1. News
  2. Opinion
  3. Krisis Energi Kuwait: Warga Hemat Listrik sebagai Dampak Serangan Iran

Krisis Energi Kuwait: Warga Hemat Listrik sebagai Dampak Serangan Iran

krisis-energi-kuwait:-warga-hemat-listrik-sebagai-dampak-serangan-iran
Krisis Energi Kuwait: Warga Hemat Listrik sebagai Dampak Serangan Iran
Krisis Energi Kuwait: Warga Hemat Listrik sebagai Dampak Serangan Iran
Ilustrasi. (Agung)

POPULASI Kuwaitsalah satu negara dengan suhu terpanas di dunia, kini terpaksa membatasi penggunaan pendingin udara (AC) di puncak musim panas. Langkah ini diambil setelah serangan udara Iran terhadap sejumlah pembangkit listrik menjadikan penghematan energi sebagai prioritas nasional yang mendesak.

Otoritas Kuwait menyerukan kepada publik untuk menekan konsumsi energi guna menjaga ketersediaan listrik selama 24 jam, mengingat jaringan listrik nasional terus berada di bawah ancaman serangan Iran. Nasser Al-Dhafiri, seorang pegawai sipil berusia 40-an, menggambarkan ada tekanan psikologis yang luar biasapada masyarakat umum seiring kekhawatiran akan pemadaman listrik total.

Selama berminggu-minggu, warga di Kuwait dan Bahrain terbangun oleh suara sirene dan ledakan. Kedua negara tersebut menjadi target utama Iran di kawasan Teluk sejak runtuhnya gencatan senjata yang rapuh antara Teheran dan Amerika Serikat.

Dampak pada Infrastruktur Vital

Konflik itu bermula pada akhir Februari dengan serangan AS-Israel ke Iran, yang kemudian dibalas oleh Republik Islam tersebut dengan menyasar negara-negara Teluk. Dhafiri menyebut serangan harian ini diperparah oleh hantaman pada infrastruktur vital.

“Serangan terus-menerus terhadap pembangkit listrik menciptakan kecemasan dan kebingungan dalam kehidupan sehari-hari kami. Semua orang sekarang merasa bahwa menjaga layanan esensial adalah tanggung jawab bersama,” ujar Dhafiri.

Pada Senin (20/7), Kuwait melaporkan bahwa Iran menghantam beberapa pembangkit listrik dan instalasi air, yang memicu kebakaran hebat. Ini merupakan serangan keempat dalam empat hari terakhir. Teheran sebelumnya menyatakan bahwa mereka menargetkan aset-aset AS yang berada di negara tersebut.

Di kawasan Teluk, sebagian besar instalasi desalinasi air terintegrasi dengan fasilitas produksi listrik karena prosesnya membutuhkan input energi yang sangat besar. David Michel, seorang pakar ketahanan air dan pangan, mencatat bahwa pasokan air bersih dapat terganggu bukan hanya oleh serangan langsung pada unit pengolahan air, tetapi juga pada jaringan listrik yang menyokongnya. “Putuskan air dengan memutus aliran listrik,” tulisnya.

Trauma Masa Lalu dan Solidaritas Warga

Serangan ini semakin membebani jaringan listrik Kuwait yang sebelumnya berhasil bertahan dari invasi Irak tahun 1990 serta gelombang serangan Iran awal tahun ini. “Menghemat listrik berarti menjaga sumber daya bangsa. Kita tidak boleh membebani jaringan listrik dengan penggunaan yang tidak perlu,” kata Abdulrahman Al-Azmi, seorang warga berusia 60-an.

Meskipun Kuwait merupakan salah satu produsen minyak mentah terbesar di OPEC, negara ini secara rutin kesulitan memenuhi permintaan domestik, terutama saat musim panas ketika suhu melampaui 50 derajat celsius. Pada musim panas 2024, pemerintah sempat mengumumkan pemadaman listrik sementara di beberapa wilayah akibat lonjakan permintaan saat cuaca ekstrem.

Kini, warga mulai mengambil inisiatif mandiri. Khaled Al-Badri, warga berusia 50-an, mengaku mulai mematikan AC sebelum meninggalkan rumah dan memadamkan lampu luar ruangan. “Setiap orang bisa berkontribusi untuk membantu kita melewati periode ini,” katanya kepada AFP.

Bagi banyak warga seperti Dhafiri, situasi ini membangkitkan memori kelam invasi Irak 1991 saat pasukan Irak membakar ratusan sumur minyak saat mundur. Namun, ia merasa tekanan saat ini berbeda. “Apa yang dialami Kuwait hari ini adalah sesuatu yang tidak kami rasakan bahkan saat invasi Irak, dalam hal tekanan psikologis dan ketidakpastian arah peristiwa ini,” tuturnya.

Pemerintah Kuwait saat ini berupaya keras mencegah gangguan listrik menjadi sistemik. Juru bicara kementerian kelistrikan, Fatima Hayat, memuji respons luas dari masyarakat yang membantu menurunkan konsumsi listrik di bawah tingkat yang diproyeksikan, sehingga stabilitas layanan tetap terjaga di tengah fase yang menantang ini. (I-2)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Krisis Energi Kuwait: Warga Hemat Listrik sebagai Dampak Serangan Iran
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us