
BADAN Meteorologi Jepang (Japan Meteorological Agency/JMA) secara resmi mengumumkan berakhirnya musim hujan di sejumlah wilayah utama, termasuk Tokyo dan Nagoya, pada Senin (20/7/2026). Berakhirnya musim hujan ini langsung diikuti oleh lonjakan suhu ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah negara tersebut.
Pusat kota Tokyo mencatatkan hari “sangat panas” pertama pada tahun 2026 setelah suhu udara menyentuh angka 35 derajat Celsius. Data JMA menunjukkan suhu di pusat ibu kota bahkan sempat mencapai puncaknya di level 36,1 derajat Celsius pada sore hari.
Rekor Suhu dan Peringatan Heatstroke
Gelombang panas ini bertepatan dengan hari libur nasional Hari Laut (Umi no hi). Pemerintah Jepang telah menetapkan peringatan waspada sengatan panas (pitam panas) di sebagian besar wilayah untuk mengantisipasi risiko kesehatan bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Hingga Senin pukul 18.00 waktu setempat, JMA melaporkan bahwa suhu mencapai 35 derajat Celsius atau lebih di 250 lokasi dari total 914 titik pengamatan di seluruh Jepang. Rekor suhu tertinggi tercatat di Koshu, Prefektur Yamanashi, dengan angka mencapai 39,4 derajat Celsius.
Data Pengamatan Suhu Jepang (Senin, 20 Juli 2026):
| Lokasi | Suhu Tertinggi |
|---|---|
| Koshu, Prefektur Yamanashi | 39,4°C |
| Pusat Kota Tokyo | 36,1°C |
| Ambang Batas “Sangat Panas” | 35,0°C |
Perbandingan dengan Tahun Sebelumnya
Tahun ini, berakhirnya musim hujan di Jepang tercatat mengalami keterlambatan yang signifikan dibandingkan tahun lalu. Di wilayah Kanto-Koshin (termasuk Tokyo), musim hujan berakhir 22 hari lebih lambat. Sementara di wilayah Tokai yang berpusat di Nagoya, keterlambatan mencapai 23 hari.
Sebelumnya, wilayah Kyushu di barat daya Jepang telah lebih dulu dinyatakan keluar dari musim hujan pada 13 Juli lalu. JMA memperingatkan bahwa kondisi cuaca dengan suhu tinggi ini diperkirakan masih akan berlanjut hingga Selasa (21/7), sehingga masyarakat diminta untuk tetap waspada dan menjaga hidrasi tubuh. (Kyodo/Ant/I-1)