
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan seluruh wilayah di 10 kabupaten/kota di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai memasuki musim kemarau pada Juni 2026. Kondisi ini diperkuat oleh Fenomena El Nino yang diprediksi terus berkembang.
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Nusa Tenggara Barat, Made Budi Setyawan, mengungkapkan bahwa saat ini seluruh wilayah NTB telah terdampak kemarau. Adapun 10 wilayah tersebut meliputi Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Lombok Utara, Lombok Tengah, Lombok Timur, Sumbawa, Sumbawa Barat, Kota Bima, Kabupaten Bima, dan Kabupaten Dompu.
“Sehubungan dengan meluasnya wilayah yang masuk dalam level awas dan level siaga akibat hari tanpa hujan (HTH) yang kian memanjang, masyarakat diharapkan dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih,” ujar Made Budi Setyawan di Mataram, Rabu (10/6).
Berdasarkan hasil monitoring BMKG, indeks Osilasi El Niño-Selatan (ENSO) saat ini berada pada kategori El Nino Lemah (+1.04) dan diprediksi akan berkembang menjadi El Nino Moderat mulai Juni 2026. Sementara itu, Dipol Samudera Hindia (IOD) berada pada kategori negatif dan diperkirakan beralih ke kondisi positif pada Juli 2026.
Meskipun telah memasuki kemarau, BMKG mencatat masih ada peluang hujan pada dasarian II Juni 2026. Peluang hujan dengan intensitas di atas 20 mm/dasarian sebesar 10%-30% diprediksi terjadi di Lombok Utara, sebagian Lombok Tengah, Sumbawa Barat, Sumbawa, Bima, dan Dompu. Sementara Kota Mataram dan sebagian besar Lombok Barat memiliki peluang hujan lebih tinggi, yakni 50%-60%.
Selain ancaman krisis air bersih, BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kebakaran pemukiman. Warga diminta tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan atau meninggalkan sumber api tanpa pengawasan di tengah kondisi cuaca yang kering. (Z-10)