Oleh : Fajar Setiawan.,ST.,MT
Anggota Mapala Wapalhi Semarang
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya
Wartapalaindonesia.com, EDUKASI – Saat ini kita memasuki era teknologi yang sebagian besar didominasi masyarakat milenial maupun generasi Z. Teknologi dan kemudahan akses informasi saat ini sangat merebak dan sering digunakan di era sekarang. Sehingga secara otomatis kehidupan di masyarakat, mau tidak mau harus bergerak mengikuti era tren teknologi sekarang. Generasi-generasi sebelumnya, generasi X, milenial/Y tentunya akan mengikuti era teknologi tren generasi Z saat ini.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), Generasi Z adalah generasi yang lahir antara tahun 1997 sampai 2012. Merupakan mayoritas penduduk Indonesia yaitu sekitar 74,93 juta, atau 27,94% populasi di Indonesia. Sedangkan generasi milinial atau Y adalah kelompok yang lahir tahun 1981-1996 sekitar 68,38 juta jiwa atau 25,87%. Generasi X, kelompok yang lahir tahun 1965-1980 sebesar 58,65 juta jiwa. Dan generasi baby boomer, yaitu kelompok yang lahir tahun 1946-1964 memiliki 31,01 juta jiwa.
Generasi Z ini mendominasi jumlah penduduk produktif di Indonesia, baik di sekolah sampai dunia kerja. Generasi Z memiliki peran penting dan pengaruh untuk renegerasi pertumbuhan kelanjutan bangsa Indonesia. Generasi Z ini nantinya menjadi penerus bangsa, sehingga diperlukan pembinaan ke depannya, baik pengetahuan maupun skill.
Lantas bagaimana manajemen organisasi khususnya kepemimpinan terhadap generasi Z di dunia kepecintaalaman?
Tentunya kita harus mengenal dahulu apa itu generasi Z. Generasi Z biasanya mereka disebut sebagai iGeneration atau Internet Generation. Gen Z hampir sama dengan Gen Y, tetapi Gen Z melakukan kegiatan seperti lebih aktif dalam media sosial di ponsel mereka. Gemar jelajah web di komputer mereka, dan mendengarkan musik di headset mereka secara bersamaan (bisa multitask). Generasi Z lebih condong bekerja secara individu dengan web dan headset mereka dibandingkan generasi sebelumya yang lebih ke kelompok dan berkolaboratif.
Kemudian, apa yang terjadi bila sebagian besar dunia berhubungan dengan internet atau online?
Generasi Z tentu sangat paham akan teknologi, karena sejak dini dan mengenal perangkat-perangkat yang memiliki kualitas tinggi, yang secara tidak langsung mempengaruhi kepribadian mereka lantaran teknologi akan menyibukkan dan menyita dunia mereka. Mereka mengenal dunia teknologi dengan memanfaatkan terbukanya informasi yang digunakan untuk belajar secara otodidak.
Bagi generasi Z, informasi dan teknologi adalah bagian dari kehidupan mereka. Karena mereka lahir di tempat akses informasi, khususnya internet yang telah menjadi budaya global yang mempengaruhi nilai, keyakinan dan tujuan hidup mereka.
Era generasi Z juga akan membawa tantangan baru bagi praktik manajemen organisasi, khususnya dalam manajemen sumber daya manusia generasi Z.
Generasi Z pada organisasi kepecintaalaman tentunya berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, dengan kebiasaan dan karakter yang dibentuk oleh lingkungan dan teknologi tadi.
Kalau pada generasi sebelumnya, lingkungan dan sistem pendidikan dasar yang diberikan menekankan kepada pressure untuk setiap materi maupun skill yang ingin diterapkan.
Untuk mendapatkan materi dan skill tidak hanya dengan teori, tetapi juga langsung dengan praktek di lapangan. Karena dunia kepecintaalaman adalah dunia lapangan. Dunia yang sangat berisiko terhadap kejadian-kejadian di luar prediksi manusia seperti bencana, kerusakan alam dan lain sebagainya. Sehingga penerapan sistem pendidikan tergolong terkenal disiplin dengan pemberian hukuman secara fisik juga apabila melanggar. Dalam istilah Mapala, “Alam tidak bisa dibuat main-main”.
Sedangkan era sekarang (era generasi Z) tentunya tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya. Mereka generasi Z dimudahkan dengan akses terbukanya informasi sehingga untuk mendapatkan materi bisa browsing lebih cepat waktunya dan akses belajarnya bisa lewat web maupun dari Youtube.
