Satu tahun yang lalu saya membeli sebuah laptop dari brand lokal yang namanya sudah nggak asing di telinga masyarakat Indonesia, Advan. Model yang saya beli adalah Advan Soulmate X yang harganya murah meriah yaitu cuma Rp2 jutaan saja. Dengan iklan dan promosi yang menggiurkan, saya tergoda migrasi dari Chromebook ke laptop ini dengan harapan bisa menginstal Linux dan bekerja dengan lancar jaya.
Awalnya saya tak menemukan masalah berarti dari laptop Advan ini selain panasnya yang kayak suhu di Kota Bekasi. Main game dengan Linux CachyOS juga aman kalau cuma buat game nostalgia semacam PES 2013. Dibekali cooling pad seharga gocapan, bekerja pun aman-aman saja selama saya pakai laptop ini.
Sampai suatu ketika, saya merasa laptop Advan ini terasa sangat boros. 6 menit didiamkan, baterai berkurang 15 persen! Akhirnya, saya pun mulai melakukan diagnosis untuk mencari tahu sebetulnya penyakit apa yang sedang diidap laptop saya ini. Ada beberapa tahapan diagnosis yang saya lakukan, mulai dari tes penggunaan daya, pemeriksaan firmware BIOS, melakukan tweaking dengan edit file konfigurasi, sampai tes dengan OS yang lain.
Tes pertama pun saya lakukan. Dengan menginstal sebuah tools bernama Powertop, saya bisa melihat penggunaan daya ketika idle. Dan betapa terkejutnya saya malam itu. Laptop ini tanpa membuka aplikasi apapun, didiamkan saja, memakan daya sebesar 14 Watt. Padahal prosesor yang dipakai, AMD 3020e, memiliki Thermal Design Power (TDP) sebesar 6 watt. Artinya dua kali lebih besar dari daya normal.
Seperti orang yang terjerat pinjol, kepanikan pun menghantui saya. Saya pun melakukan pemeriksaan selanjutnya, yakni memeriksa BIOS. Ketika masuk ke menu BIOS, di sana saya tidak menemukan setting yang berguna untuk mengatur daya seperti C-State atau Thermal Optimization. Semuanya default tanpa ada yang diotak-atik. Saya pun langsung suudzon sama Advan, perusahaan berlogo pink itu sengaja bikin firmware ampas kayak gini.
Berusaha keras menyembuhkan laptop Advan
Jam sudah menunjukan pukul 01.30 dan Semi Final Piala Dunia segera berlangsung. Tapi, saya belum menyerah menyembuhkan laptop ini. Saya pun melakukan banyak tweaking di Terminal. Mencoba mengubah CPU Frequency, mengubah power profile, dan lain sebagainya. Namun, tetap saja ketika dites beberapa menit, laptop ini menguras sangat banyak energi.
Mengingat tenaga dan pikiran yang sudah mulai terkuras, saya memilih waras dengan beristirahat. Terlebih, besok pagi juga harus masuk kantor. Di kantor, kebetulan ada satu laptop Lenovo Ideapad Slim 1.
Spesifikasinya persis seperti laptop saya, pakai AMD 3020e dan RAM 8GB, dan pastinya, pakai Windows 10. Tapi betapa saya merasa bodoh, laptop seharga Rp4 jutaan ini begitu dingin, lumayan smooth untuk ukuran prosesor kentang. Dan ketika dilihat baterainya pun sudah terkuras banyak kapasitasnya, tapi di taskbar tertulis “8 Hours Remaining”.
Betul, 8 jam! Untuk baterai yang sudah mengalami 500 kali charging cycle. Akhirnya, saya mulai pada prediksi paling akhir walaupun AI sudah memperingatkan saya bahwa ini akan sia-sia, yakni kembali pulang ke Windows 10. Bermodalkan internet kantor, saya mengunduh Bootable Windows 10 terbaru beserta driver dari website resmi Advan. Masih kesel gue nyebut nama Advan.
Sakit hati
Di rumah saya instal Windows 10. Install drivernya, dan setting baterai saver agar bisa melihat sejauh mana laptop ini bisa menghemat tenaga. Dan ketika saya run CMD untuk melihat battery report. Tetap saja, dalam kurun waktu 6 menit, baterai yang terkuras itu 15 persen.
Saya sakit hati. Akhirnya saya mencari jawaban di berbagai forum, baik grup Facebook, reddit, sampai video-video YouTube yang ada. Dan, ternyata, semua orang mengalami hal yang sama dengan produk laptop yang katanya baterainya awet dari Advan ini. Sungguh rasa bangga ketika pertama beli, diinjak, diludahi, bahkan dicampakkan oleh brand lokal kebanggaan kita.
Saya pun hanya bisa pasrah. Ternyata firmware ODM yang disediakan Advan sangat ampas. Saya yang awalnya husnudzon bahwa Advan bisa membawa angin segar untuk industri teknologi di Indonesia, malah memberikan janji-janji palsu seperti bapak yang pidatonya ngeri-ngeri sedap di TV. Advan sudah mematahkan hati saya.
Akhirnya, saya memutuskan untuk tetap pakai laptop Advan ini meski wajib dicolok listrik. Kebetulan memang kerjaan saya cuma ada di rumah, di kantor disediakan PC. Mungkin untuk 1-2 tahun lagi, sampai akhirnya saya tidak akan pernah membeli laptop Advan lagi. Ternyata rasa cinta pada produk lokal harus dikhianati dengan buruknya kualitas produknya sendiri.
Saya kecewa Advan, saya kecewa.
Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S.
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Advan 360 Stylus: Laptop Lokal yang Bisa Jadi Tablet tapi Kurang Laris di Pasaran
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 16 Juli 2026 oleh