1. News
  2. Berita
  3. Tujuh Merak Hijau Akhirnya Dilepas ke Alam Liar, Begini Kondisinya di Ujung Kulon!

Tujuh Merak Hijau Akhirnya Dilepas ke Alam Liar, Begini Kondisinya di Ujung Kulon!

tujuh-merak-hijau-akhirnya-dilepas-ke-alam-liar,-begini-kondisinya-di-ujung-kulon!
Tujuh Merak Hijau Akhirnya Dilepas ke Alam Liar, Begini Kondisinya di Ujung Kulon!

8 November 2026 11.34 WIB • 3 menit

Tujuh Merak Hijau Akhirnya Dilepas ke Alam Liar, Begini Kondisinya di Ujung Kulon!

images info

Merak hijau/Jagat Satwa Nusantara


Upaya pelestarian satwa langka di Indonesia kembali dilakukan. Sebanyak tujuh Merak Hijau dilepasliarkan di Pulau Handeuleum, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Banten. Menariknya, burung-burung tersebut mulai menunjukkan perilaku alami setelah menjalani proses adaptasi sebelum kembali ke habitat aslinya.

Pelepasliaran dilakukan oleh Jagat Satwa Nusantara (JSN) pada Kamis, 5 November 2026. Ketujuh Merak Hijau (Pavo muticus) tersebut terdiri atas dua individu jantan dan lima betina.

Program ini menjadi bagian dari upaya konservasi untuk mengembalikan satwa hasil pengembangbiakan di lembaga konservasi ke habitat alaminya. Sebelumnya, tujuh individu Merak Hijau tersebut diberangkatkan dari kawasan Jagat Satwa Nusantara menuju Taman Nasional Ujung Kulon pada 3 November 2026.

Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangbiakan satwa tidak berhenti pada bertambahnya jumlah individu. Kemampuan satwa untuk beradaptasi dan bertahan hidup di alam juga menjadi bagian penting dari keberhasilan konservasi.

Jalani Adaptasi Tiga Hari Sebelum Dilepasliarkan

Sebelum dilepas ke alam, ketujuh Merak Hijau terlebih dahulu menjalani masa habituasi selama tiga hari. Tahapan ini dilakukan untuk memperkenalkan mereka dengan lingkungan baru, mulai dari kondisi vegetasi, sumber pakan alami, hingga karakteristik habitat di Pulau Handeuleum.

Proses habituasi tersebut melengkapi rehabilitasi perilaku yang sebelumnya dilakukan di Jagat Satwa Nusantara. Selama berada di lembaga konservasi, satwa mendapatkan pengenalan pakan alami, pengayaan lingkungan, serta pemantauan aktivitas.

Persiapan tersebut bertujuan membantu Merak Hijau mengenali kondisi lingkungan sebelum menjalani kehidupan di alam liar.

Hasil awal dari proses adaptasi mulai terlihat setelah pelepasliaran dilakukan. Tim JSN mencatat sejumlah perilaku alami yang ditunjukkan ketujuh burung tersebut.

Beberapa di antaranya mulai mematuk pucuk daun kering, mencari dan memakan semut, hingga melakukan vokalisasi atau mengeluarkan suara.

Perilaku tersebut menjadi indikasi awal respons satwa terhadap habitat barunya. Meski demikian, proses adaptasi masih membutuhkan pemantauan berkelanjutan. Kemampuan memperoleh makanan, kondisi fisik, serta perkembangan perilaku masing-masing individu tetap menjadi perhatian tim konservasi.

Habitat Pulau Handeuleum Dipastikan Layak

Tidak hanya mempersiapkan kondisi satwa, tim JSN bersama pengelola kawasan juga melakukan survei kesesuaian habitat sebelum pelepasliaran.

Survei tersebut mencakup sejumlah aspek penting, seperti kondisi lingkungan, ketersediaan pakan alami, serta sumber air di Pulau Handeuleum.

Pendekatan ini merupakan bagian dari metode konservasi berbasis ilmu pengetahuan atau science-based conservation. Artinya, setiap tahapan dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan biologis satwa dan kondisi habitat yang akan menjadi tempat hidupnya.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Ujung Kulon, Dedi Juherdi, S.Hut., M.H., menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program tersebut.

Menurutnya, pelepasliaran tujuh Merak Hijau ini juga menjadi bagian dari peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) 2026.

Ia berharap ketujuh individu Merak Hijau dapat beradaptasi dan berkembang biak secara alami di habitat barunya.

Selain itu, Pulau Handeuleum diharapkan dapat menjadi salah satu lokasi wisata edukasi konservasi. Namun, pengembangan kawasan tersebut tetap harus mengutamakan perlindungan satwa dan kelestarian habitatnya.

Merak Hijau Berstatus Terancam Punah

Pelepasliaran ini menjadi penting karena Merak Hijau merupakan salah satu satwa dilindungi di Indonesia.

Berdasarkan Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), Merak Hijau memiliki status Endangered atau terancam punah.

Status tersebut menunjukkan bahwa spesies ini menghadapi risiko kepunahan di alam liar. Karena itu, upaya konservasi tidak cukup hanya mengandalkan pengembangbiakan di lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan perlindungan habitat alami.

Kolaborasi dalam program ini melibatkan Jagat Satwa Nusantara, Taman Mini Indonesia Indah, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan, BKSDA Jakarta, Balai Taman Nasional Ujung Kulon, balé by BTN, serta sejumlah mitra pendukung.

Pemantauan Berlanjut Setelah Pelepasliaran

Bagi Jagat Satwa Nusantara, pelepasliaran bukanlah akhir dari rangkaian konservasi Merak Hijau.

Pemantauan terhadap ketujuh individu akan terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan adaptasi mereka di habitat alami. Evaluasi tersebut juga mencakup kemampuan memperoleh pakan, kondisi fisik, serta perilaku masing-masing satwa.

Data yang diperoleh nantinya diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi untuk pengembangan program konservasi Merak Hijau pada masa mendatang.

Program ini sekaligus menghubungkan konservasi ex situ atau pelestarian di luar habitat alami dengan konservasi in situ, yakni perlindungan spesies langsung di habitat aslinya.

Kini, tantangan berikutnya adalah memastikan tujuh Merak Hijau tersebut mampu bertahan dan berkembang di Pulau Handeuleum. Sebab, keberhasilan konservasi bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak satwa yang berhasil dilepasliarkan, melainkan juga bagaimana mereka dapat melanjutkan kehidupannya secara alami di alam bebas.

Ikuti GNFI agar tak ketinggalan kabar baik

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tujuh Merak Hijau Akhirnya Dilepas ke Alam Liar, Begini Kondisinya di Ujung Kulon!
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us