1. News
  2. Mojok
  3. Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

malang-pernah-terkenal-dengan-solidaritas-masyarakatnya-yang-tinggi.-sayang,-solidaritas-itu-kini-bisa-dengan-mudah-dibeli
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli

Kalau ada satu frasa yang bisa menggambarkan Malang beserta orang-orangnya, frasa tersebut adalah solidaritas tinggi. Manusia-manusia yang hidup di Malang seakan punya keterkaitan satu sama lain, seakan saling terhubung satu sama lain. Ibaratnya, kalau ada satu orang yang disakiti, maka semua orang akan ikut tersakiti dan siap membalasnya.

Salah satu yang mempengaruhi adanya solidaritas yang tinggi adalah faktor Arema Malang. Pada masanya, Arema nggak hanya sekadar sebuah tim sepak bola. Arema adalah identitas, jadi pemersatu orang-orang Malang yang latar belakangnya berbeda-beda. Orang keturunan Madura, Jawa, Arab, bisa membaur jadi satu di bawah bendera Arema.

Maka nggak heran jika orang Malang bisa sesolid itu. Selain karena sama-sama tumbuh dan hidup di daerah yang sama, mereka juga dipersatukan oleh entitas yang kuat. Selain punya solidaritas yang tinggi, orang Malang juga terkenal punya pendirian yang kuat. Orang sini itu lugas, nggak mencla-mencle. Orang Malang berdiri bersama orang Malang lainnya, bukan dengan rezim, atau bahkan pemilik modal. Ini seakan jadi nilai plus bagi Malang dan masyarakatnya.

Tapi itu dulu. Sekarang, solidaritas tinggi yang pernah melekat pada Kera Ngalam (atau sebagian) itu perlahan luntur. Solidaritas tinggi, pendirian yang kuat, sudah mulai nggak kelihatan di orang-orang Malang. Rasanya, solidaritas dan pendirian, serta loyalitas terhadap sesamanya seakan mudah banget dibeli. Ini terlihat banget dari beberapa kejadian yang menimpa Kota ini akhir-akhir ini.

Mendemonisasi para demonstran yang sedang menyuarakan aspirasinya

Dalam nyaris satu dekade terakhir, Malang selalu jadi salah satu titik demonstrasi ketika ada yang nggak beres dengan pemerintah. Mulai dari UU KPK, RKUHP, Omnibus Law, hingga aksi besar Agustus 2025 lalu, kota ini nggak pernah absen menggelar demonstrasi. Masyarakat, mahasiswa, hingga pekerja serentak turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.

Namun, di setiap demonstrasi yang terjadi, selalu ada saja orang-orang Malang yang “mengganggu” jalannya penyampaian aspirasi ini. Orang-orang ini kerap memasang spanduk yang bertuliskan “demomu macetku”. Nggak jarang juga orang-orang ini melabeli para demonstran dengan istilah anarkis. Bahkan ada yang sampai bilang bahwa yang demo-demo ini mending pergi saja. Diusir. Intinya orang-orang ini seakan ingin mendemonisasi para demonstran yang sedang menyuarakan aspirasinya.

Ironisnya lagi, mereka selalu mengatasnamakan diri mereka sebagai “Arek Malang”, atau “Wong Malang”. Kayak seakan-akan para demonstran ini bukan orang Malang, dan mereka yang demo ini cuma pengin merusak Kota ini. Padahal, para demonstran ini kebanyakan orang sini juga. Arek-arek juga. Kok bisa malah didemonisasi sedemikian rupa. Sama-sama orang Malang, lho.

Ya meskipun kalau kita telisik siapa orang-orang yang menolak demo ini, kita akan tahu siapa yang ada di belakangnya, siapa yang mem-backing-i. Orang Malang pasti tahu, lah.

Banyak orang Malang yang nggak bersikap tegas, bahkan terkesan abai atas apa yang terjadi di Kanjuruhan

Seharusnya, apa yang terjadi di Stadion Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022 itu jadi momen yang nggak akan terlupakan, khususnya oleh orang Malang. 135+ nyawa melayang sia-sia, akibat dari aparat yang goblok, dan penyelenggara pertandingan yang juga goblok. Ini juga diperparah dengan penegakan hukum yang nggak berpihak kepada korban.

1 Oktober 2022 juga seharusnya menjadi ujian bagi orang Malang yang katanya punya solidaritas tinggi terhadap sesama. Kalau benar solidaritasnya tinggi, orang-orang sini harusnya berdiri bersama korban, menuntut keadilan sampai tuntas, sekaligus punya sikap tegas terhadap apa-apa saja yang bersangkutan: sepak bola, Arema FC, aparat, dan PSSI.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Nyatanya itu nggak terjadi. Banyak arek yang solidaritasnya malah ndlosor. Mereka memilih untuk nggak berdiri bersama korban, dan nggak ikut menuntut keadilan sampai tuntas. Mereka nggak punya sikap tegas terhadap Arema FC, terhadap aparat, dan terhadap PSSI. Bahkan terkesan abai dengan apa yang terjadi di Kanjuruhan. Seakan-akan mereka lupa bahwa 135+ nyawa yang melayang itu adalah orang-orang dan arek-arek Malang.

Bahkan suara-suara “Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan” sudah mulai jarang terdengar dari sebagian orang Malang. Justru orang-orang dari daerah lain yang masih konsisten, masih tetap menyuarakannya. Lalu para korban dibiarkan berjuang sendiri, berjalan sendiri, mencari keadilan yang entah kapan mereka dapat.

Degradasi solidaritas dan lunturnya ketegasan

Ironis sekali jika melihat Malang dan orang-orangnya saat ini. Seakan-akan orang Malang sekarang itu bukanlah orang yang pernah kita—atau seenggaknya saya—kenal. Melihat bagaimana sikap orang-orang terhadap rentetan demonstrasi melawan rezim yang zalim, lalu bagaimana sikap mereka terhadap Kanjuruhan, saya jadi heran, Kera Ngalam, kok, jadi begini?

Mana solidaritas dan loyalitas tinggi yang dulu pernah ada? Mana kelugasan dan ketegasan sikap yang dulu pernah dipegang teguh? Kok sekarang jadi lembek dan mencla-mencle gini. Sedih aja rasanya, padahal dulu loyalitas, solidaritas, ketegasan dan kelugasan itu jadi nilai plus, jadi hal positif dari orang Malang.

Tapi sekarang, solidaritas dan loyalitas tinggi, ketegasan dan kelugasan itu sudah perlahan nggak ada di orang-orang Malang. Sudah luntur, sudah terdegradasi, atau mungkin sudah laku terbeli dengan harga yang sangat murah oleh entah siapa saja.

Penulis: Iqbal AR
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jika Berani Berbenah, Malang Bakal Sejahtera karena Potensi Wisata Kota Ini Begitu Besar tapi Terbentur Tembok Birokrasi

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 12 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Malang pernah terkenal dengan solidaritas masyarakatnya yang tinggi. sayang, solidaritas itu kini bisa dengan mudah dibeli
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us