Tetapi sekali lagi, dunia kepecintaalaman tidak hanya secara teori, tetapi diperlukan praktek di lapangan juga. Sehingga perlunya seorang senior/guru yang membimbing, memberikan praktek secara materi, skill maupun atitude.
Era sekarang ini, pencarian materi maupun informasi lebih leluasa lewat dunia teknologi. Tetapi skill dan karakter tidak bisa didapatkan secara teori melalui teknologi tersebut. Apalagi sekarang ini muncul fenomena kaum generasi Z hanya berbekal informasi singkat dari internet, tanpa berbekal pengetahuan dan skill, nekad melakukan aktifitas lapangan seperti pendakian maupun kegiatan di lapangan. Padahal kegiatan di lapangan sangat ekstrem dan berisiko tinggi.
Akibatnya, banyak muncul kabar di media informasi, generasi Z yang meninggal saat mendaki gunung, rafting di sungai dan sebagainya, karena tidak mempunyai skill lapangan yang mumpuni.
Nyawa menjadi taruhan kalau hanya berbekal informasi yang singkat dari internet, tanpa adanya bimbingan dari senior/guru dalam pengetahuan, pembentukan skill maupun pengalaman.
Permasalahan inilah yang perlu dipertimbangkan dalam sistem pendidikan maupun organisasinya. Generasi kepecintaalaman era dulu dengan sekarang — terutama sumber daya manusia — memiliki perbedaan yang tak bisa disamakan, sehingga diperlukan manajemen sendiri dalam mengatur dan mengelola generasi Z.
Setelah kita mengenal generasi Z, lalu bagaimana mengatur dan mengelola generasi tersebut untuk mewujudkan cita-cita terutama di dunia kepecintaalaman?
Gaya Kepemimpinan Transformasional
Menurut George Terry (1977), Manajemen adalah suatu proses yang terdiri dari planning, organizing, actuating, dan controlling yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang ditentukan dengan menggunakan sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Dalam proses manajemen, diperlukan sosok pemimpin yang bisa membawa dan mengelola khususnya generasi Z.
Dalam buku George R Terry Principle of Management yang dikutip Dr. Kartini Kartono, kepemimpinan adalah sebuah kegiatan ataupun sebuah seni untuk mempengaruhi orang lain agar mau bekerja sama yang didasarkan kepada kemampuan yang dimiliki oleh orang itu, guna membimbing orang lain di dalam usaha mencapai berbagai tujuan yang diinginkan.
Generasi Z mempunyai karakteristik yang tentunya tidak sama dengan generasi sebelumnya. Banyak sumber penelitian menganalisis gaya kepemimpinan yang sesuai di era generasi Z pada lingkungan organisasi terutama organisasi kepecintaalaman (Mapala) adalah gaya kepemimpinan transformasional. Yang artinya seorang pemimpin yang membutuhkan perubahan/transformasi pengkondisian situasi sekarang ini, karena generasi Z mempunyai sifat, karakter dan lingkungan sekitar yang berbeda.
Generasi lampau, mereka sudah terbiasa dengan aktifitas gerak, berkumpul, bersosialisasi dan mereka lebih resisten adaptasi terhadap perubahan dan pressure dari lingkungan. Sedangkan generasi Z karena termudahkan dengan teknologi — sehingga semua bisa didapatkan dengan sangat cepat, mudah dan instan dari internet — mereka lebih senang menutup diri, bermain gadget dan sibuk dengan kegiatannya sendiri.
Kepemimpinan menjadi salah satu kunci bagaimana memanaj organisasi, terutama organisasi kepecintaalaman. Seorang pemimpin harus bisa mengelola sumber daya manusia dalam hal ini adalah generasi Z, terutama untuk mewujudkan tujuan organisasinya.
Oleh karena, itu seorang pemimpin pada generasi Z harus memahami karakter dari yang dipimpin. Tidak boleh sedikit pun terlalu memaksakan ataupun membuat tidak nyaman pada generasi Z karena beberapa pertimbangan di atas.

Dahulu generasi kepecintaalaman masih minim gadget, sehingga sering kumpul memanfaatkan waktu untuk berbagi informasi maupun pengalaman. tetapi sekarang, tren generasi Z cenderung menyendiri dan meyibukkan diri dengan gadget, sehingga mereka kurang bisa bercengkraman antar satu sama lain, yang pastinya mengurangi solidaritas dan kekompakan organisasi.
