
20 tahun sudah Duta Bahasa hadir untuk mengajak anak muda bangga berbahasa Indonesia. Tahun ini, perjalanan itu dirayakan lewat Puncak Penganugerahan Duta Bahasa Tingkat Nasional 2026 yang digelar di Graha Utama, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Jumat, 18 September 2026/
Dalam ajang tersebut, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menetapkan Adventhius Immanuel Karo Karo dan Dania Zahra Ayusti dari DKI Jakarta sebagai Terbaik I Duta Bahasa Nasional 2026.
Perhelatan tahun ini mengusung tema “Matribahasa-Matribumi”. Tema ini mengajak generasi muda memandang bahasa ibu sebagai akar yang menopang bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia, sekaligus membentuk identitas ibu pertiwi.
Bahasa dipandang bukan sekadar alat bertutur, tetapi “jembatan” untuk penyatuan ragam etnis, budaya, dan geografis Indonesia.
Acara tersebut juga menandakan tiga peran generasi muda, yakni mengutamakan bahasa Indonesia, melestarikan bahasa daerah, dan menguasai bahasa asing.
Pemilihan berlangsung melalui seleksi tingkat provinsi, pembekalan, penjurian final, hingga malam puncak. Sebanyak 31 pasang finalis dari berbagai daerah dinilai lewat krida kebahasaan dan kesastraan, tuturloka, psikotes, unjuk talenta, penulisan artikel, pembuatan video konten, dan performa panggung.

Daftar pemenang lainnya:
- Terbaik II: Najwan Eka Murti Setiawan dan Siti Syahira Hasnainy Putri (Jawa Timur)
- Terbaik III: I Km Wikananda Rama Satria Ms dan Kadek Dinda Amela Putri Darma (Bali)
- Terbaik IV: Muhamad Akmal Musthofa dan Mitha Afrida Khairunnisa (Jawa Barat)
- Terbaik V: Gayuh Ardian Fajri dan Krisna Puspita (DI Yogyakarta)
- Terbaik VI: Dimas Saputra dan Rahma Anggit Khairunnisa (Kalimantan Barat)
- Harapan I: Galih Widhia Putra dan Geri Melda Rina (Lampung)
- Harapan II: Muhammad Berlian dan Alifya Aini Fauziyah (Sumatra Barat)
- Harapan III: Zulfiqri Saputra Samsul dan Nilayanti (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat)
- Harapan IV: Reyhan Rahmat Ilahi dan Nasywa Luthfia Alfi (Jambi)
Najwan Eka Murti Setiawan dan Siti Syahira Hasnainy Putri dari Jawa Timur juga membawa pulang predikat Terbaik Favorit Putra dan Terbaik Favorit Putri.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, berpesan agar amanah para Duta Bahasa tidak berhenti saat masa penugasan usai, tetapi juga tumbuh menjadi gerakan yang berkelanjutan.
“Peran dan amanah tersebut tidak berhenti pada rangkaian kegiatan atau masa penugasan, tetapi diharapkan terus tumbuh menjadi komitmen dan gerakan yang berkelanjutan. Saya berharap para Duta Bahasa dapat menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang menguatkan partisipasi semesta dalam mewujudkan pendidikan bermutu untuk semua melalui dukungan nyata dan peran aktif, kolaboratif, serta berdampak,” sebutnya dalam rilis.
Plt. Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Hidayat Widiyanto, menyebut program ini sebagai wadah melahirkan generasi muda terbina yang menjadi mitra Badan Bahasa. Para juri kehormatan pun mendorong Duta Bahasa untuk aktif mengisi ruang publik dan media sosial dengan konten yang positif dan relevan.
Dukungan datang dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI Himmatul Aliyah, Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Chacha Annisa, hingga Staf Khusus Mendikdasmen Maila Dinia Husni Rahiem. Maila mengajak para finalis mengampanyekan Trigatra Bangun Bahasa.
Adventhius dan Dania menyatakan siap berkolaborasi dengan Badan Bahasa, Ikatan Duta Bahasa Nasional, dan berbagai pihak untuk mewujudkan Trigatra tersebut.
“Duta Bahasa Nasional tidak hanya menjadi perpanjangan tangan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tetapi juga bisa menjadi jembatan kebutuhan yang ada di masyarakat jika ada masalah atau keluhan tentang kebahasaan dan kesastraan.” kata Dania.
20 tahun sudah berjalan, Duta Bahasa terus menjadi ruang bagi anak muda untuk membuktikan bahwa merawat bahasa bisa dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan zaman.
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Kawan GNFI Official lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Kawan GNFI Official.
Tim Editor