Beberapa bulan yang lalu, saya mengobrol dengan seorang teman. Kami sama-sama asli Jogja. Namun, teman saya ini lama kuliah di Malang. Dan kami sepakat bahwa bakso Malang adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima semua lidah orang Indonesia.
Untuk kamu yang belum tahu, bakso Malang memang rada beda dengan kuliner ini pada umumnya. Di dalam seporsi makanan khas Jawa Timur ini, ada tambahan siomay, tahu aci, siomay gorengdan bakso goreng. Ada juga yang menambahkan usus goreng dan varian jeroan sapi.
Suatu sore ketika sedang berada di Kabupaten Malang untuk sebuah pekerjaan, kami mampir makan di pinggir jalan. Makan gerobakan saja. Dan kami sudah tahu akan mendapatkan seporsi bakso Malang yang nikmat.
Sore itu kami sepakat bahwa lidah orang Indonesia paling mudah menerima rasa gurih. Koreksi ya kalau kami salah.
Namun, berdasarkan pengamatan dan tanya-tanya, gurih itu memang mudah masuk ke selera banyak orang. Mending gurih ketimbang manis, kan. Dan kebetulan, meski sama-sama asli Jogja, kami tidak suka makanan manis. Makan gudeg Jogja ya masih bisa, tapi kalau ada pilihan lain, mending kami skip dulu.
Tahukah kamu, manusia memang paling mudah menerima rasa gurih atau umami. Ini semua karena rasa gurih merupakan sinyal biologis evolusioner bahwa makanan kaya akan protein dan nutrisi penting.
Secara alami, lidah manusia punya reseptor khusus yang mendeteksi glutamat. Glutamat adalah asam amino pembentuk protein untuk membangun jaringan dan energi.
Makanya, banyak orang bisa menerima bakso Malang sebagai makanan khas Jawa Timur paling ramah. Semua gampang suka, dan biasanya sulit melupakan.
Terbuat dari bahan yang akrab di telinga
Bahan membuat bakso Malang itu ya nggak jauh beda dengan bakso pada umumnya. Bahan utama ya daging sapi. Nah, karena sudah akrab di telinga ini, mereka yang makan jadi merasa aman.
Ini adalah pemikiran yang sangat sederhana. Saudara saya dari Jakarta kadang enggan memakan makanan khas Jawa Timur karena bumbu yang asing.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Misalnya, kalau rawonkan pasti memakai yang namanya kluwek. Ini bahan yang membuat kuah rawon jadi hitam pekat dan punya aroma khas. Nah, masalahnya, untuk mereka yang jarang masak atau membaca pengetahuan gastronomi, belum tentu tahu soal kluwek.
Dari sana, orang lantas menjaga jarak. Mereka “main aman” karena suatu trauma. Biasanya karena alergi dan saya sangat bisa memahaminya.
Bakso Malang aman dari sisi harga
Terakhir, soal harga. Bakso Malang itu murah meriah. Kamu makan di pinggir jalan, paling habis 10 sampai 15 ribu saja tergantung kondimen tambahan. Dan soal rasa, jangan khawatir, setiap gerobak menawarkan kelezatan.
Nah, untuk makanan khas Jawa Timur lainnya, banyak yang memasang harga agak mahal. Apalagi karena dua hal ya. Pertama, kebiasaan orang membandingkan. Kedua, yang penting kenyang.
Misal, ketimbang makan rawon enak habis 35 ribu, mending bakso aja 15 ribu. Sama-sama kenyang. Makan bebek goreng khas Surabaya? Ah, bisa habis 40 ribu. Enak makan bakso Malang aja. Habis 15 ribu bisa kenyang. Kan sama-sama kenyang.
Orang kayak gini nggak tahu seni makan enak. Ya nggak salah, tapi jadi nggak berimbang caranya membandingkan. Makanan enak, terbuat dari bahan terbaik dan wajar kalau jadi mahal.
Well, saya nggak ingin menghakimi. Cuma menyampaikan saja apa yang saya temukan. Bahwa bakso Malang, adalah makanan khas Jawa Timur yang paling bisa diterima ketimbang kuliner Jatim lainnya.
Penulis: Yamadipati Seno
Redaktur: Yamadipati Seno
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2026 oleh