Menurut Peramesti & Kusmana, 2018, karakter generasi Z dibanding generasi pendahulunya ada beberapa perbedaan, di antaranya:
- Kemampuan memecahkan masalah secara kompleks. Kemampuan ini datang secara alami melalui usaha dan pengalaman hidup. Kecenderungan generasi Z dalam bekerja secara individu, kurang mampu menyelesaikan masalah secara bersama-sama.
- Berpikir kritis. Kemampuan untuk berpikir jernih dan menyeluruh tentang suatu subjek dan membuat penilaian logis. Kecenderungan generasi Z ini lebih ke penilaian obyektif, mereka lebih menilai sesuatu secara perasaan, atau istilah sekarang “baper”, bawa perasaan.
- Kreativitas. Organisasi ingin tim mereka menerapkan ide-ide baru dan think out the box (berpikir di luar kotak). Agar lebih kompetitif dan memberikan sesuatu yang baru yang membedakan mereka dari yang lain.
Manajemen sumber daya manusia. Manajemen bakat adalah salah satu keterampilan kunci untuk belajar menjadi sukses. Karena setiap pemimpin membutuhkan tim untuk mencapai tujuan mereka. Kesuksesan tim dicapai ketika para pemimpin memiliki keterampilan manajemen. Kalau gen lama, mereka bisa bereksplorasi dan mengasah bakat, tetapi kecenderungan generasi Z, mereka jarang mengasah bakatnya.
Menurut Hutahean (2021), ada 3 teori yang menjelaskan munculnya kepemimpinan saat ini. Antara lain :
- Teori Genetis, menyatakan sebagai berikut:
- Pemimpin lahir oleh kemampuan alami yang istimewa sejak lahir
- Secara khusus mempunyai takdir menjadi pemimpin dalam berbagai situasi dan kondisi.
- Secara filsafat, teori tersebut menganut pandangan deterministis.
- Teori Sosial (lawan Teori Genetis) menyatakan sebagai berikut.
- Pemimpin tidak lahir begitu saja, melainkan harus disiapkan, dididik, dan dibentuk
- Setiap orang bisa menjadi pemimpin melalui usaha serta didorong oleh kemauan sendiri.
Teori Ekologis/Sintetik mengutarakan bahwa seseorang berhasil menjadi pemimpin jika memiliki kualitas kepemimpinan dan ketrampilan. Teori ini juga telah dikembangkan melalui pengalaman dan pendidikan sesuai dengan persyaratan lingkungan atau ekologis
Sehingga seorang pemimpin yang cocok apabila menggunakan teori Hutahean (2021), adalah Kepemimpinan lahir dari teori ekologis/sintetik mengikuti lingkungan atau ekologis kondisi saat ini. Karena tentunya sangat berbeda era yang dipimpin generasi Z saat ini.
Sedangkan untuk Gaya Kepemimpinan, dalam penelitian (Hardian & Hermawan, 2022), ada 4 jenis yaitu:
- Gaya kepemimpinan kharismatik.
- Gaya kepemimpinan transaksional.
- Gaya kepemimpinan transformasional.
- Gaya kepemimpinan visioner.
Gaya kepemimpinan yang ideal untuk generasi Z menurut banyak penelitian, salah satunya adalah gaya kepemimpinan transformasional. Ini telah dibuktikan melalui beberapa penelitian terdahulu. Seperti menurut Hardian & Hermawan (2022) pemimpin dalam organisasi dapat menerapkan gaya kepemimpinan transformasional dengan memberikan contoh ketauladanan dalam tindakan, mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari yang dipimpin, menumbuhkan kebanggaan dan menghadirkan tujuan yang menarik dan menginspirasi mereka, memotivasi, tidak boleh menggurui maupun merendahkan.
Gaya transformasional ini harus adaptasi terhadap perubahan zaman maupun karakter generasi saat ini. Zaman dahulu generasi lebih mudah diatur dan di-pressure dengan target tujuan cepat tercapai. Tetapi untuk generasi saat ini tentunya berbeda. Harus lebih hati-hati karena generasi sekarang terbiasa dengan teknologi sehingga nuansa individu sangat melekat.
Menurut Pratama & Elistia (2020) kepemimpinan dengan gaya transforimasional berpengaruh positif terhadap generasi Z. Sedangkan penelitian Irena & Rusfian (2019) generasi Z pantas dipimpin menggunakan gaya kepemimpinan yang transformasional. Pemimpin harus paham akan keunikan generasi Z dalam membantu seseorang mengenali kemampuan dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan, terutama mengenai kebutuhan mereka.
