1. News
  2. Berita
  3. Mudah Menghakimi, Sulit Memahami

Mudah Menghakimi, Sulit Memahami

mudah-menghakimi,-sulit-memahami
Mudah Menghakimi, Sulit Memahami

Kita melihat di media sosial banyak orang dengan mudah mengeluarkan pendapatnya. Banyak yang tiba-tiba menjadi komentator ahli kehidupan orang lain. Mulai dari gaya berpakaian orang lain, cara berbicara, sampai sikap seseorang di ruang publik tidak luput dari komentar dan penilaian netizen. Tanpa terasa, perlahan-lahan kita menjadi terbiasa membuat “judgement”. Ada yang melakukannya dengan cara halus seperti “hanya mengingatkan…”, ada pula yang terus terang dengan pernyataan keras.  

Tontonan mengenai peradilan, investigasi, hingga analisis bahasa tubuh menjadi populer. Orang menonton sidang hukum seperti serial hiburan. Pemirsa berlomba menjadi investigator dan ahli.  Dari potongan video pendek, ekspresi wajah, cara bicara, bahkan cara duduk, orang langsung menyimpulkan, “Dia bohong, dia manipulatif, dia narsisistik, sampai keyakinan dia pasti bersalah.” Padahal, pendapat ini keluar dari bacaan atau tontonan sebuah konten yang tidak lebih dari 30 detik.

Dalam psikologi sosial dikenal konsep attribution, sebuah pemikiran yang kita miliki tentang orang lain yang membantu kita memahami mengapa seseorang bertindak atau berperilaku tertentu. Masalahnya, kita cenderung melakukan personality attribution lebih sering daripada situational attribution.

Dalam personality attribution, kita menganggap perilaku seseorang adalah cerminan karakter permanennya. Mereka yang cemberut langsung kita nilai sebagai seorang yang tidak ramah ketimbang bahwa ia sedang lelah. Ini adalah fundamental attribution error ketika kita melebih-lebihkan karakter seseorang dan meremehkan pengaruh situasi atau konteks di mana orang itu berada. Sementara itu, kita jauh lebih toleran kepada diri sendiri.

Orang yang marah kita nilai sebagai toxic, sementara ketika mood kita sedang buruk, kita bilang sedang capek. Kegagalan atau kesalahan orang lain dinilai sebagai tidak becus, sementara kegagalan kita dikarenakan sedang banyak tekanan. Artinya, kita sering menghakimi orang lain dengan keras sebagai sesuatu yang menetap, tetapi membela diri sendiri dengan konteks situasi yang ada.

Berasal dari rasa insecure

Para ahli psikologi melihat bahwa perilaku menghakimi sebenarnya berakar pada insecurity. Orang menghakimi untuk menghindari rasa inferior dan rasa tidak cukup. Orang yang paling keras menghakimi sering kali justru yang paling merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri. Judgmentalism is about safety. Menghakimi membuat orang merasa aman karena menganggap diri lebih benar, lebih baik, tidak sama dengan yang lain.

Meski demikian, cara memperjuangkan rasa aman ini mahal harganya. Kita berasumsi bahwa semua orang melihat kehidupan seperti yang kita lihat. Kita berasumsi bahwa orang lain berpikir seperti yang kita pikirkan, merasakan seperti yang kita rasakan, dan menghakimi seperti yang kita hakimi.

Akibatnya, kita takut menjadi diri sendiri di hadapan orang lain. Karena kita berpikir semua orang akan menghakimi kita, menyalahkan kita seperti yang kita lakukan pada mereka. Jadi, bahkan sebelum orang lain memiliki kesempatan untuk menolak kita, kita sudah menolak diri kita sendiri dan membuat kita semakin insecure.

Media sosial memperburuk pola itu. Algoritma memang menyukai emosi yang tinggi. Konten yang penuh penghakiman lebih cepat viral daripada konten reflektif. Orang lebih tertarik melihat orang dijatuhkan daripada orang dipahami. Akibatnya, kita semakin terbiasa hidup dalam budaya menghakimi dan moral superiority. Ada kenikmatan kecil saat merasa lebih benar daripada orang lain.

Be curious not judgemental

Di kantor, budaya menghakimi juga menghancurkan psychological safety. Orang tidak berani bertanya karena takut dianggap bodoh. Tidak mau berbeda pendapat karena takut diberi label negatif. Lama-lama organisasi penuh dengan orang yang bermain aman. Tidak ada keberanian untuk berpikir berbeda.

Di sinilah kita perlu menekankan pentingnya non-judgmental listening. Mendengarkan tanpa buru-buru mengoreksi. Mendengarkan tanpa langsung menyimpulkan apalagi membuat vonis. Keinginan untuk memahami mendorong kita untuk mengajukan pertanyaan karena kesadaran bahwa “mungkin saya belum tahu seluruh ceritanya, mungkin ada situasi sulit yang sedang ia perjuangkan.”

Berpikir memang melelahkan, apalagi memahami manusia. Itulah sebabnya Carl Jung mengatakan, “Berpikir itu sulit, itulah sebabnya kebanyakan orang lebih suka menghakimi.” Menghakimi memberi rasa superior sesaat, sedangkan memahami membutuhkan kerendahan hati. Kita jauh lebih mudah memberi label daripada menggali konteks.

Bagaimana agar kita lebih memahami bukan menghakimi?

Pertama, belajar membedakan fakta dan interpretasi. “Dia diam saat rapat” adalah fakta. “Dia tidak berani tampil” adalah interpretasi. Sering kali kita mencampur keduanya tanpa sadar.

Kedua, biasakan membuat situational attribution sebelum personality attribution. Sebelum menyimpulkan “dia pemarah”, coba bertanya, “Apa yang mungkin sedang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini?” Ini bukan berarti menjadi naif, melainkan memberi ruang pada kemungkinan bahwa manusia lebih kompleks daripada perilaku sesaatnya. Setiap orang membawa pergumulannya masing-masing. Bisa ada yang sedang cemas, ada yang sedang kehilangan arah, ada yang sedang mencoba bertahan tanpa diketahui siapa-siapa.

Ketiga, perlambat reaksi. Dunia digital melatih kita bereaksi dalam hitungan detik, padahal banyak keputusan buruk lahir dari emosi cepat. Kadang jeda kecil sebelum berkomentar bisa menyelamatkan hubungan dan reputasi kita.

Keempat, latih non-judgmental listening. Mendengar tanpa langsung menyela, memperbaiki, atau menyimpulkan. Banyak konflik sebenarnya bukan karena perbedaan, melainkan merasa tidak pernah benar-benar didengarkan.

Kelima, sadari bahwa perspektif kita hanyalah satu dari beragam perspektif lainnya. Ketika kita tidak menyukai sebuah makanan, katakan bahwa saya kurang cocok dengan makanan ini dan bukan langsung menyatakan bahwa makanan ini tidak enak. Dengan menghakimi bahwa makanan ini tidak enak kita telah menutup kesempatan orang lain untuk mengungkapkan pendapat yang berbeda karena khawatir dinilai seleranya rendah.

Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak hakim dadakan. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu melihat dengan lebih utuh, mendengar dengan lebih tenang, dan memahami dengan lebih dalam.

Baca Juga: Kerja Hibrida Efektif

EXPERD

HR CONSULTANT/KONSULTAN SDM

Eileen Rachman & Emilia Jakob

Character Building Assessment & Training EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Mudah Menghakimi, Sulit Memahami
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us