WartapalaIndonesia.com, WONOSOBO – Musim kemarau yang telah berlangsung beberapa bulan, berdampak pada mengeringnya sungai-sungai dan matar air di Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Pertanyaannya, apakah benar kemarau tersebut menjadi satu-satunya penyebabnya?
Ternyata jawaban yang cukup memperihatinkan. Hasil dari analisis lapangan ditemukan beberapa fakta yang menjadi faktor mengeringnya mata air dan sungai, di antaranya adalah semakin berkurangnya tutupan hutan dari tahun ke tahun di kawasan Kecamatan Kaliwiro.
Menindaklanjutinya, komunitas konservasi lingkungan Daygreen Environment, Samitra Lingkungan, RPB SAR dan Palasska Kaliwiro yang tergabung dalam kolaborasi Green Collaboration Indonesia mengadakan pertemuan khusus untuk merumuskan langkah solutif lapangan.
Pertemuan digelar di Balai Desa Kemiriombo Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo. Pada Minggu, 6 September 2026.
Turut hadir di pertemuan antara lain unsur pemerintahan, akademisi, aktivis lingkungan, serta tokoh masyarakat dan warga.
Pertemuan tersebut bertujuan mengedukasi dan berbagi sudut pandang terhadap persoalan di atas, serta menghasilkan solusi yakni agenda reboisasi di hutan Desa Kemiriombo, Kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Agenda penanaman pohon konservasi jenis beringin, aren dan bambu dan ditanam ketika musim hujan tiba yaitu sekitar bulan November tahun ini.
Sejumlah titik mata air yang telah mengering menjadi prioritas penanaman pohon sebagai upaya untuk mengembalikan ekosistem dan fungsi ekologisnya, termasuk mitigasi bencana geologi.
Ketua Komunitas Green Collaboration Indonesia Agus menerangkan 5 titik mata air yang menjadi prioritas reboisasi pemulihan fungsi menjadi titik utama persiapan kami bersama pihak-pihak terkait.
“Alhamdulillah kami didukung penuh oleh seluruh elemen. Kami optimis rehabilitasi hutan dan mata air ini akan berhasil dan dapat dilihat hasilnya di tahun-tahun berikutnya” lanjutnya.
Agus menambahkan pertemuan ini sekaligus menandai dibukanya penanaman pohon di Desa Kemiriombo.
Agenda penanaman masih membutuhkan dukungan dari seluruh pihak, serta adanya kebutuhan bibit aren, beringin dan bambu. Dari kebutuhan bibit tanam 2500 batang saat ini baru tersedia 200 batang bibit beringin.
Rencana penanaman akan dilakukan secara bertahap hingga ahir tahun 2026. Monitoring pasca tanam menjadi agenda khusus agar tingkat keberhasilan tumbuh maksimal dan terkenadali.
Sistem pengawasan bersama Karangtaruna, Pemdes dan komunitas menjadi tahapan yang krusial agar program tersebut dapat berkelanjutan.
Fokus utama tahun ini yaitu reboisasi hutan dan mata air yaitu di Desa Bendungan, Desa Kemiriombo, Desa Medono dan Desa Ngadisono yang masih dalam wilayah kecamatan Kaliwiro, Kabupaten Wonosobo.
Desa-desa tersebut memiliki persoalan yang sama yaitu berkurangnya ekosistem hutan, dan berdampak terhadap mengeringnya sumber-sumber mata air serta sungai. (*).
Kontributor || Green Collaboration Indonesia
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)