Langit sore berwarna jingga kemerahan. Sinar matahari tak lagi terik. Cuaca terasa lebih teduh.
Dari balik jendela, Kaktus memandang ke halaman. Ia melihat gadis kecil pemilik rumah sedang menyirami tanaman. Gadis kecil itu menyemprotkan air dari selang sembari bersenandung riang, “Tralalala-trilili!”
Gadis kecil itu sungguh baik hati, pikir Kaktus. Dia rajin menyirami tanaman di halaman rumahnya setiap hari.
Namun, ada yang mengusik hati Kaktus. Mawar, Melati, dan Amarilis bersorak menikmati guyuran air segar. Demikian pula dengan Salak Condet di samping rumah. Tiba-tiba, timbul perasaan iri di dalam dirinya.
“Mengapa aku dibedakan?” Kaktus menggerutu. Ia tidak ingin hidup di dalam pot. Ia tidak ingin diletakkan di dekat jendela. Ia ingin tumbuh di halaman bersama tanaman lainnya. Ia ingin merasakan siraman air segar setiap sore. Selama ini, si gadis kecil hanya memberinya air sekali dalam seminggu.
“Kaktus, kamu tampak kesal. Ada apa gerangan?” tanya Salak Condet.
Kaktus terkejut sekaligus malu. Ia baru menyadari, ternyata Salak Condet memperhatikannya sejak tadi.
“Apa yang membuat hatimu susah? Ceritakanlah padaku,” bujuk Salak Condet.
Kaktus memberanikan diri mencurahkan isi hatinya kepada Salak Condet. Ia berharap memperoleh pencerahan. Perasaan iri telah membuat hatinya terasa sempit dan sesak.
“Aku iri pada tanaman di halaman, termasuk kamu Salak. Kalian disirami tiap sore. Sementara aku, hanya sekali dalam seminggu. Gadis kecil itu sungguh tega kepadaku,” Kaktus berkata pilu.
Salak Condet tersenyum. “Lantas, apa yang kamu inginkan?”
“Tentu saja aku juga ingin disirami tiap hari. Apalagi, sekarang musim kemarau. Matahari bersinar terik. Udara terasa panas. Segar rasanya diguyur air sore-sore,” Kaktus menjawab penuh semangat.
“Jangan, itu tidak boleh!” seru Salak Condet.
“Kenapa tidak boleh?” sergah Kaktus.
Salak Condet menjelaskan, “Kamu istimewa, Kaktus. Kamu bisa menyimpan cadangan air di dalam batangmu. Selain itu, batangmu memiliki lapisan lilin untuk mengurangi penguapan air. Kamu bisa bertahan hidup walaupun diberi sedikit air. Kalau kamu disiram tiap hari, akarmu malah akan membusuk.”
Hii…. Kaktus bergidik ngeri. Ia mengerti apa yang bakal terjadi jika akarnya membusuk. Ia bisa mati! Kaktus teringat, suatu hari si gadis kecil lupa menutup jendela. Ketika hujan lebat turun, tempias air membasahi pot. Pada saat itu, ia merasakan akarnya sulit bernapas.
“Gadis kecil itu sangat menyayangiku,” gumam Kaktus penuh rasa haru.
Kaktus membuang jauh-jauh perasaan iri di dalam hatinya. Ia bersyukur atas kelebihan yang diberikan oleh Tuhan kepadanya.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Siti Nurlaela
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