Menjadi pemimpin yang baik bagi generasi Z saat ini dan masa depan merupakan tantangan yang besar. Namun, tantangan tersebut bisa dilalui dengan semangat kepemimpinan bagi generasi Z saat ini. Pemimpin harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Pemimpin harus mempunyai tingkat sosialisasi yang tinggi dan kemauan untuk membantu orang lain dengan tidak diskriminasi (Mustomi & Reptiningsih, 2020). Gaya kepemimpinan generasi Z tidak sama dengan model kepemimpinan yang lama, karena terdapat perubahan baik secara sumber daya manusia maupun lingkungan.
Pemimpin transformasional menetapkan standar etika untuk operasi mereka, untuk mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari tim mereka, menginspirasi kebanggaan, dan menyajikan visi yang melibatkan dan menginspirasi tim mereka. Serta mampu mengakomodir tim yang didominasi oleh generasi Z dengan berbagai karakter dan tantangan kemajuan teknologi.
Pemimpin memiliki tugas untuk terlibat dalam kegiatan pengendalian untuk memastikan bahwa upaya mereka untuk mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap, dan perilaku anggotanya konsisten dengan tujuan organisasi (Shalahuddin, 2016).
Secara umum, model kepemimpinan transformasional berorientasi pada perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah mengidentifikasi perubahan yang ada, mengembangkan visi sebagai pendukung, dan melaksanakan rencana perubahan (Irena & Rusfian, 2019).
Organisasi kepecintaalaman membutuhkan pemimpin yang dapat menggerakkan organisasi yang dipimpinnya untuk maju, berkembang, dan mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik, terutama pengendalian karakter generasi Z, yang menurut penelitian lebih cenderung “baper”. Sehingga pemimpin harus tahu kondisi saat anggota memiliki mood baik atau tidak.
Gaya kepemimpinan yang harus diterapkan seorang pemimpin pada organisasinya bergantung pada anggotanya sendiri. Seorang generasi Z membutuhkan pemimpin yang dapat mereka kenal dan menginspirasi untuk mencapai tujuan (Irena & Rusfian, 2019).
Menurut Hardian & Hermawan (2022) pemimpin transformasional dipandang sebagai model kepemimpinan efektif. Pemimpin yang dapat mendorong semangat, menghasilkan nilai-nilai, kepercayaan, dan dapat memenuhi kebutuhkan timnya dalam situasi apapun merupakan kepemimpinan transformasional (Pratama & Elistia, 2020).
Hasil penelitian (Hardian & Hermawan, 2022) membuktikan gaya transformasional merupakan gaya kepemimpinan yang efektif pada generasi Z. Karena kepemimpinan transformasional bermanfaat meningkatkan semangat, kinerja dan partisipasi organisasi dalam organisasi publik, bisnis dan sosial dalam hal ini organisasi kepecintaalaman.
Generasi Z juga mempunyai akses dan mempercayai teknologi, HP, dan jalur informasi acak. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang rajin membaca cerita di buku cetak. Generasi Z menyenangi dunia internet, apalagi dengan informasi yang lebih banyak bertebaran dalam bentuk visual dan gambar, sehingga mereka banyak menghabiskan waktu seharian dengan teknologi tersebut.
Sehingga ditinjau dari teori kepemimpinan dari berbagai penelitian, gaya kepemimpinan yang tepat untuk era sekarang, yang efektif memiliki dampak besar pada produktivitas dan bisa adaptasi terhadap kondisi zaman sekarang adalah gaya kepemimpinan transformasional.
Gaya kepemimpinan lampau yang biasanya lebih ke otoriter, harus dilakukan perubahan dengan gaya transformasi, karena melihat kondisi lingkungan maupun kualitas generasi Z. Hal ini berguna untuk meningkatkan semangat, efisiensi, produktifitas, dan bisa merangkul generasi Z sehingga terbentuk loyalitas organisasi.
Tidak boleh lagi ada pressure atau tekanan dalam memimpin generasi Z. Pemimpin harus bisa membimbing dan memotivasi tim untuk menggerakkan roda organisasi khususnya kepecintaalaman dan bisa mencapai visi kepecintaalaman. Dan akhirnya pemimpin dapat mempertahankan visi lingkungan. Terutama visi membangun karakter lingkungan yang tertuang dalam Kode Etik Pecinta Alam :
- Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa alam beserta isinya adalah ciptaan Yang Maha Esa.
- Pecinta Alam sebagai bagian dari masyarakat Indonesia sadar akan tanggung jawab kepada Tuhan, Bangsa, dan Tanah Air.
3)Pecinta Alam Indonesia sadar bahwa segenap pecinta alam adalah saudara, sebagai makhuk yang mencintai alam sebagai anugerah Tuhan Tang Maha Esa.
