1. News
  2. Berita
  3. Ario Bayu Bicara Kesejahteraan di Industri Perfilman Indonesia: Jadi Ruang Penting untuk Didorong Bersama

Ario Bayu Bicara Kesejahteraan di Industri Perfilman Indonesia: Jadi Ruang Penting untuk Didorong Bersama

ario-bayu-bicara-kesejahteraan-di-industri-perfilman-indonesia:-jadi-ruang-penting-untuk-didorong-bersama
Ario Bayu Bicara Kesejahteraan di Industri Perfilman Indonesia: Jadi Ruang Penting untuk Didorong Bersama

6 November 2026 21.00 WIB • 2 menit

Ario Bayu Bicara Kesejahteraan di Industri Perfilman Indonesia: Jadi Ruang Penting untuk Didorong Bersama

images info

Ario Bayu. (Foto: YouTube/Good News From Indonesia)


Ario Bayu adalah aktor dan model berkebangsaan Indonesia yang sudah dikenal dalam industri perfilman nasional. Pria kelahiran Jakarta pada 41 tahun yang lalu ini telah membintangi sejumlah film dan serial sejak 2000-an hingga sekarang.

Nama Ario melejit sejak ia bermain sebagai pemeran pendukung di film horor Bangsal 13 pada 2004. Semenjak itu, ia mulai lekat dengan dunia seni peran dan mendapat porsi lebih besar memerankan tokoh utama, di antaranya ia memerankan Presiden RI pertam Sukarno dalam film Soekarno (2013) dan Sultan Agung dalam Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018).

Kontribusinya dalam perfilman tanah air membuat Ario didaulat sebagai Ketua Komite Festival Film Indonesia (FFI) yang sebelumnya dipimpin oleh sesama aktor, reza Rahadian. Dari perannya sebagai pemimpin sebuah komite tentu diharapkan ia mampu memiliki pengetahuan serta kebijakan dalam membina keberlangsungan industri film Indonesia kini dan nanti.

Genre Horor

Film Indonesia sejak dulu hingga kini lekat dengan genre horor. Meskipun sekarang genre-genre lain seperti drama, romansa, sampai biopik tetap bermunculan, genre horor secara konsisten masih menunjukkan eksitensinya untuk naik di layar lebar.

Ario sendiri adalah aktor yang naik pamornya setelah membintangi film horor. Berdasarkan pengalamannya itulah ia melihat film horor terus mengalami perkembangan dengan banyak cara seperti memadupadankan genre tersebut dengan genre lain.

“Film horor yang kalau kita lihat juga hari ini genre horor masih dikonsumsi porsinya lebih banyak daripada gen-gen lain. Bahkan evolusinya atau perkembangannya itu lebih ke kayak horor komedi, horor action, horor drama, tapi tema utamanya tetap dibaluti horor,” ucap Ario kepada Good News From Indonesia dalam segmen GoodTalk.

Keberlangsungan genre film horor Indonesia seolah memiliki napas yang panjang. Ario meyakini pandangan masyarakat dalam hal-hal berbau supernatural lah yang membuat genre film ini bisa terus ada dan tetap menemukan pasarnya.

“Aku merasa bahwa mungkin konsumen Indonesia atau masyarakat Indonesia mungkin adalah masyarakat yang masih senang dengan hal-hal berbau supernatural atau mistis atau penuh dengan hal-hal metafisikal. Jadi makanya genre horor masih banyak peminatnya,” ungkap Ario.

Kesejahteraan

Industri perfilman di Indonesia tidak dipungkiri sedang bagus dalam beberapa tahun terakhir. Ario menilai sekarang para pelaku industri baik orang yang bekerja di balik layar hingga para pelakon bisa mendapat ganjaran yang setimpal dari kerja keras mereka.

Memang ada masanya industri perfilman nasional jauh dari kata sejahtera. Sebagai aktor, Ario mengerti butuhnya kesejahteraan karena ia berpengalaman syuting seharian karena belum adanya regulasi yang membuat para pelaku industri bisa memiliki batasan saat melakoni pekerjaan mereka.

“Sebenarnya kesejahteraan itu harusnya juga menjadi ruang penting untuk kita dorong bersama. Karena aku ingat banget dulu kita bikin film nggak ada jam kerja. Aku pernah bikin film mungkin 25 jam. Jadi 1 hari ditambah 1 jam atau 26 hours. Waktu itu juga belum ada regulasinya, belum ada regulatory framework-nya dan mungkin juga belum ada dorongan dari asosiasi-asosiasinya juga. Sekarang itu lebih baik karena duitnya lebih banyak,” ucap Ario.

Dewasa ini, perfilman Indonesia menghadapi tantangan beragam. Selain kurangnya layar bioskop, juga ada masalah kurangnya sumber daya manusia yang kompeten untuk direkrut dalam proses pembuatan film.

“Jadi resource manusia-manusianya ini kurang. Yang mau bikin film banyak 100 orang, DoP-nya cuma ada 50 misalnya. Atau mau bikin film 100 nih, orang sudah siap aktornya cuma ada 40. Nah jadi harus membagi waktu. Harga aktor mau tidak mau menjadi lebih mahal. Akhirnya pasar harus juga bertransaksi. Apakah kita mau bayar lebih mahal si aktor ini atau kita tunggu dulu sampai dia selesai filmnya. Jadi ada beberapa dinamika secara ekonimi juga menjadi variabel gitu ya,” ungkap Ario.

Ikuti GNFI agar tak ketinggalan kabar baik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dimas Wahyu Indrajaya lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dimas Wahyu Indrajaya.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Ario Bayu Bicara Kesejahteraan di Industri Perfilman Indonesia: Jadi Ruang Penting untuk Didorong Bersama
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us