaca, beberapa tahun kemudian mereka sudah tumbuh dengan dunia dan kesibukannya sendiri. Wisuda menjadi semacam penanda bahwa satu fase telah berlalu dan layak dikenang.

Tidak mengherankan jika banyak orang tua rela meluangkan waktu, tenaga, bahkan biaya demi sebuah acara yang hanya berlangsung beberapa jam.

BACA JUGA: Wisuda Hanya Sebuah Seremoni, Rayakan Secukupnya Tak Perlu Berlebihan

Yang dirayakan sebenarnya siapa?

Meski begitu, ada satu hal yang sering membuat saya tersenyum sekaligus berpikir.

Saya pernah melihat orang tua lebih antusias menghadiri wisuda TK daripada menghadiri rapat orang tua murid selama setahun penuh.

Saat rapat sekolah, tidak semua kursi terisi. Ketika ada kegiatan belajar atau pertemuan rutin, sebagian orang tua berhalangan hadir karena berbagai alasan. Namun ketika wisuda tiba, hampir semua datang dengan pakaian terbaik dan semangat yang berbeda.

Yang lebih menarik lagi, sebagian anak TK tampak lebih sibuk memainkan toga daripada memahami alasan mereka dipanggil ke atas panggung. Yang benar-benar memahami makna seremoni itu justru para orang dewasa yang duduk di belakang mereka.

Di situlah saya menyadari bahwa wisuda bukan hanya perayaan milik anak-anak. Wisuda juga menjadi perayaan bagi orang tua. Ada rasa syukur, kebanggaan, dan kepuasan karena telah berhasil mendampingi anak melewati satu tahap kehidupan.

Barangkali karena itulah wisuda semakin penting dari tahun ke tahun.

Jangan sampai prosesnya terlupakan

Saya tidak menolak wisuda di jenjang TK maupun SD. Saya juga tidak berpikir bahwa setiap perayaan harus dihapuskan atas nama kesederhanaan. Yang saya khawatirkan justru hal lain. Jangan sampai kita lebih sibuk merayakan garis finis daripada menemani perjalanan panjang menuju ke sana.

Sebab yang paling membentuk anak bukanlah beberapa menit ketika namanya dipanggil ke atas panggung. Bukan pula toga yang dikenakan atau foto yang diunggah setelah acara selesai. Yang paling membentuk mereka adalah hari-hari biasa yang sering luput dari perhatian: saat belajar membaca, mengerjakan tugas, menghadapi kesulitan, berteman, dan perlahan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang.

Jika dulu wisuda adalah milik sarjana, sekarang wisuda adalah milik siapa saja yang berhasil menuntaskan satu tahap perjalanan belajar. Itu tidak masalah.

Yang perlu kita jaga adalah jangan sampai kemeriahan perayaannya lebih besar daripada perhatian kita terhadap proses belajar yang berlangsung setiap hari.

Karena pada akhirnya, yang paling menentukan masa depan seorang anak bukanlah toga yang dikenakannya sehari-hari, melainkan proses pembelajaran yang ia lalui sepanjang perjalanannya.

Penulis: Oni Tarsani
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sebagai Guru, Saya Sepakat dengan Dedi Mulyadi, Wisuda Sekolah Dihapus Saja, Ribet dan Banyak Masalah!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 8 Juni 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Dulu Wisuda Milik Sarjana, Kini Dirayakan di Setiap Jenjang, dan Itu Tak Masalah, tapi Ada yang Lebih Penting
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us