
PROSPEK pasar peralatan mesin di Indonesia menunjukkan tren positif seiring dengan akselerasi sektor manufaktur nasional. Lonjakan kebutuhan akan teknologi produksi yang lebih modern, efisien, dan presisi kini menjadi pendorong utama bagi pelaku industri global untuk memperluas investasi mereka di tanah air.
Momentum pertumbuhan ini akan dikukuhkan melalui edisi perdana CMES Indonesia Pameran Alat Mesin Internasional yang dijadwalkan berlangsung pada 3–5 September 2026 di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran. Pameran ini diproyeksikan menjadi titik temu strategis bagi pelaku industri mesin perkakas, manufaktur, dan otomatisasi dari berbagai negara.
Transformasi Industri dan Target Pertumbuhan
Perwakilan Penyelenggara CMES Indonesia, Sun Xiao Li, mengungkapkan bahwa saat ini industri pengolahan logam tengah mengalami pergeseran signifikan.
“Industri kini beralih dari teknik pengecoran biasa menuju manufaktur komponen dengan presisi tinggi. Tren ini didorong oleh permintaan dari sektor otomotif, elektronika, infrastruktur, hingga energi baru,” ujarnya.
Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian RI, juga telah menetapkan target ambisius untuk memperkuat daya saing industri nasional pada tahun 2026. Berikut adalah rincian target pertumbuhan sektor strategis yang menjadi motor penggerak kebutuhan mesin perkakas:
| Sektor Industri | Target Pertumbuhan 2026 |
|---|---|
| Industri Manufaktur (Nasional) | 5,51% |
| Industri Logam Dasar | 14,00% |
| Industri Barang Logam, Komputer, Elektronik & Optik | 4,81% |
| Industri Mesin dan Perlengkapan | 4,78% |
Peluang Pasar dan Inovasi Teknologi
Berdasarkan proyeksi lembaga riset Ken Research, nilai pasar mesin perkakas di Indonesia diperkirakan menembus angka US$4 miliar (setara dengan puluhan triliun rupiah). Potensi ini sangat terbuka lebar mengingat sekitar 75% peralatan premium di Indonesia saat ini masih dipenuhi melalui jalur impor.
CMES Indonesia 2026 akan menempati area seluas lebih dari 15.000 meter persegi dengan menghadirkan berbagai inovasi mutakhir, antara lain:
- Mesin pemotongan dan pembentuk logam.
- Otomatisasi pabrik dan robotika industri.
- Teknologi industri pintar (Smart Manufacturing).
- Peralatan manufaktur presisi dan alat gerinda.
“Kami ingin memperkuat ekosistem industri manufaktur nasional dan mendukung agenda transformasi melalui program Making Indonesia 4.0,” tambah Sun Xiao Li.
Kehadiran CMES di Indonesia menyusul kesuksesan pameran serupa di Vietnam pada 2025 yang berhasil mencatatkan lebih dari 30.000 interaksi bisnis.
Rekam Jejak Penyelenggara
Sebagai penyelenggara pameran swasta terbesar di Tiongkok dengan pengalaman lebih dari 23 tahun, CMES membawa kredibilitas tinggi ke pasar Indonesia. Secara global, CMES telah mengelola area pameran seluas 600.000 meter persegi dengan kunjungan lebih dari 600.000 pembeli setiap tahunnya.
Melalui kemitraan strategis dengan pemerintah dan asosiasi industri, CMES Indonesia 2026 juga akan menyelenggarakan forum tingkat tinggi serta Pertemuan Pencocokan Pembeli Internasional untuk memfasilitasi transfer teknologi dan kemitraan bisnis jangka panjang bagi industri hilir seperti otomotif, elektronik 3C, hingga peralatan rumah tangga. (Z-1)