Di sebuah jalanan desa, tampak seekor burung camar tengah mondar-mandir kebingungan. Bangau yang berjalan dari arah berlawanan tengah kelaparan sebab sungai yang mengering pada musim kemarau tidak memunculkan ikan-ikan.
Bangau yang melihat Camar langsung bertanya, “Apakah kamu sedang mencari sesuatu?”
“Aku mencari rumah Kancil, aku ingin menanyakan hal yang penting. Namun, sampai sekarang, aku belum menemukannya,” jawab Camar.
“Bagaimana jika aku mengantarkanmu?” Bangau menawarkan diri membantu.
“Boleh. Apa tidak merepotkan?”
“Tentu saja tidak, mari, ikut denganku!”
Bangau berjalan di depan. Perjalanan menuju rumah Kancil harus melalui sungai kecil dan jalanan berbatu. Rumah Kancil berada di dekat hutan. Setelah mengantarkan Camar menemui Kancil, Bangau berpamitan untuk pulang.
“Terima kasih banyak Bangau sudah mengantarku,” ucap Camar.
“Sama-sama, sampai jumpa lagi,” jawab Bangau.
“Sebentar, ini ada oleh-oleh untukmu,” kata Camar menyodorkan sebungkus kecil ikan asap.
“Aku ikhlas menolongmu, tidak perlu memberiku ikan,” tukas Bangau.
“Terima saja, aku tadi membawa banyak ikan,” kata Camar.
“Terima kasih, Camar,” Bangau akhirnya menerima ikan asap pemberian Camar.
“Sama-sama,” jawab Camar.
Bangau menikmati ikan asap pemberian camar. Rasanya benar-benar nikmat karena diolah dari ikan yang segar, ditangkap langsung dari laut yang jauh. Hari ini sungguh menggembirakan untuk bangau dan Camar. Berkat keduanya saling menolong, saling membantu sebagai sesama satwa ciptaan Tuhan. *
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis: Agus Sanjaya
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
