1. News
  2. Adventure
  3. Impala UB Lakukan Pengembaraan ke Desa Adat Tamblingan Bali, Tujuannya Memahami Peran Kearifan Sebagai Solusi Krisis Planet

Impala UB Lakukan Pengembaraan ke Desa Adat Tamblingan Bali, Tujuannya Memahami Peran Kearifan Sebagai Solusi Krisis Planet

impala-ub-lakukan-pengembaraan-ke-desa-adat-tamblingan-bali,-tujuannya-memahami-peran-kearifan-sebagai-solusi-krisis-planet
Impala UB Lakukan Pengembaraan ke Desa Adat Tamblingan Bali, Tujuannya Memahami Peran Kearifan Sebagai Solusi Krisis Planet

WartapalaIndonesia.com, BALI – Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya (Impala UB) kembali melakukan pengabdian terhadap lingkungan dan kebudayaan. Kali ini melalui kegiatan pengembaraan anggota muda eks Diklatsar 48, di kawasan adat Dalem Tamblingan, Bali Utara. Pada 17 hingga 24 Mei 2025.

Dengan mengusung tema “Satya Karsa Ngrajegang Tamblingan Buana”, kegiatan ini secara filosofis mencerminkan tekad dan komitmen untuk menjaga serta melestarikan kelestarian alam dan budaya Tamblingan secara berkelanjutan.

Kawasan adat Dalem Tamblingan mencakup wilayah empat desa yang tergabung dalam Catur Desa Adat Tamblingan, yakni Desa Munduk, Gobleg, Umajero, dan Gesing.

Pengembaraan ini diketuai oleh Widya Putri Febriyanti, dan terdiri atas 9 anggota muda yaitu: Dwi Achmad Hamdani, Felisha Alika Putri, Firda Mira Sakin, Immanuella A. Arumdapta, Maidafa Kurnia, Mutia Hafidz, Rachma Lovenda Harun, Rafael Multi Rizky. Selain mereka ikut pula 2 anggota biasa yaitu Dika Akmalul Azzam dan Saiyan.

Fokus utama penggembaraan ini adalah melakukan penelitian partisipatif bertajuk: “Peran Pengetahuan Tradisional Masyarakat Adat Tamblingan dalam Menjaga Alam sebagai Solusi Menghadapi Triple Planetary Crisis: Studi Kasus di Catur Desa Adat Tamblingan”.

Tema ini dipilih sebagai respon terhadap tantangan global saat ini, yakni Triple Planetary Crisis krisis iklim, pencemaran lingkungan, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang semakin nyata dampaknya terhadap kehidupan masyarakat di berbagai belahan dunia, termasuk di wilayah pegunungan tropis seperti Tamblingan.

Dalam pelaksanaannya, para peserta melakukan interaksi langsung dengan masyarakat adat, tokoh spiritual, pemangku adat, dan petani hutan lokal untuk menggali praktik-praktik lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun dan terbukti menjaga ekosistem hutan, danau, serta wilayah spiritual Tamblingan.

Beberapa sistem adat yang diteliti secara mendalam meliputi awig-awig alas (aturan adat hutan), larangan pengambilan hasil hutan tanpa ritual, sistem rotasi pemanfaatan sumber air, serta filosofi lokal tentang hubungan manusia dengan alam melalui ajaran Tri Hita Karana.

Seluruh kegiatan dirancang menggunakan pendekatan etnografi partisipatif, termasuk wawancara mendalam, observasi budaya, serta pemetaan lokasi-lokasi sakral dan konservasi di sekitar kawasan Danau Tamblingan.

Peserta juga melakukan dokumentasi audio-visual terhadap narasi adat yang hidup di masyarakat, termasuk prosesi upacara di pelinggih-pelinggih hutan dan danau, sebagai bagian dari pelestarian memori kolektif dan pengetahuan lokal yang kian terancam oleh modernisasi.

Salah satu temuan penting dari kegiatan ini adalah adanya sistem larangan kolektif terhadap eksploitasi kawasan hutan dan danau tanpa musyawarah adat, serta pentingnya Pura Dalem Tamblingan dan Pura Ulun Danu Tamblingan sebagai simbol perlindungan ekologis yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat desa.

Pengetahuan ini tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga berperan nyata dalam pengendalian kerusakan lingkungan secara efektif selama berabad-abad.

Para peserta juga turut melakukan tracking kawasan hutan hujan tropis di lereng Tamblingan untuk mengamati langsung kondisi vegetasi, tutupan hutan, serta ancaman dari perubahan tata guna lahan. Data-data ini akan diolah menjadi laporan ilmiah yang diharapkan dapat memberikan kontribusi pada pendekatan konservasi berbasis komunitas dan budaya dalam kerangka akademik Impala UB.

Lebih dari sekadar penelitian, kegiatan penggembaraan ini juga menjadi wahana pendidikan karakter dan pembentukan nilai bagi anggota muda. Hidup berdampingan dengan masyarakat adat, merasakan langsung ritme alam yang diatur oleh adat, serta menyadari keterbatasan manusia di hadapan kekuatan alam menjadi pengalaman transformatif yang memperkuat nilai-nilai dasar kepecintaalaman: keberanian, kerendahan hati, dan pengabdian.

Jaga Alam di Tanah Dewata, Impala UB dan Brasti Lakukan Aksi Clean-Up di Gunung Lesung

Kegiatan ini diakhiri dengan refleksi bersama masyarakat di Bale Banjar Desa Munduk, serta penyerahan simbolis laporan awal hasil riset kepada perwakilan desa adat sebagai bentuk penghormatan dan pertanggungjawaban etis.

Dalam penutupan, ketua tim Widya Putri Febriyanti menyampaikan harapannya agar kegiatan ini dapat menjadi awal dari hubungan jangka panjang antara Impala UB dan masyarakat adat Tamblingan dalam membangun sinergi konservasi berbasis kearifan lokal.

Widya juga mengatakan, melalui “Satya Karsa Ngrajegang Tamblingan Buana”, Impala UB tidak hanya menegaskan perannya dalam pelestarian lingkungan, tetapi juga menempatkan masyarakat adat sebagai subjek utama dalam pencarian solusi atas krisis planet.

“Di Tamblingan, alam dan budaya berjalan beriringan, dan dari sana, generasi muda belajar bahwa menjaga bumi bukan sekadar aksi, melainkan sebuah jalan hidup,” pungkasnya. (*).

Kontributor || Humas Impala UB
Editor || Nindya Seva Kusmaningsih, WI 160009

Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Impala UB Lakukan Pengembaraan ke Desa Adat Tamblingan Bali, Tujuannya Memahami Peran Kearifan Sebagai Solusi Krisis Planet
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us