Namun sejarah olahraga dunia menunjukkan bahwa negara yang konsisten berprestasi bukanlah negara yang paling sering merayakan kemenangan, melainkan negara yang paling serius membangun sistem.
Jakarta (ANTARA) – Dalam percakapan tentang prestasi olahraga Indonesia, perhatian hampir selalu tertuju pada medali, peringkat, dan hasil pertandingan. Padahal ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar dan selama ini jarang diajukan: sudahkah sistem pembinaan atlet kita berjalan berkelanjutan, tanpa terputus?
Bagi atlet pun, terutama mereka yang sedang berada dalam fase performa terbaik, kontinuitas sebenarnya kerap lebih penting daripada euforia kemenangan sesaat.
Selama ini pembinaan olahraga nasional berjalan dalam ritme yang nyaris sama. Program pelatnas digenjot menjelang ajang besar seperti SEA Games, Asian Games, atau Olimpiade. Setelah itu, siklus kembali dimulai dari awal. Pola ini tidak sepenuhnya lahir dari pertimbangan teknis olahraga, melainkan juga mengikuti cara negara membiayai program melalui mekanisme anggaran tahunan.
Konsekuensinya, ketika tahun anggaran berakhir, pemusatan latihan nasional kerap ikut berhenti. Pada awal tahun berikutnya, program harus menunggu proses administrasi dan pencairan dana sebelum kembali berjalan. Bagi birokrasi, jeda beberapa bulan mungkin dianggap biasa. Namun bagi atlet, jeda itu bisa berarti hilangnya momentum latihan yang dibangun dalam waktu lama.
Karena itu, persetujuan Presiden Prabowo Subianto terhadap skema anggaran multiyears untuk pelatnas dalam pertemuan di Hambalang pada 19 Juni lalu layak dilihat lebih dari sekadar perubahan mekanisme pembiayaan. Kebijakan ini menyentuh salah satu persoalan paling mendasar dalam olahraga prestasi Indonesia: keberlanjutan.
Selama bertahun-tahun, banyak cabang olahraga menghadapi situasi serupa. Pelatih menyusun program latihan jangka panjang, tetapi kepastian pendanaan hanya tersedia untuk satu tahun anggaran. Akibatnya, perencanaan kerap harus disesuaikan dengan kalender fiskal, bukan dengan kebutuhan atlet.
Padahal pembentukan atlet kelas dunia tidak pernah berlangsung dalam siklus satu tahun.
Perjalanan seorang atlet, sejak usia remaja bahkan anak-anak hingga mampu bersaing di panggung Olimpiade, membutuhkan proses panjang, berlapis, dan kerap tidak linear. Ada fase peningkatan fisik, adaptasi teknik, penguatan mental, hingga akumulasi pengalaman bertanding internasional. Seluruh tahapan itu membutuhkan waktu bertahun-tahun dan tidak bisa diperlakukan sebagai proyek yang setiap tahun dimulai dari nol.
Dalam konteks itu, gagasan anggaran multiyears yang diajukan Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir menjadi relevan. Kebijakan ini memberi ruang bagi federasi dan pelatih untuk menyusun program berdasarkan kebutuhan cabang olahraga, bukan semata mengikuti batas administrasi tahunan.
Atlet pun dapat menjalani latihan dengan ritme yang lebih stabil, sementara pelatih memiliki kepastian untuk merancang periodisasi jangka panjang yang selama ini sulit dijalankan secara optimal.
Namun pembahasan antara Menpora, yang didampingi pelatih tim nasional sepak bola Indonesia John Herdman, dengan Presiden Prabowo di Hambalang tidak berhenti pada urusan pelatnas.
Hal ang menarik justru bagaimana sejumlah agenda yang dibicarakan dalam pertemuan itu tampak saling terhubung dan mengarah pada upaya membangun ekosistem olahraga yang lebih utuh.
Salah satunya adalah rencana pembangunan Akademi Olahraga Nasional yang ditujukan untuk membina talenta sejak usia dini. Jika selama ini pembinaan atlet sering dimulai ketika seseorang sudah menunjukkan prestasi tertentu, akademi tersebut berupaya memindahkan titik awal pembinaan ke usia yang jauh lebih muda.
Baca juga: Pemerintah siapkan akademi olahraga dan anggaran tahunan bagi atlet
Baca juga: Prabowo setuju anggaran jangka panjang untuk cetak atlet kelas dunia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.