1. News
  2. Berita
  3. TIM Gelar Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin, Ada Pameran Foto hingga Literatur

TIM Gelar Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin, Ada Pameran Foto hingga Literatur

tim-gelar-peringatan-100-tahun-ali-sadikin,-ada-pameran-foto-hingga-literatur
TIM Gelar Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin, Ada Pameran Foto hingga Literatur

Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya)


Ali Sadikin masyhur sebagai Gubernur DKI Jakarta dua periode pada 1966 – 1977. Semasa pengabdiannya, Jakarta yang kumuh pada awal era Orde Baru diubahnya menjadi kota metropolitan dengan banyaknya pembangunan di sejumlah daerah.

Kendati telah berpulang pada 20 Mei 2008 lalu, nama Bang Ali – sebagaimana ia sering dipanggil demikian – selalu disebut namanya berkat legasi dan sumbangsihnya bagi perkembangan wajah Kota Jakarta. Dari banyaknya warisan yang ia tinggalkan untuk masyarakat ibu kota, Taman Ismail Marzuki (TIM) mungkin bisa dibilang paling diingat dan dikenang khususnya oleh kalangan seniman dan budayawan.

Mural Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki pada 2026. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).

info gambar

Mural Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki pada 2026. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).


Terletak di Jalan Cikini Raya nomor 73, TIM didirikan oleh pemerintah Kota Jakarta pimpinan Ali Sadikin. Di tanah seluas kurang lebih 8 hektare ini dipilih karena tempatnya mudah diakses oleh warga.

“Dalam memenuhi hasrat para seniman itu, saya membangun Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) yang kemudian diberi nama Taman Ismail Marzuki. Untuk memudahkan masyarakat umum menyebutnya TIM. Kendaraan umum dari berbagai arah banyak lewat di sana. Itu pula sebabnya mengapa saya pilih tempat itu. Agar bisa dicapai dan memudahkan orang banyak,” kata Ali Sadikin dalam biografinya yang ditulis Ramadhan K.H. berjudul, Ali Sadikin: Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi.

100 Tahun Ali Sadikin

Ali Sadikin lahir di Sumedang, Jawa Barat, pada 7 Juli 1926. Itu artinya jika ia masih hidup usianya genap 100 tahun pada 2026 ini.

Meskipun telah tiada, pemerintah provinsi DKI Jakarta tetap memeringati satu abad Bang Ali di TIM, di tempat ia membangun pusat kebudayaan dan kesenian Jakarta. Beragam acara digelar oleh pengelola, pemerintah, dan Dewan Kesenian Jakarta (TIM) selama sepekan yaitu 7-14 Juli 2026 dari mulai pameran arsip, lokakarya pembuatan film pendek, peluncuran buku biografi Ali Sadikin, sampai pembuatan mural.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kemeja putih) ditemani mantan gubernur Fauzi Bowo meresmikan peringatan

info gambar

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kemeja putih) ditemani mantan gubernur Fauzi Bowo meresmikan peringatan “100 Tahun Ali Sadikin” di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Selasa (7/7/2026). (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).

Dalam pembukaan acara peringatan bertajuk “100 Tahun Ali Sadikin” tersebut pada Selasa (7/7/2026), tampak hadir Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, mantan gubernur Fauzi Bowo (Foke), dan keluarga mendiang Ali Sadikin. Pramono dalam pidatonya menilai peringatan ini diadakan sebagai bentuk kepantasan bahwa Bang Ali patut dikenang atas banyak karyanya untuk kemajuan Kota Jakarta.

“Menurut saya apa yang menjadi peninggalan Bang Ali tak lekang oleh waktu terutama hal yang berkaitan dengan budaya, seni, cara hidup, kebudayaan,” kata Pramono.

Pameran Ali Sadikin

Masih di lokasi yang sama, sebuah pameran digelar di Gedung Galeri Oesman Effendi. Di sinilah beragam arsip negara, foto, hingga literatur mengenai Ali Sadikin dipamerkan ke publik.

Salah satu arsip negara yang dipampang ialah Surat Keputusan pembentukkan Dewan Kesenian Jakarta dan Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang kini menjadi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selain itu, juga terdapat tulisan-tulisan Ali Sadikin terkait kebudayaan dan kesenian yang menandakan sang gubernur idola juga berkontribusi melalui karya.

Di ruang pameran turut tersaji foto-foto Ali Sadikin saat menjalankan aktivitasnya. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).

info gambar

Di ruang pameran turut tersaji foto-foto Ali Sadikin saat menjalankan aktivitasnya. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).


“Ali Sadikin itu sangat suka menulis. Dia mencatat sendiri rencana besar, penjelasan dia yang dia lakukan di Jakarta dicatat,” kata Ganda Swarna selaku periset saat menemani Good News From Indonesia berkeliling di ruang pameran.

Pameran arsip Ali Sadikin di ruang Galeri Oesman Effendi seolah menjadi lorong waktu melihat bagaimana gubernur DKI Jakarta masa itu peduli akan berkesenian warga kotanya. Ganda Swarna sebagai periset berharap pengunjung bisa lebih dekat mengenal sosok Bang Ali yang memberi kebebasan dalam menciptakan karya dan berekspresi sebebas-bebasnya di tengah batasan-batasan yang ditetapkan pemerintah pusat.

Ganda Swarna menjelaskan foto-foto bangunan di kompleks TIM terdahulu. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).

info gambar

Ganda Swarna menjelaskan foto-foto bangunan di kompleks TIM terdahulu. (Foto: Good News From Indonesia/Dimas Wahyu Indrajaya).

“Dari banyaknya pendapat lain di luar dari Ali Sadikin, TIM ini bisa dilihat lebih jauh sebenarnya untuk membayangkan, bagaimana sih dulu ketika kekuasaan memberi kebebasan yang lepas untuk berekspresi. Sekarang ini mungkin mirip seperti itu ya. Kekuasaan bukan diberi, tapi memang hak untuk mencoba menggabungkan hak kita dalam kebebasan berekspresi,” ungkapnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
TIM Gelar Peringatan 100 Tahun Ali Sadikin, Ada Pameran Foto hingga Literatur
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us