Pagi ini, matahari bersinar cerah. Cahayanya melewati jendela rumah, hinggap di tanganku yang sibuk menggenggam konsol permainan. “Lihat, aku sudah jauh di depan!” seru abangku. Benar katanya, mobil merahku sudah jauh tertinggal! Ah, padahal, biasanya aku selalu unggul dalam permainan balap ini.
Sensasi hangat cahaya matahari terasa semakin intens di tanganku. Aku harus fokus soalnya siapa pun yang menang akan mendapatkan buah mangga terakhir di kulkas. Buah mangga termanis yang dipanen langsung dari kebun paman di kampung.
“Aku menang! Aku makan mangganya, ya!” kata abangku.
“Tidak bisa, ini tidak adil! Ayo ulang permainannya. Aku terkena cahaya matahari dan kamu tidak! Tentu kamu bisa lebih mudah menang,” protesku.
“Kalau begitu salahkan mataharinya, jangan marah kepadaku,” jawab abangku lalu melenggang ke dapur.
Benar, matahari memang pantas disalahkan! gumamku. Bukan kali pertama aku diganggu oleh cahaya matahari. Aku pernah kalah dalam permainan sepak bola karena kilau sinar matahari menghalangi penglihatan. Mulai saat ini, aku mendeklarasikan perang dengan matahari! Semua jendela rumah akan kututup rapat tanpa menyisakan celah yang memungkinkannya untuk masuk!
Keesokan harinya, jendela tempat aku biasa mengintip tamu sebelum mereka masuk, jendela tempat aku bermain balapan dengan Arya, hingga jendela tempat kami bisa melihat tanaman Ibu, semuanya telah kututup rapat!
Aku tersenyum puas hingga Ibu bertanya “Kenapa rumah gelap seperti ini?” lalu menyingkap gorden dan membawa kembali cahaya itu ke dalam rumah. Aku pun menceritakan kejadian kemarin.
“Rafi sayang, sinar matahari itu tidak pernah memiliki niat jahat dalam memberi sinarnya. Tugasnya adalah menyinari, tanpa bermaksud membuatmu kalah ataupun abangmu menang.” kata Ibu dengan senyum bijaknya.
“Iya Ibu, tapi kalau tidak ada sinar matahari, aku bisa memakan mangga terakhir itu!”
“Lalu menurutmu, jika tidak ada sinar matahari, apakah akan ada mangga?”
Aku termenung. Di sekolah, guru Biologi pernah menjelaskan mengenai proses fotosintesis. Katanya, tumbuhan sangat bergantung dengan cahaya matahari dalam memproduksi makanannya. Kalau begitu, mangga kemarin pasti juga tumbuh karena adanya matahari.
“Sudah, jangan kesal dengan matahari. Ia berjasa dalam begitu banyak hal. Bajumu yang bersih hingga bunga yang mekar, semuanya berutang budi dengan matahari. Untuk masalah mangga, Ibu bisa minta ke paman. Tapi, janji dengan Ibu untuk tidak membenci matahari ya?” kata Ibu sambil menjulurkan kelingkingnya. Aku menautkan kelingkingku dengannya, berjanji untuk tidak membenci sinar jingga itu.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Prita Kusumaningtyas
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
