1. News
  2. Kombitainment
  3. Para Pelaku Industri Musik Berbagi Cerita di Jakarta Music Con 2025

Para Pelaku Industri Musik Berbagi Cerita di Jakarta Music Con 2025

para-pelaku-industri-musik-berbagi-cerita-di-jakarta-music-con-2025
Para Pelaku Industri Musik Berbagi Cerita di Jakarta Music Con 2025

Jakarta Music Con (JMC) sukses berlangsung tanggal 11 dan 12 Oktober 2025 di The Dome dan Outdoor Area, Senayan Park, Jakarta Pusat. Acara yang dipersembahkan Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) Republik Indonesia bersama Antara Suara dan Kinnara ini menghadirkan talkshow, jualan merchandise, dan pertunjukan musik.

Talkshow JMC terbagi menjadi Bicara Musik dan Bisik Musik. Bicara Musik diadakan percis di The Dome Senayan Park. Mereka yang hadir menjadi speaker dan moderator adalah Wakil Menteri Kemenkebud Giring Ganesha, Adit Insomnia, Rafi Sudirman, Billy Dewanda, Gerhana Banyubiru, Ferry Dermawan, Sade Susanto, Gemat (Sailormoney), Monica Karina, Canti Tachril, Sarra Tobing, Dian Tamara, Djali, Moses S., Alessandra Langit, Muara Sipahutar, Sarah Deshita, Aco Tenri, Tiara Dianita, Dimasz Joey, Faris Adam, Kanya Belfa, Sahila, Akbarry Noor, Adryanto Pratono (Boim), Ririe Cholid, White Chorus, Soleh Solihun, Vincent Rompies, Sal Priadi, dan Haris Franky.

Bisik Musik yang terletak di booth dekat pintu masuk Pasar Musik menampilkan speaker dan moderator seperti Bayu Perkasa, Adam Imaduddin, Andi Arya Dwi Putra, Gian Hashemi, Franki Indrasmoro, Aria Baja, Rara Pratiwi, Bobby Pistar Sinaga, Eko Trafsilo, Rizkabum, Lawrence Philip, Helvy Sjafrudin, Sir Dandy, Roy Kumar, Jovy Akbar, Eric Wirjanata, Naber, Arie Dagienkz, dan Fadli Rizki.

Pasar Musik hasil kerja sama JMC dengan Merch-making Market menjadi area kunjungan yang tak sepi dari transaksi setiap harinya. Sejumlah tenant yang berpartisipasi Antara Suara, BAALE, Pure Evil Merchandise, Pophariini Store, Kios Ojo Keos, Toko Brandals, Skandal Music Merchandise, PLP, GSS Entertainment, MCL (Pamungkas Merch), Setengah Lim/Art, Gedung 4 Records, Teenage Death Store, dan masih banyak lagi.

Terakhir, Panggung Musik menampilkan musisi-musisi hasil kurasi penyelenggara yang bekerja sama dengan TuneCore Indonesia. Mereka yang tampil bergantian selama dua hari yaitu Jaguank, Gabriella Fernaldi, Kabar Burung, Vvynd, Satu Per Empat, Akaracita, Madmax, Normatif, sub:shaman, dan Swellow.

Hari Pertama Jakarta Music Con 2025

Sebelum mengisi talkshow Selayang Pandang Konferensi Musik Indonesia, Wakil Menteri Kemenkebud Giring Ganesha sempat mengunjungi beberapa tenant di Pasar Musik dan menyaksikan penampilan dari grup musik etnik asal Sumatra Barat, Jaguank.

Dari sejumlah topik yang disajikan Bicara Musik, Pophariini mampir untuk menyimak sesi kedua Brand X Band: Where Music, Stories, and Collaboration Converge persembahan Localfest. Sesi ini dipandu Billy Dewanda selaku Content Manager & Producer Localfest untuk mendengarkan kisah penyanyi-penulis lagu, produser, musisi, sekaligus aktor, Rafi Sudirman.

Rafi Sudirman dan Billy Dewanda di Jakarta Music Con 2025 / Dok. Pohan

Rafi bersemangat membagikan cerita perjalanan bermusiknya ke para peserta talkshow, antara lain momen kemenangan di AMI Awards yang menjadi trigger untuk serius bermusik dan album Hari Ini, Esok & Selamanya yang resmi beredar akhir September 2025 ternyata saksi ia belajar menciptakan lirik bahasa Indonesia.

Topik kedua yang kami simak di hari pertama, From Backstage to Onstage: Entering the Festival Ecosystem persembahan APMI menghadirkan Ferry Dermawan (Joyland Festival/Plainsong Live) dan Gerhana Banyubiru (The Sounds Project) yang dipandu Sade Susanto. Berkaitan dengan topik talkshow ini, Ferry sempat memberikan pernyataan soal infrastruktur festival musik.

