Kalian pilih sekolah negeri atau swasta?
Dua minggu lalu, saya ambil rapot sekolah anak saya. Kebetulan ini adalah semester pertama anak saya bersekolah di kelompok bermain. Iya, kalian tidak salah dengar, ambil rapot bermain gorupmemang cukup unik.
Saat ambil rapot, selain penjelasan tentang perkembangan anak, biasanya ada selingan tentang tagihan pembayaran di semester selanjutnya. Saya kaget saat melihat brosur biaya pendidikan di tingkatan setelahnya, termasuk biaya masuk SD. Kok angkanya sudah seperti zaman saya kuliah dahulu ya.
Sekolah swasta memang identik dengan biaya mahal, tapi tak saya sangka semahal itu. Herannya, sekalipun mahalnya nggak ketulungan, banyak orang tua zaman sekarang tetap memilih menyekolahkan anaknya di sana daripada sekolah negeri.
Dan, yang membuat saya tambah heran, istri saya juga ternyata juga pengin begitu.
Dulu sekolah negeri primadona, sekolah swasta dipandang sebelah mata
Melihat brosur-brosur tadi membuat saya kembali mengingat-ingat pengalaman sekolah saya dahulu. Khususnya saat masuk jenjang SMP karena di daerah saya, Banyumas, ada banyak pilihan sekolah swasta jenjang SMP.
Walau ada banyak pilihan sekolah swasta, para orang tua dan murid tetap mengincar sekolah negeri, terutama sekolah negeri favorit. Orang tua pada zaman itu memang masih memandang sekolah swasta sebelah mata. Bahkan, banyak yang lebih terima anaknya masuk ke sekolah negeri tidak favorit daripada masuk swasta.
Ya memang begitulah kualitas sekolah swasta zaman itu, kurang memadai. Dari sisi fasilitas, kurikulum hingga daya saing, semuanya kalah dengan sekolah negeri. Bahkan dulu ada anggapan, siswa-siswa yang bersekolah di swasta adalah siswa buangan yang tidak diterima di sekolah negeri.
Ditambah lagi, sekolah negeri saat itu cenderung lebih murah biayanya ketimbang dengan sekolah swasta yang banyak biaya-biaya tambahan.
Masih mahal, tapi lebih bisa bersaing
Dalam beberapa tahun belakang, saya melihat ada pergeseran yang menarik. Melihat banyaknya video anak-anak sekolah zaman sekarang yang berseliweran, sepertinya sekolah negeri sudah mengalami penurunan kualitas yang amat jauh.
Sebagai contoh, di video ketika Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mewawancarai salah seorang murid SMA negeri di Jawa Barat. Beliau hanya menanyakan hitung-hitungan sederhana, setahun ada 12 bulan, nah kalau 2 tahun ada berapa bulan. Siswa tersebut hanya bisa tersenyum tanpa bisa menjawab. Pertanyaan yang amat mudah bagi anak kelas 3 SD di jaman saya, tapi begitu sulit dijawab oleh siswa yang duduk di bangku SMA.
Jika dibandingkan dengan masa ketika saya masih sekolah SD-SMA dulu, standar kelulusan bagi anak sekolah negeri sekarang jadi terasa amat mudah.
Banyak alasan yang sepertinya mendasari kondisi seperti sekarang. Dari kurikulum yang sering berubah, gaji kecil guru honorer yang topiknya seperti tidak pernah selesai. Tidak lupa fasilitas dan sarana sekolah yang sepertinya begitu-begitu saja tanpa bisa bersaing mengikuti perkembangan jaman.
Sebaliknya, kualitas-kualitas sekolah swasta sekarang malah menjadi lebih baik. Bahkan, jauh meninggalkan kualitas sekolah negeri. Dari segi fasilitas sudah jelas lebih unggul, bisa mengejawantahkan kurikulum dengan lebih baik, serta gaji guru lebih sesuai.
Mungkin faktor-faktor itu yang membuat mereka jadi memiliki daya saing yang lebih baik saat ini. Kasarnya, secara visual, sekolah swasta sekarang tampak lebih seksi ketimbang sekolah negeri.
Sekolah swasta memang mengandalkan kelangsungan hidup mereka dengan pemasukan dari para orang tua murid. Mungkin itu mengapa sekolah wajib berhias dengan berbagai fasilitas unggul agar para orang tua mau memasukkan anaknya ke sekolah mereka. Semakin baik kualitasnya, semakin mahal pula biaya masuknya. Istilah “rega nggawa rupa” seperti sudah dipegang erat oleh sekolah-sekolah swasta sekarang.
Meski banyak yang mengkritik kalau sekolah seperti itu rentang dijadikan ladang bisnis, nyatanya sekolah swasta masih tetap banyak peminat. Bahkan, bukan hanya untuk kalangan atas, kalangan menengah dengan penghasilan lumayan saja sekarang berbondong-bondong ikut memasukkan anaknya ke sekolah swasta. Apa pun mereka “ada-adain” demi anak bisa mendapat fasilitas pendidikan yang layak.
Jika tidak ada perbaikan seperti ini, saya malah jadi takut bukan lelucon tentang sekolahnya saja yang hilang, tapi sekolah negerinya juga akan ikut hilang karena sepi peminat.
Menjadi pilihan orang tua
Dan, yang terjadi sekarang, orang tua sudah tidak lagi memandang sekolah swasta sebelah mata. Dengan fasilitas dan sarana penunjang yang sekarang jauh lebih unggul ketimbang sekolah negeri, sekolah swasta kini malah menjadi favorit bagi para orang tua.
Pola pikir mereka pun berubah. Kalau dulu siswa sekolah yang masuk swasta karena tidak diterima di sekolah negeri, kini malah banyak orang tua yang secara sadar langsung memasukkan anaknya ke sekolah swasta.
Sebenarnya ironi ketika melihat kondisi sekolah negeri yang seperti itu. Jika masih jalan di tempat saya rasa masih normal, sayangnya dibandingkan dengan masa saya dulu, sekolah negeri sepertinya malah mengalami kemunduran.
Bukan tanpa alasan, selain pengelolaan yang amburadul di periode lalu, pendidikan seperti dipandang bukan menjadi hal yang terlalu penting. Ditambah lagi, anggarannya sudah terlebih dahulu terdampak efisiensi di awal tahun.
Jika diibaratkan sebagai tim bola, sekolah negeri sekarang sudah seperti Manchester United. Fasilitas yang jalan di tempat seperti kata Cristiano Ronaldo, manajemen klub yang amburadul, ditambah efisiensi yang dilakukan dengan memecat beberapa staf makin membuat mirip dengan kondisi pendidikan negeri sekarang. Jelas kan?
Penulis: Hardika Ilhami
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Cara Melawan Keinginan Orang Tua.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 13 Juli 2026 oleh