
Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengonfirmasi pengerahan sejumlah aset militer ke Timur Tengah guna membantu proses repatriasi warga negaranya. Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya eskalasi konflik di kawasan tersebut yang telah menyebabkan disrupsi perjalanan skala besar.
Dalam pidatonya di parlemen pada Kamis (5/3), Albanese menyatakan bahwa aset-aset militer tersebut telah dikerahkan sejak awal pekan sebagai bagian dari perencanaan darurat (perencanaan darurat). Fokus utama misi ini adalah mengevakuasi warga Australia yang terdampar di tengah krisis.
“Pemerintah mengerahkan aset militer ke Timur Tengah sebagai bagian dari rencana kontinjensi untuk membantu warga negara Australia yang terjebak akibat gangguan perjalanan yang disebabkan oleh konflik yang sedang berlangsung,” ujar Albanese di hadapan parlemen.
Laporan media lokal menyebutkan bahwa aset militer yang dikirim mencakup pesawat angkut personel dan pesawat pengisi bahan bakar (pesawat pengisian bahan bakar). Selain kekuatan militer, pemerintah Canberra juga telah menerjunkan enam tim respons krisis dari Departemen Luar Negeri dan Perdagangan (DFAT) untuk memberikan bantuan konsuler tambahan.
Data menunjukkan terdapat sekitar 115.000 warga negara Australia yang saat ini berada di Timur Tengah, dengan konsentrasi terbesar sekitar 24.000 orang berada di Emirat Arab. Pengerahan alutsista ini menjadi bukti keseriusan Australia dalam memprioritaskan keselamatan warga negaranya di tengah ‘mode perang’ yang kian memanas di kawasan tersebut. (Xinhua/B-3)