Hujan selalu datang dengan tanda-tanda yang asyik, bunyi tik-tik-tik di atas atap, bau tanah yang segar, dan langit yang berubah gelap meski hari masih sore. Namun, bagi Gilang, musim hujan juga berarti satu hal yang menyebalkan, yaitu laron.
Malam itu, baru saja Gilang mematikan televisi, sayap-sayap tipis mulai menyerbu lampu kamarnya. Suaranya berisik sekali, menabrak dinding dan kaca jendela. Tak! Tik! Tak! Beberapa laron jatuh ke lantai, berjalan menyeret badannya tanpa sayap. Sayap-sayap bening yang terlepas itu berserakan di mana-mana.
“Aduh, geli sekali!” gumam Gilang sambil melompat ke atas kasur. Ia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut, tapi suara kepakan kecil itu tetap terdengar di kamarnya.
Keesokan harinya di sekolah, Gilang mengeluh pada temannya, Bima “Rumahku penuh sayap laron. Lantainya jadi kotor dan aku takut laronnya masuk ke telinga saat aku tidur,” kata Gilang.
“Di rumahku juga banyak,” sahut Bima “Tapi, aku pakai jaring pelindung di atas tempat tidur, jadi laron tidak bisa masuk,” tambah Bima bangga.
Gilang pulang dengan wajah cemberut. Ia tidak punya jaring pelindung seperti milik Bima Di rumahnya, lampu-lampu menyala terang tanpa ada penghalang apa pun. Laron sangat menyukai cahaya!
Ayah yang melihat Gilang cemberut bertanya, “Kenapa cemberut begitu, Gilang?” Gilang menceritakan semuanya, tentang laron yang berisik, sayap yang membuat geli, dan jaring yang tidak ia miliki. Ayah tersenyum tenang lalu mengajak Gilang ke dapur.
Ayah mengambil sebuah baskom besar, mengisinya dengan air bening, lalu meletakkannya tepat di bawah lampu teras dan beberapa tempat yang lampunya menyala terang. “Laron itu sangat menyukai cahaya. Mereka akan terbang ke tempat yang paling terang,” jelas Ayah.
Air di dalam baskom langsung memantulkan cahaya lampu, terlihat seperti cermin bulat yang berkilau. Tak butuh waktu lama, laron-laron mulai berdatangan. Mereka berputar-putar di atas baskom, tertarik pada kilauan di permukaan air. Satu per satu, mereka jatuh ke dalam air dan tidak bisa terbang lagi.
Gilang melongo melihatnya. “Jadi, kita tidak perlu marah-marah, Yah? Cukup membuat perangkap saja?”
Ayah mengangguk. “Kita tidak perlu kesal pada hujan atau laron, Gilang. Kita hanya perlu sedikit trik cerdik agar bisa tidur dengan tenang.”
Malam itu, kamar Gilang terasa jauh lebih nyaman. Meski masih ada satu atau dua laron, Gilang tidak lagi ketakutan. Ia melihat baskom ajaib dengan tenang menangkap cahaya lampu dan menjebak laron-laron yang beterbangan.
Gilang tersenyum. Di luar, hujan turun perlahan dan Gilang akhirnya bisa tidur dengan nyenyak tanpa gangguan dari laron.*
Oleh Tim Nusantara Bertutur
Penulis:Elyanoor Oktaviana
Pendongeng: Paman Gery (Instagram: @paman_gery)
Ilustrasi: Regina Primalita
