1. News
  2. Berita
  3. Tiket Konser Selalu Diburu, Apakah Ini Bisa Menggambarkan Kondisi Daya Beli Masyarakat?

Tiket Konser Selalu Diburu, Apakah Ini Bisa Menggambarkan Kondisi Daya Beli Masyarakat?

tiket-konser-selalu-diburu,-apakah-ini-bisa-menggambarkan-kondisi-daya-beli-masyarakat?
Tiket Konser Selalu Diburu, Apakah Ini Bisa Menggambarkan Kondisi Daya Beli Masyarakat?

Foto oleh Noiseporn di Unsplash


Tiket konser musik dengan harga jutaan rupiah kerap habis terjual dalam waktu singkat. Fenomena ini bahkan terjadi pada sejumlah pertunjukan yang harga tiketnya melampaui upah minimum regional (UMR). Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki daya beli tinggi dan kondisi perekonomian nasional relatif baik.

Namun, tiket konser yang ludes terjual tidak serta-merta menggambarkan kemampuan belanja masyarakat secara keseluruhan. Ada faktor lain yang memengaruhi keputusan konsumen untuk membeli tiket hiburan berharga mahal, salah satunya fanatisme terhadap musisi atau grup musik yang mereka sukai.

Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Gancar Candra Premananto, menjelaskan bahwa fenomena tiket konser mahal yang habis terjual bukan indikator kuat tingginya daya beli masyarakat secara umum.

Menurutnya, keputusan penggemar membeli tiket lebih banyak dipengaruhi loyalitas dan keterikatan emosional terhadap musisi. Sebagian penggemar bahkan bersedia menghemat pengeluaran lain hingga menggunakan pinjaman online agar dapat menyaksikan konser idolanya.

Fanatisme Penggemar Memengaruhi Keputusan Membeli Tiket

Bagi sebagian penggemar, konser musik merupakan pengalaman yang tidak selalu bisa diperoleh setiap tahun. Kesempatan menyaksikan musisi favorit secara langsung membuat tiket konser menjadi prioritas pengeluaran, meskipun harganya relatif mahal.

Gancar menjelaskan bahwa kondisi tersebut berkaitan dengan fanatisme dan loyalitas konsumen. Penggemar yang memiliki keterikatan kuat dengan musisi tertentu cenderung bersedia melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan tiket.

Keputusan tersebut juga berkaitan dengan konsep self-reward atau penghargaan terhadap diri sendiri. Konsumen menganggap pengalaman menghadiri konser sebagai bentuk hiburan yang layak diprioritaskan, meskipun harus mengalokasikan dana lebih besar atau mengurangi pengeluaran lainnya.

Dalam perilaku konsumen, pola tersebut juga berkaitan dengan short-term orientation, yaitu kecenderungan mengutamakan kepuasan dalam jangka pendek. Ketidakpastian kondisi ekonomi pada masa mendatang dapat membuat sebagian konsumen memilih menikmati pengalaman yang tersedia saat ini.

Namun, keputusan membeli tiket konser tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan yang sehat. Penggunaan pinjaman online untuk membiayai kebutuhan hiburan, misalnya, menunjukkan bahwa kemampuan seseorang mendapatkan tiket tidak selalu sejalan dengan kemampuan finansialnya.

Mengapa Tiket Konser Sold Out Bukan Tolok Ukur Daya Beli?

Fenomena tiket konser mahal yang habis terjual juga perlu dilihat dari jumlah konsumennya. Gancar menjelaskan bahwa pembeli tiket konser hanya mewakili sebagian kecil dari keseluruhan populasi Indonesia.

Ia mencontohkan kapasitas stadion besar seperti Gelora Bung Karno (GBK) dan Jakarta International Stadium (JIS) yang dapat menampung sekitar 70.000 hingga 80.000 penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak mencapai satu persen dari total penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 280 juta jiwa.

Dengan demikian, tiket konser yang habis terjual hanya menggambarkan perilaku konsumsi kelompok penggemar yang memiliki minat dan loyalitas tinggi terhadap pertunjukan tertentu. Kelompok ini tidak dapat langsung dianggap mewakili kondisi ekonomi seluruh masyarakat.

Dalam mengukur kondisi ekonomi, diperlukan indikator yang lebih luas, termasuk inflasi dan tingkat pengangguran. Kedua indikator tersebut memberikan gambaran berbeda mengenai kondisi perekonomian dibandingkan angka penjualan tiket hiburan.

Artinya, tingginya permintaan terhadap tiket konser tertentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat secara umum sedang meningkat.

Konser Tetap Memberi Dampak bagi Ekonomi Daerah

Meski tidak dapat dijadikan tolok ukur daya beli nasional, penyelenggaraan konser berskala besar tetap berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi daerah tempat acara berlangsung.

Gancar menyebut bahwa konsumsi hiburan dapat meningkatkan destination awareness atau pengenalan masyarakat terhadap suatu destinasi. Kehadiran penonton dari luar daerah berpotensi mendorong aktivitas ekonomi di sekitar lokasi pertunjukan.

Pengeluaran penonton tidak hanya berkaitan dengan pembelian tiket, tetapi juga dapat mencakup kebutuhan transportasi, akomodasi, makanan, dan aktivitas lainnya selama berada di kota penyelenggara. Dampaknya dapat dirasakan oleh berbagai sektor usaha lokal.

Di tengah meningkatnya minat terhadap hiburan berbiaya tinggi, Gancar mengingatkan pentingnya literasi keuangan. Masyarakat tetap perlu memperhatikan kebutuhan jangka panjang, termasuk alokasi pengeluaran untuk kebutuhan primer dan sekunder serta investasi.

Ikuti GNFI agar tak ketinggalan kabar baik

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tiket Konser Selalu Diburu, Apakah Ini Bisa Menggambarkan Kondisi Daya Beli Masyarakat?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us