Ilustrasi Mobil Listrik. Sumber: Flickr/Karlis Dambrands.
Indonesia dan Malaysia mulai memperkuat kerja sama di sektor teknologi kendaraan listrik melalui pengembangan Baterai Nusantara atau Nusantara Battery.
Inisiatif ini tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan baterai kendaraan listrik, tetapi juga membangun rantai pasok dan kemampuan teknologi yang lebih mandiri di kawasan ASEAN.
Kolaborasi tersebut mempertemukan kekuatan Indonesia dalam material baterai dengan kemampuan Malaysia dalam pengembangan sel baterai.
Upaya Mengurangi Ketergantungan
Indonesia dan Malaysia menjalin kolaborasi untuk mengembangkan Baterai Nusantara sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem baterai kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Proyek ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemampuan industri baterai di kawasan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap teknologi dan rantai pasok dari negara di luar ASEAN.
Profesor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sekaligus Founder National Battery Research Institute (NBRI), Evvy Kartini, menjelaskan bahwa kedua negara memiliki keunggulan yang dapat saling melengkapi.
Indonesia mempunyai potensi besar dalam pengembangan material baterai, khususnya material untuk katoda. Sementara itu, Malaysia memiliki fasilitas pilot yang dapat digunakan dalam proses produksi sel baterai.
Pola kerja sama tersebut memungkinkan riset dan material yang dikembangkan di Indonesia untuk dikirim ke Malaysia. Material tersebut kemudian diproses lebih lanjut hingga menjadi baterai. Produk hasil kolaborasi ini juga telah diperkenalkan di Malaysia bersama kementerian terkait.
Menggabungkan Keunggulan Kedua Negara
Kerja sama Baterai Nusantara pada dasarnya dibangun berdasarkan pembagian kemampuan yang dimiliki masing-masing negara. Indonesia mempunyai sumber daya mineral yang menjadi fondasi penting bagi industri baterai, serta kemampuan riset yang terus dikembangkan.
Malaysia di sisi lain mempunyai fasilitas dan keahlian yang dapat mendukung proses pengembangan serta pembuatan sel baterai.
Kolaborasi ini menjadi penting karena produksi baterai tidak hanya membutuhkan bahan baku, tapi juga pengembangan material, formulasi, pembuatan sel, pengujian, hingga pengembangan teknologi yang dapat diterapkan secara komersial.
Dengan menggabungkan kedua keunggulan tersebut, Indonesia dan Malaysia dapat menciptakan alur pengembangan yang lebih terintegrasi.
Kerja sama ini juga membuka peluang bagi kedua negara untuk meningkatkan kemampuan teknologi lokal dan menciptakan nilai tambah yang lebih besar dari sumber daya yang tersedia di kawasan Asia Tenggara.
Menuju Baterai ASEAN yang Mandiri
Baterai Nusantara tidak hanya dirancang sebagai proyek bilateral antara Indonesia dan Malaysia. Tujuan yang lebih besar adalah membangun rantai pasok baterai yang dapat melibatkan lebih banyak negara ASEAN.
Menurut Evvy Kartini, kawasan ASEAN memiliki pasar kendaraan listrik yang besar dan berpotensi menjadi basis pengembangan teknologi baterai. Namun, kemampuan riset dan produksi baterai di negara-negara ASEAN masih perlu diperkuat agar kawasan tersebut tidak terlalu bergantung pada teknologi dari luar.
Karena itu, proyek Baterai Nusantara ini dapat menjadi tahap awal untuk membangun ekosistem baterai regional.
Jika pengembangan ini berhasil, negara-negara ASEAN lainnya berpotensi ikut terlibat dalam rantai pasok, mulai dari penyediaan material, penelitian, manufaktur komponen, produksi sel, hingga pemanfaatan baterai untuk kendaraan listrik.
Langkah tersebut juga sejalan dengan meningkatnya kebutuhan terhadap kendaraan listrik di kawasan. Pertumbuhan pasar EV akan menciptakan kebutuhan terhadap baterai dalam jumlah besar, sehingga ASEAN memiliki kepentingan untuk mengembangkan kemampuan produksinya sendiri.
Pentingnya Fasilitas Pilot Plant di Indonesia
Salah satu kebutuhan penting dalam pengembangan Baterai Nusantara adalah pembangunan fasilitas pilot plant di Indonesia. Fasilitas ini berfungsi sebagai jembatan antara penelitian di laboratorium dan produksi baterai dalam skala komersial.
Hasil penelitian material tidak selalu dapat langsung diterapkan dalam produksi massal. Diperlukan tahapan pengujian dan pengembangan untuk memastikan material tersebut dapat digunakan secara konsisten dalam pembuatan sel baterai.
Pilot plant memungkinkan proses tersebut dilakukan dalam skala yang lebih besar sebelum teknologi masuk ke tahap produksi komersial.
Keberadaan fasilitas semacam ini juga dapat memperkuat kapasitas penelitian Indonesia. Peneliti dan industri dapat menguji berbagai formulasi serta teknologi baterai secara lebih akurat dengan kebutuhan manufaktur.
Peluang Strategis bagi Industri Kendaraan Listrik
Pengembangan Baterai Nusantara memiliki arti strategis yang lebih luas bagi industri kendaraan listrik di Asia Tenggara.
Selama ini, kemampuan teknologi dan manufaktur baterai global masih banyak dikuasai oleh negara-negara di luar kawasan Asia Tenggara. Kondisi tersebut membuat industri EV ASEAN masih menghadapi ketergantungan terhadap rantai pasok eksternal.
Melalui kolaborasi Indonesia dan Malaysia, kawasan ASEAN memiliki peluang untuk membangun kemampuannya sendiri secara bertahap.
Indonesia dapat meningkatkan nilai tambah dari kekayaan sumber daya mineral dan kemampuan risetnya, sedangkan Malaysia dapat memanfaatkan fasilitas serta keahlian yang telah dimiliki dalam pengembangan sel baterai.
Pada akhirnya, keberhasilan Baterai Nusantara tidak hanya akan diukur dari jumlah baterai yang diproduksi, tapi juga dari upaya membangun fondasi teknologi, sumber daya manusia, riset, manufaktur, dan rantai pasok baterai di ASEAN.
Jika kolaborasi tersebut dapat dikembangkan secara konsisten dan melibatkan lebih banyak negara serta pelaku industri, Baterai Nusantara berpotensi menjadi salah satu fondasi bagi terbentuknya ekosistem baterai ASEAN yang lebih mandiri.
Dengan begitu, Asia Tenggara tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga dapat berkembang menjadi pusat pengembangan dan produksi teknologi baterai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News