Band post-hardcore asal Manado, Tiresome resmi merilis maxi single terbaru bertajuk Umbra//Ursula pada 24 Oktober 2025. Dihuni oleh Firli Yogiteten pada vokal, Aries Ishak (gitar), dan Sadam Mamonto (drum), unit ini kembali menyuarakan kisah hidup sebagai pekerja kantoran, menjadikannya bentuk katarsis yang jujur dan personal.
“Bermusik buat saya satu dari sekian kegiatan melepas penat dari rutinitas kantor. Ini betul-betul tergambar di rilisan kami sebelumnya yang tematiknya soal kehidupan pegawai kantoran. Jadi semacam katarsis. Kalau gol artistiknya, kami pengen mencoba berbagai kemungkinan padu-padan post-hardcore dan alternative, sejauh apa kami mampu mengolahnya,” kata Firli saat dihubungi Pophariini (28/10).
Proses penggarapan Umbra//Ursula sendiri tergolong menantang, mengingat ketiganya kini tinggal di kota berbeda. Firli menjelaskan bahwa mereka mengerjakan seluruh materi secara jarak jauh.
“Sama seperti sebelum-sebelumnya, penggarapan musik Tiresome dari tahap workshop hingga rekaman dilakukan jarak jauh. Aries yang di Gorontalo bahkan berjarak delapan jam dari saya dan Sadam. Kali ini kami bahkan harus terpisah lebih jauh sebab saya kudu di Jogja selama dua tahun dalam rangka tugas belajar,” jelasnya.
Meski terpisah jarak, semangat kolektif tetap menjadi fondasi Tiresome. Mereka menganggap skena di berbagai kota tempat mereka berpijak sebagai sumber energi dan inspirasi. Di Kotamobagu, Firli menyoroti kehadiran kolektif Easternmost yang berawal dari sebuah dukuh bernama Kampung Kramat.
“Venue mereka di balai desa dengan penonton beragam, mulai anak kecil sampai orang tua. Ini membuktikan bahwa mereka bisa menggelar acara yang inklusif dan suportif buat semua,” ceritanya.
Ia juga menyebutkan tradisi unik saat lebaran, di mana siapa pun bisa naik ke panggung dan bernyanyi sebagai simbol keterbukaan skena musik di sana.
Di Manado, Sadam mengapresiasi geliat kolektif seperti Madxluck yang menggelar Manado Bay Hardcore Fest dan berkolaborasi dengan No Match Records. Mereka mengaku bahwa festival hardcore tersebut sudah mencapai level Asia Tenggara.
“Tahun lalu kita sempat main di pre-event MBHC, bareng band lain dari penjuru Sulawesi Utara,” kata Firli.
Sang vokalis juga menyinggung Wave of Collapse, kolektif shoegaze dan alternatif yang memperluas spektrum musik independen di kota tersebut. “Dari sekian banyak kolektif, kami pengin banget main di acara mereka karena belum pernah,” tambahnya.
Terkait harapan terhadap pergerakan musik lokal, ketiganya sepakat bahwa regenerasi dan keberanian untuk berkarya adalah kunci. Hal ini disampaikan karena Manado, khususnya Kotamobagu mulai sering jadi persinggahan band tur di Sulawesi Utara.
“Manado sudah jadi rumah yang memungkinkan berbagai genre tumbuh. Harapannya, musisi luar menjadikan Manado sebagai destinasi tur yang patut diperhitungkan,” tambah Sadam.
Dengan Umbra//Ursula, Tiresome menegaskan kembali posisinya sebagai salah satu penggerak post-hardcore di Indonesia Timur. Di tengah keterbatasan jarak dan waktu, mereka tetap mampu memadukan intensitas, kejujuran, dan semangat kolektif yang menjadi identitas utama band ini.