1. News
  2. Berita
  3. Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau

Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau

terites,-makanan-tradisional-ekstrim-khas-karo-yang-terbuat-dari-isi-perut-sapi-atau-kerbau
Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau

19 Mei 2026 09.00 WIB • 2 menit

Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau

images info

Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau


Bagaimana jadinya jika ada sebuah makanan yang menggunakan isi perut sapi atau kerbau sebagai bahan utamanya? Itulah terises, salah satu makanan tradisional khas masyarakat Karo yang ada di Sumatera Utara.

Jika Kawan membayang membayangkan kuliner ini menggunakan usus atau jeroan sapi sebagai bahan utama, maka hal ini tidak seperti yang dibayangkan. Sebab bahan utama yang digunakan dalam membuat terises adalah makanan (dalam hal ini rumput) yang sudah diolah dalam usus besar sapi.

Sekilas bahan utama yang digunakan ini sering kali dianggap sebagai kotoran sapi atau kerbau. Namun rumput yang digunakan ini sebenarnya belum menjadi kotoran, meskipun sudah diolah oleh usus besar hewan ternak tersebut.

Tidak heran makanan tradisional khas Karo ini sering kali dianggap sebagai salah satu kuliner ekstrim. Sebab belum tentu setiap orang mampu menikmati cita rasa kuliner tersebut.

Bagaimana ulasan lebih lanjut terkait makanan tradisional khas dari Sumatera Utara tersebut? Simak pembahasan terkait terites dalam artikel berikut ini.

Mengenal Terites, Makanan Tradisional Khas Karo

Terites merupakan salah satu makanan tradisional yang berasal dari daerah Sumatera Utara. Makanan tradisional ini berasal dari masyarakat Karo yang mendiami wilayah tersebut.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kuliner ini menggunakan isi perut dari sapi atau kerbau sebagai bahan utamanya. Dinukil dari laman Budaya Sumut, makanan ini menggunakan rumput yang sudah diolah dari lambung sapi atau kerbau.

Rumput yang digunakan ini dikenal dengan istilah rumen. Masyarakat Karo juga mengenal rumput yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan terises ini dengan nama “Si peduaken” atau usus nomor dua.

Selain dikenal dengan nama terises, kuliner yang satu ini juga disebut oleh masyarakat Karo sebagai “Pagit-pagi” atau pahit-pahit. Penamaan ini merujuk pada cita rasa dari makanan tradisional tersebut.

Alasan Penggunaan Rumput dalam Isi Perut Sapi atau Kerbau sebagai Bahan Pembuatan

Tidak diketahui secara pasti kapan pertama kali kuliner yang satu ini mulai berkembang di tengah masyarakat Karo. Namun masyarakat meyakini jika keberadaan kuliner ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu.

Terbukti, terises menjadi salah satu kuliner yang erat dengan berbagai acara adat yang ada di tengah masyarakat Karo. Kuliner ini biasanya disajikan saat ada acara kerja bakti, pernikahan, dan momen penting lainnya di tengah masyarakat.

Lalu mengapa kuliner ini menggunakan rumen atau rumput dalam isi perut hewan ternak sebagai bahan utamanya? Sebenarnya tidak ada penjelasan khusus mengapa rumen dipilih sebagai bahan utamanya.

Dilihat dari buku Harvina yang berjudul Terites & Ciper: Makanan Tradisional Khas Karo, penggunaan rumen ini kemungkinan berkaitan dengan kandungan gizi yang ada di dalamnya. Saat memakan rumput, rumen yang ada di dalam perut sapi masih berada di usus kedua dan belum sampai ke usus halus.

Terlebih rumen belum masuk ke usus nomor empat yang menjadi tempat pengolahan kotoran. Oleh sebab itu, rumen diyakini masih memiliki banyak kandungan nutrisi dan enzim di dalamnya.

Proses Pembuatan Terites

Tidak mudah untuk mengolah makanan tradisional yang sudah menjadi Warisan Budaya Takbenda dari Sumatera Utara pada 2024 lalu tersebut. Dibutuhkan keahlian khusus agar terises bisa dimasak sebagaimana mestinya.

Proses memasak terises bisa memakan waktu tiga hingga enam jam lamanya. Terdapat beberapa bahan lain yang juga digunakan dalam proses membuat terises, seperti cingkam, jahe, serai, cekala, dan bumbu rempah lainnya.

Bagi masyarakat Karo, terises memiliki nilai dan makna yang lebih dari sekadar makanan biasa saja. Makanan tradisional khas masyarakat Karo ini memiliki nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

Memakan terises sering dianggap sebagai simbol kebersamaan dan gotong royong antarmasyarakat Karo. Hal ini merujuk pada proses pembuatan terises yang melibatkan banyak orang di dalamnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Terites, Makanan Tradisional Ekstrim Khas Karo yang Terbuat dari Isi Perut Sapi atau Kerbau
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us