
Pagi itu, Mile si kepiting dan Ori si penyu, kedua sahabat itu sedang berjalan menikmati tepian pantai Bali. Cuaca saat itu sedang cerah. “Aduh kakiku tersangkut sesuatu,” teriak Mile kepada Ori. Ori dengan sigap membantu Mile melepaskan kakinya dari jerat sampah plastik. “Ori, sepertinya hari ini pantai sedang ramai,” keluh Mile.
“Benar Mile, beberapa kali tadi aku juga menabrak kaki beberapa anak kecil,” sahut Ori.
Hari itu banyak wisatawan berlibur ke pantai Bali, tapi sayangnya masih banyak yang membuang sampah sembarangan. “Ori, hari ini kita berdua sudah beberapa kali terjerat sampah plastik,” Mile bergumam.
“Ayo, Mile kita berjalan ke bibir pantai saja,” ajak Ori kepada Mile. Maka, siang itu Mile dan Ori berjalan beriringan ke bibir pantai dan sesekali mereka tersapu ombak ke tepi pantai Bali yang sebenarnya sangat indah. Mile dan Ori kesulitan bergerak saat tersapu ombak. Rupanya baik Mile maupun Ori tersangkut sampah yang cukup besar.
Babas dan Kiara, anak-anak yang sedang berlibur di Pulau Bali, tak sengaja menemukan Mile dan Ori yang kesulitan bergerak karena terlilit sampah.
“Kiara, ayo, kita bantu penyu dan kepiting itu,” ujar Babas sambil menunjuk ke arah Mile dan Ori. “Ayo, sepertinya mereka kesulitan bergerak,” sambut Kiara sembari bergegas mendekati Mile dan Ori. Babas bersama Kiara segera melepaskan Mile dan Ori. Kiara melepaskan Mile dan Ori setelah membasuh Mile dan Ori dengan air pantai agar mereka bersih dari kotoran.
“Ori, aku senang ternyata masih ada yang peduli pada kita,” ucap Mile dengan mata berbinar kepada sahabatnya.
“Benar Mile, andai semua manusia peduli pada kita, tentu pantai ini akan menjadi tempat yang nyaman untuk kita,” Ori menimpali.
“Semoga mereka tidak membuang sampah sembarangan lagi,” sahut Mile sambil berjalan beriringan dengan Ori di tepi pantai.
“Benar Mile, pantai ini akan sangat indah untuk kita dan manusia seandainya tidak ada yang membuang sampah sembarangan di pantai ini,” jawab Ori.
Sementara itu, Babas dan Kiara sedang mengobrol di tepian pantai sambil menikmati es kelapa muda. “Kiara, aku punya ide,” kata Babas.
“Ide apa, Bas?” sahut Kiara antusias.
“Aku tadi berpikir, jika bukan manusia, lantas siapa lagi yang akan peduli pada kepiting, penyu, serta satwa lainnya di pantai ini,” ungkap Babas.
“Benar Bas, mereka juga sering terjerat sampah seperti tadi,” sambung Kiara. Babas mengangguk menyimak Kiara.
“Jika sampah itu tertelan kepiting atau satwa lainnya dan kemudian hewan itu kelak dimakan oleh manusia, maka akan menyebabkan penyakit pada manusia juga, kan,” Kiara memberi penjelasan.
“Kiara, ayo, kita berbuat sesuatu yang baik untuk pantai ini. Kita mulai dari kita berdua dulu,“ ujar Babas.
“Ayo, kita menjadi Bara, sang penjaga pantai,” kata Babas.
“Apa itu Bara?” tanya Kiara.
“Bara itu singkatan dari Babas dan Kiara,” celetuk Babas sambil tersenyum pada Kiara.
“Menjaga lingkungan dan bumi kita harus dimulai dari kita sendiri, sebelum mengajak orang lain,” Babas melanjutkan penjelasannya kepada Kiara yang menyimak dengan antusias.
“Kiara ayo mulai memungut sampah di pantai ini,” ajak Babas dan mereka pun segera memunguti sampah di pantai siang itu. Babas memungut sampah dari ujung barat, sedangkan Kiara dari ujung timur.
Menjelang sore, mereka bertemu di tempat semula dengan setumpuk sampah dalam wadah masing-masing. Sampah ini nantinya mereka serahkan kepada kakak-kakak penjaga pantai atau pihak yang akan mendaur ulang.
Mile dan Ori tampak bahagia menyaksikan Babas dan Kiara membersihkan pantai. Mereka berharap agar ada lebih banyak wisatawan yang sadar untuk tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu, agar manusia mau memilah-milah sampah sesuai jenisnya saat memasukkan ke tempat sampah.*