Selain pemimpin harus bisa membawa visi kepecintaalaman, pemimpin harus bisa membawa generasi Z lebih baik, yaitu baik secara pengetahuan, skill maupun attitude. Sehinga diharapkan bisa mewujudkan Indonesia ke depan yang mempunyai visi Indonesia emas 2045.
Generasi Z tidak hanya menikmati alam, tetapi juga ikut merawat, memelihara serta melestarikan lingkungan sesuai Kode Etik Pecinta Alam. Lebih tanggung jawab, serta bisa bersaing dengan negara-negara maju, dan dapat membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik.
Kesimpulan
Jadi kesimpulannya, dengan menarik pendapat dari berbagai penelitian dan studi lapangan yang penulis lakukan selama lebih dari 20 tahun, diperlukan perubahan dalam hal kepemimpinan organisasi khususnya organisasi kepecintaalaman.
Pemimpin harus memahami apa itu generasi Z. Kemudian bagaimana mengatur dan mengelola generasi Z dengan berbagai karakter dan tantangan teknologi. Dan yang terakhir diperlukan seorang pemimpin yang bisa mewujudkan cita cita kepecintaalaman yang tercantum dalam Kode Etik Pecinta Alam, dan membawa visi Indonesia emas 2045. Karena mereka dari generasi Z inilah yang meneruskan dan memimpin Indonesia selanjutnya. (*)
Editor || Ahyar Stone, WI 21021 AB
Daftar Pustaka :
Ekowati, M. F. (2022). Kepemimpinan Ridwan Kamil Di Era Milenial Kota Bandung .https://www.researchgate.net/profile/MeisyaEkowati/publication/361466143_KEPEMIMPINAN_RIDWAN_KAMIL_DI_ERA_MILENIAL_KOTA_BANDUNG/links/62b322add49f803365b17a1c/KEPEMIMPINAN-RIDWAN-KAMIL-DIERA-MILENIAL-KOTA-BANDUNG.pdf
Data sensus BPS, 29 agustus 2023 https://data.goodstats.id/statistic/sensus-bps-saat-ini-indonesia-didominasi-oleh-gen-z-n9kqv
Hardian, V., & Hermawan, E. (2022). Gaya Kepemimpinan Transformatif. (1), 32–38.
Hasnawati, Sapiri, M., & Ruslan, M. (2021). Hidayat, F. ., & Selvia. (2022). Peran Generasi Milenial Dan Generasi Z Dalam Menghadapi Persaingan Global Di Era 5.0. 22–25.
Hutaheean, W. S. (2021). Filsafat dan Teori Kepemimpinan.pdf. In (p. 130). Irena, L., & Rusfian, E. Z. (2019). Hubungan Gaya Kepemimpinan Transformasional Dan Komunikasi Internal Dengan Kinerja tim Generasi Z Pada Tech Company., 223. https://doi.org/10.24912/jk.v11i2.5635 KKP, R. (2017).
Kartino, Kartini (2003), Pemimpin dan kepemimpinan (Apakah kepemimpinan abnormal itu) PT Raja Grafindo Persada, Jakarta
Makalah Kepemimpinan “Konsep Kepemimpinan.” 1–12. http://blog.ub.ac.id/anikrotul/files/2013/03/MAKALAH- SIM-FIX-1.docx
Mustomi, D., & Reptiningsih, E. (2020). Gaya Kepemimpinan Dalam Perspektif Generasi Millenial. (1), 189–199. https://doi.org/https://doi.org/10.31955/mea.vol4.iss1.pp189-199
Peramesti, N. P. D. Y., & Kusmana, D. (2018). Kepemimpinan Ideal Pada Era Generasi Milenial. 73–84. https://doi.org/10.33701/jt.v10i1.413
Pratama, G., & Elistia, E. (2020). Analisis motivasi kerja kepemimpinan transformasional. (2), 144–152.
Putra, Y. S. (2016). Teori Perbedaan Generasi. (1952), 123–134.
Saputro, R. A. (2022). Gaya Kepemimpinan Yang Ideal Untuk Generasi Milineal. 1), 212. https://doi.org/10.20961/shes.v5i1.57799
Shalahuddin. (2016). Karakteristik Kepemimpinan Dalam. 2), 171–188.
Kirim tulisan Anda untuk diterbitkan di portal berita Pencinta Alam www.wartapalaindonesia.com || Ke alamat email redaksi Wartapala Indonesia di wartapala.redaksi@gmail.com || Informasi lebih lanjut : 081333550080 (WA)