
KA Cut Meutia | WikimediaCommons/SerdaduMesin
Tahukah Kawan GNFI jika di Provinsi Aceh, saat ini hanya ada satu kereta api yang beroperasi? Namanya adalah Kereta Api (KA) Perintis Cut Meutia.
KA Cut Meutia sudah beroperasi sejak 1 Desember 2013. KA Cut Meutia merupakan satu dari sembilan KA perintis di Indonesia.
Kereta dengan body khas berwarna biru, kuning, putih ini menjadi andalan masyarakat Aceh yang ingin bepergian dengan layanan kereta api. Kereta ini berada di bawah daerah operasi Sub Divisi Regional I.1 Aceh
Sejarah Kereta Api di Aceh
Disadur dari situs resmi Dinas Perhubungan Provinsi Aceh, perkeretaapian di Aceh sudah dimulai sejak tahun 1879. Kala itu, pemerintah kolonial Belanda ingin membangun jalur kereta untuk tujuan militer.
Saat itu, kereta api dianggap bisa mempermudah pergerakan pasukan dan logistik dalam Perang Aceh. KA bisa mengangkut pasukan, senjata, sekaligus barang-barang logistik perang.
Jalur pertama yang dibangun adalah dari Pelabuhan Ulee Lheue ke Kutaraja (Banda Aceh) sepanjang 5 km. Kala itu, Pemerintah Hindia Belanda sukses membangun jalur kereta api di Aceh sepanjang 502 km. Jalur ini menghubungkan Ulee Lheue – Banda Aceh – Sigli – Lhokseumawe – Langsa – Pangkalan Susu (di Sumatera Utara).
Seiring berjalannya waktu, jalur ini diperpanjang dan dikelola oleh Atjeh Tram (AT). Perusahaan ini kemudian berubah menjadi Atjeh Staatsspoorwegen (ASS). Jalur ini bahkan dibangun hingga menembus Besitang di Sumatra Utara tahun 1919.
Awalnya, kereta di Aceh memang untuk keperluan militer. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, kereta juga dipakai untuk mengangkut penumpang dan hasil bumi.
Setelah merdeka, operasional kereta api diambil alih Pemerintah Indonesia. Namun, dulu sering ada bencana alam yang melanda seperti banjir yang menyebabkan rusaknya rel di tahun 1976. Walhasil, banyak kerugian hingga membuat operasional KA di Aceh sempat terhenti di tahun 1982.
KA Cut Meutia yang Setia Layani Warga
Layanan KA di Aceh kemudian direktivasi kembali dengan kereta api perintis. Layanan KA perintis ini dioperasikan sejak 1 Desember 2013. Saat itu namanya adalah Kereta Api Perintis Aceh.
Kereta ini sempat berhenti beroperasi pada Juli 2014. Kemudian, di tahun 2016, KA Perintis Aceh resmi dioperasikan kembali dengan nama Kereta Api Cut Meutia.
Menariknya, rangkaian kereta yang digunakan adalah Kereta Rel Diesel Indonesia (KRDI) hasil karya anak bangsa dari PT INKA. Melalui akun Instagram resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero) @keretaapikita, panjang jalur kereta ini adalah sepanjang 29,45 km dan menggunakan lebar rel standar 1.435 mm.
KA Cut Meutia melewati beberapa stasiun di Aceh, di antaranya Stasiun Krueng Geukueh, Stasiun Bungkaih, Stasiun Krueng Mane, Stasiun Geurugok, Stasiun Kutablang, dan Stasiun Muara Satu.
Di sisi lain, nama “Cut Meutia” sendiri dipilih bukan tanpa alasan. Nama ini diambil dari sosok pahlawan perempuan legendaris asal Aceh yang gigih melawan penjajahan.
Cut Meutia juga merupakan sosok yang andil dalam Perang Aceh. Ia juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia.
KA Perintis Cut Meutia menawarkan harga tiket yang sangat terjangkau. Bayangkan saja, Kawan GNFI hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp2.000 untuk satu kali perjalanan.
KA Cut Meutia melayani empat perjalanan pulang-pergi per hari. Rangkaian kereta ini memiliki kapasitas 144 tempat duduk dengan rute Kruenggeukueh (KRG) – Kruengmane (KRM) PP.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor