1. News
  2. Opinion
  3. Tahun Baru Hijriah, Haedar Nashir Maknai, Pentingnya Kemandirian Umat

Tahun Baru Hijriah, Haedar Nashir Maknai, Pentingnya Kemandirian Umat

tahun-baru-hijriah,-haedar-nashir-maknai,-pentingnya-kemandirian-umat
Tahun Baru Hijriah, Haedar Nashir Maknai, Pentingnya Kemandirian Umat
Tahun Baru Hijriah, Haedar Nashir Maknai, Pentingnya Kemandirian Umat
Haedar Nashir(Dok Muhammadiyah)

KETUA Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru 1 Muharram 1448 Hijriah sebagai momentum hijrah menuju kemandirian di berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, esensi hijrah bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan perubahan nyata menuju kondisi yang lebih baik bagi umat secara individual maupun kolektif.

Haedar menjelaskan, spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW mengandung makna transformasi dari kondisi keterbelakangan menuju kemajuan yang membawa kemaslahatan luas. Ia menegaskan bahwa hijrah harus diwujudkan dalam bentuk kesungguhan berjuang membangun kekuatan umat agar mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.

“Hijrah mengandung makna perubahan dari keadaan umat Islam yang tertinggal pada kemajuan yang lebih baik dan berdampak luas. Di situlah makna kemandirian sebagai bagian dari spirit hijrah dan kandungan ajaran Islam untuk pemeluknya,” terang dia pada Senin (15/6).

Haedar menilai, kemandirian merupakan syarat penting bagi umat Islam untuk dapat memberi manfaat yang lebih besar kepada sesama. Ia mengutip pepatah Arab faaqidu asy-syai la yu’thi yang berarti seseorang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberi sesuatu. Karena itu, umat Islam perlu memperkuat kemampuan dan sumber daya agar tidak bergantung kepada pihak lain.

Menurutnya, tantangan besar yang masih dihadapi umat Islam Indonesia adalah lemahnya kemandirian di bidang ekonomi dan politik kebangsaan. Padahal, sebagai kelompok mayoritas, umat Islam memiliki potensi besar untuk membangun kekuatan kolektif yang berdaya saing dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.

“Kemandirian, otonomi, independensi, dan kata lain yang sejenis merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab dalam melaksanakan kewajiban guna memenuhi kebutuhan sendiri,” jelasnya.

Haedar menekankan, pembangunan kemandirian harus berjalan beriringan dengan penguatan keimanan, ibadah, dan akhlak mulia. Keberagamaan yang kuat, menurutnya, harus melahirkan kesalehan transformatif yang menghadirkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, kedamaian, dan kemaslahatan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Lebih lanjut, ia mengajak umat Islam untuk tidak ragu terlibat dalam pengembangan sektor ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Selain memberdayakan usaha mikro, kecil, dan menengah, umat Islam juga perlu mulai menggarap sektor-sektor strategis seperti industri, perkebunan, pertambangan, dan teknologi informasi secara profesional, amanah, dan bertanggung jawab.

“Umat Islam mesti berbisnis yang halalan thayyiban didukung profesionalitas yang tinggi. Bisnis mikro, kecil, dan menengah harus terus diberdayakan secara masif. Selain itu, bisnis eksekutif dan strategis dari level menengah sampai tinggi harus mulai digarap oleh umat Islam secara amanah dan profesional,” tegasnya.

Haedar juga mengingatkan bahwa organisasi keagamaan tidak hanya bertugas memperkuat aspek keimanan dan ibadah, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan sebagai wujud peran manusia sebagai khalifat fil ardh.

Mengutip pandangan sufi besar Jalaluddin Rumi, Haedar menekankan pentingnya keterlibatan orang-orang shaleh dalam urusan dunia. “Jika orang-orang shaleh di dunia bersikap pasif, jangan salahkan mereka saat tiran berkuasa,” kutipnya.

Di akhir Haedar berharap Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat kemandirian sekaligus memperluas kolaborasi dalam menebar kemaslahatan. Kemandirian, menurutnya, tidak berarti hidup eksklusif, tetapi tetap membuka ruang kerja sama dan gotong royong dengan berbagai pihak dalam membangun kehidupan yang lebih baik.

“Melalui momentum hijrah di tahun baru Hijriah, umat Islam semakin menemukan kekuatan kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan menuju kualitas sebagai khaira ummah atau umat terbaik sebagaimana diidealisasikan dalam Al-Qur’an,” tutup dia. (H-2)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Tahun Baru Hijriah, Haedar Nashir Maknai, Pentingnya Kemandirian Umat
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us