“Mungkin perlu juga kasih disclaimer. Kalau sebenarnya ngomongin festival, gue yakin apa yang kita alami di sini, di Jakarta gitu ya, problemnya mungkin dibandingkan dengan teman-teman di luar Jakarta, kita tuh jauh lebih kebantu dari infrastrukturnya, persediaan vendor, dan segala macam. Juga mungkin lebih dekat dari sumber daya manusia yang udah capable, vendor-vendor segala macam. Jadi rasanya agak nggak adil gitu kalau nggak kasih credit ke teman-teman promotor yang di daerah. Karena sering banget gue dapat curhatan, apa yang kita bikin tuh kayaknya serba mudah. Ini baru bulan lalu ketemu promotor dari Manado. Dia bilang, kalau di Manado cuma ada satu vendor barikade. Kalau dalam satu weekend ada 5 acara musik, itu harus dibagi-bagi gitu. Dari situ gue membayangkan, itu baru urusan barikade aja, belum sponsor misalkan. Cuman ini jadi kayak, eh gue disini misuh, misuh, misuh, tapi di sana jauh lebih sulit. Ini juga kaitannya sama. Soalnya waktu itu kita mulai bikin event itu kan cuman karena sebagai penonton yang suka sama band. Terus pengin menghadirkan band yang kita suka di atas panggung dengan gaya eksekusi acara ala kita. Sesederhana itu sih, begitu skalanya membesar, masalahnya juga semakin membesar. Terus juga risiko-risiko rugi juga makin besar,” kata Ferry.

Sementara Gerhana Banyubiru alias Ghana saat ditanya Sade apa proses yang dilewati ketika membuat unique selling point The Sounds Project dan bagaimana prosesnya, Ghana menjawab festival itu sebenarnya personifikasi. “Saat ini di saat Sounds Project udah punya platform yang cukup besar bisa generate banyak komunitas, bisa generate banyak band juga, kita selalu fokus kepada regenerasi. Regenerasi dalam artian, setiap tahun di Sounds Project ada program volunteer, internship. Jadi gue mau melibatkan sebanyak-banyaknya anak muda supaya mereka kesadaran buat terjun ke industrinya gitu,” ungkapnya.

Di hari pertama, kami juga sempat menyaksikan VVYND yang membawakan sejumlah single dan materi baru yang belum rilis. Ia mengaku mikrofon yang dipakai mangggung malam itu baru dibeli. Single “Overload” yang rilis 9 tahun lalu pun masuk dalam setlist.

VVYND di Panggung Musik Jakarta Music Con 2025 / Dok. Pohan

Hari Kedua Jakarta Music Con 2025

Bicara Musik JMC hari kedua dibuka topik Vision into Motion: The Power of Visual Storytelling in Music bersama Sarah Deshita (We The Fest & Djakarta Warehouse Project), Aco Tenri (Director & Writer), dan Tiara Dianita (Editor-in-Chief of The Maple Media) hadir sebagai moderator.

Ketika ditanya Tiara, bagaimana kolaborasi yang ideal antara musisi dan sutradara untuk membuat sebuah video musik. Aco menjawab, ia beruntung karena mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari para musisi contohnya 3 video musik pertamanya langsung nama-nama seperti Mocca, Mondo Gascaro, dan Paul Partohap & Gitasav.

“Ketika musisinya dateng, mereka udah tau ekspetasinya. Ketika kita kolaborasi dengan Aco, pasti akan berbentuk kayak film pendek. Jadi kita udah satu visi dari awal, gak terlalu banyak bentrokan sih. Makanya, akhirnya kalau aku memilih betul kolaborator. Kalau memang mereka dari awal, kita pengen dance-dance gitu. Gak apa-apa juga, menurutku banyak videoklip yang aku suka yang full dance atau seru-seruan aja gitu. Tapi aku merasa aku gak bisa lagi bercerita dengan, aku tidak bisa men-direct dengan maksimal dengan bentuk yang seperti itu. Akhirnya musisinya harus mencari kolaborator yang tepat aja menurutku,” jelas Aco.

“Sebenarnya sama, jawabannya pasti sama. Sama seperti musik yang menemukan pasarnya sendiri, aku rasa lagu juga akan menemukan director videonya sendiri karena mungkin ada beberapa lagu yang udah kebayang kira-kira director-nya akan bagus kalau sama siapa. Kebetulan dengan cara storytelling-nya Sal, mungkin cocok dengan cara Aco juga menurunkan satu bentuk karya musik ke dalam satu bentuk visual. Tapi mungkin kalau yang lebih aneh-aneh atau secara set juga Sal sudah bayangkan. Dia biasanya mungkin ada director lain atau malah dilakukan in-house. Jadi emang at the end of the day untuk menemukan balance. Kalau tadi Acho bilang musiknya pasti tetap harus di depan. Aku rasa banyak juga yang sama kuatnya juga ya musik dan visualnya. Malah terkadang kalau tanpa visual yang dibikin oleh music video director ini malah jadi kurang keluar rasanya. Jadi sama pentingnya, equal,” tambah Sarah.

Akbarry, Adryanto Pratono, Ririe Cholid, dan White Chorus di Jakarta Music Con 2025 / Dok. Pohan

Talkshow hari kedua JMC dihiasi topik seperti “Scaling Up: Building the Next Music Icons”, “360 Musician’s Playground: Brand. Release. Rights. All in one circle.”, “Fan Power: Growing Your Music Community”, “Scaling Up: Building the Next Music Icons”, dan lainnya.

Semua sesi talkshow nyaris penuh peserta, yang menunjukkan acara seperti JMC ini mendapatkan sambutan yang baik dari berbagai pihak, tak hanya orang-orang di panggung, belakang panggung, namun sampai mengundang penggemar untuk bisa berpartisipasi langsung.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Para Pelaku Industri Musik Berbagi Cerita di Jakarta Music Con 2025
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us