1. News
  2. Mojok
  3. Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

nasib-ironis-pulau-buton,-penghasil-aspal-tapi-kualitas-jalannya-begitu-buruk
Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk

Saya tidak tahu apa yang terbayang di pikiran orang Jawa ketika mendengar kata “Buton”? Terbayang Ari Kriting ya? Atau Raim Laode? Sah-sah saja sih, mereka berdua memang asli dari Buton. Tapi, ada sesuatu yang harusnya lebih terkenal dari dua stand up comedian tersebut. Yaitu, Aspal Buton.

Jangan salah, Aspal Buton bukan nama komedian ya, melainkan barang berharga yang terkandung di dalam tanah Buton.

Eh, tapi orang Jawa tahu Buton di mana?

Papua? Bukan, Buton jauh dari Papua. Buton merupakan pulau yang terletak di Sulawesi Tenggara. Dan masyarakatnya dikenal sebagai Orang Buton. Pulau Buton memiliki kota yang barangkali banyak dikenal orang Jawa, yaitu Baubau. Dan pada hari ini, Buton menjadi kabupaten tersendiri dengan ibu kotanya berada di Pasar Wajo. Jaraknya bersebelahan dengan Kota Baubau.

Nah, Buton inilah menjadi satu-satunya daerah penghasil aspal di Indonesia. Bahkan merupakan salah satu daerah yang memiliki cadangan aspal alam terbesar di dunia.

Orang-orang Jawa pasti banyak yang belum tahu bahwa jalanan mulus yang mereka lalui dengan kendaraan maupun berjalan kaki di daerah mereka itu aspalnya bisa jadi dikirim dari Buton. Namun yang membuat miris hati orang Buton, sekalipun Buton merupakan produsen aspal terbesar di dunia, masih banyak jalanan di Buton yang belum tersentuh aspal.

Masih banyak jalanan yang berupa tanah bercampur batu yang jika bus dan mobil lewat debunya berterbangan ke mana-mana.

Jalan berbatu, ujian orang Buton

Jalanan yang berbatu ini sangat menghambat perjalanan masyarakat Buton. Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sejam dua jam bisa molor sampai empat jam. Roda motor juga mudah kempis dan pecah kalau melalui medan berbatu seperti itu. Belum lagi kalau hujan mengguyur berjam-jam. Tanah menjadi becek dan berlumpur. Bisa stres orang-orang yang melalui jalan-jalan itu.

Selain itu, masih banyak juga jalanan yang beraspal tapi lapisan aspalnya tipisnya masyaallah. Dua tahunan setelah pengaspalan, tanah dan bebatuannya tampak kembali.

Sering pula saya saksikan perbaikan jalan hanya menambal bagian-bagian jalan yang berlubang. Akhirnya ketika selesai “penambalan”, jalanan menjadi tidak rata. Dan terlihat belang-belang. Kadang, saya berpikir “Kenapa tidak sekalian saja diaspal semuanya, kenapa harus ditambal? Yang punya aspal kan kita?”

Meskipun demikian, tetap sebagai warga saya berterima kasih kepada pemerintah setempat sudah mau memperbaiki jalanan yang rusak di beberapa bagian.

Namun, belum selesai jalanan berlubang dan belum beraspal muncul lagi isu hilirisasi aspal Buton.

Mei lalu masyarakat Buton dibuat jengkel dan marah. Pasalnya, masyarakat mendapat kabar adanya pembangunan pusat industri pengolahan aspal di Karawang, Jawa Barat. Dan pengolahan aspal itu ya menggunakan aspal Buton. Rakyat Buton termasuk para mahasiswa turun ke jalan untuk berdemo. Sebagian lagi menyuarakan kekesalannya melalui media sosial. Emak-emak juga tidak ketinggalan mengomel melalui FB Pro.

Mereka satu suara, menolak pembangunan pusat industri pengolahan aspal buton di Karawang, Jawa Barat.

Tidak hanya rakyat jelata, Sultan Buton pun mengirimkan surat kepada Presiden Prabowo Subianto terkait isu dan polemik aspal buton ini. Sultan La Ode Muhamad Kariu meminta agar pemerintah memindahkan pusat industri hilirisasi dari Jawa Barat ke Pulau Buton sebagai daerah asal sumber daya alam tersebut.

Intinya, masyarakat Buton mendesak agar pabrik hilirisasi aspal Buton tetap dipusatkan di Buton demi kesejahteraan masyarakat setempat dan demi pemerataan ekonomi daerah.

Informasi keliru (?)

Setelah berbagai macam protes dari masyarakat Buton, saya tidak tahu apakah mendapat tanggapan dari Pak Presiden. Beruntung di saat-saat genting itu, Alvin Akawijaya Putra yang tidak lain adalah Bupati Buton yang masih muda dan lajang itu muncul ke permukaan. Kata putra dari Ali Mazi, mantan gubernur Sulawesi Tenggara sebelumnya itu, tidak ada pembangunan pabrik hilirisasi Aspal Buton di Karawang. Itu tidak benar adanya, kata beliau lagi.

Beliau memastikan bahwa informasi yang tersebar merupakan informasi yang kelirutidak benar, alias hoaks. Bupati Alvin menjelaskan bahwa proyek di Jawa Barat itu hanyalah program pengaspalan jalan tol yang menggunakan aspal buton, bukan pembangunan pabrik.

Wallahu a’lam benar atau tidak. Tapi, sebagai bagian dari warga Buton, kita berharap informasi yang disampaikan Pak Bupati benar adanya. Kita juga berharap, jalan-jalan di Buton menjadi jalan dengan kualitas terbaik. Yah kalau bukan terbaik di Indonesia, minimal terbaik di Pulau Sulawesi lah. Semoga ya.

Tapi hati kecil saja berbisik. Hey, Papua itu punya gunung emas, apa otomatis mereka memakai kalung emas dan jalanannya berlapis emas? Ah, itu lagi.

Penulis: Mahardy Purnama
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menguak Sekelumit Sejarah Soal Kesultanan Buton yang Nasibnya Jarang Dikenal

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Nasib Ironis Pulau Buton, Penghasil Aspal tapi Kualitas Jalannya Begitu Buruk
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us