1. News
  2. Adventure
  3. Pengalaman Saya Mendaki Gunung Merbabu via Selo, Cocok untuk Pemula?

Pengalaman Saya Mendaki Gunung Merbabu via Selo, Cocok untuk Pemula?

pengalaman-saya-mendaki-gunung-merbabu-via-selo,-cocok-untuk-pemula?
Pengalaman Saya Mendaki Gunung Merbabu via Selo, Cocok untuk Pemula?

Pendakian ke Gunung Merbabu via Selo sebenarnya nggak pernah masuk dalam daftar rencana akhir tahun saya. Soalnya saya ngerasa akhir-akhir ini lagi musim hujan, cuaca di atas pasti nggak karuan, dan naik gunung di kondisi kayak gitu rasanya sayang aja kalau ujung-ujungnya nggak dapet pemandangan yang maksimal.

Awalnya, rencana saya justru mau naik ke Gunung Papandayan. Mau nemenin teman kantor yang baru pertama kali nyoba naik gunung.

Tapi entah kenapa, hal-hal yang direncanakan sering kali sulit terwujud. Sampai akhirnya, di satu malam ketika saya lagi bengong sendirian di kamar, tanpa banyak mikir dan agak impulsif, saya malah daftar open trip ke Gunung Merbabu via Selo untuk tanggal 27–28 Desember kemarin.

Dan jujur saja, ini jadi salah satu keputusan random yang sama sekali nggak saya sesali. Padahal waktu itu sempat ada berita soal badai di Gunung Merbabu, bahkan ada kabar pendaki meninggal sehari sebelumnya.

Sempat Ragu Karena Berita Buruk

Setelah masuk ke grup pendakian, keraguan itu pelan-pelan muncul. Saya sempat membatin sendiri, “Ini gue nggak salah ya naik ke Merbabu di kondisi kayak gini?” Apalagi di linimasa media sosial mulai bermunculan berita yang bikin waswas.

Angin kencang dilaporkan melanda beberapa gunung. Ada pula kabar pendaki tersambar petir di jalur pendakian Gunung Merbabu via Suwanting. Belum selesai mencerna itu, muncul lagi berita pencarian korban tewas di Gunung Merapi.

Dengan jarak waktu kejadian yang saling berdekatan, semua informasi itu rasanya datang di waktu yang nggak pas.

Mempertimbangkan cuaca sebelum mendaki (gambar hanya ilustrasi)
Mempertimbangkan cuaca sebelum mendaki (gambar hanya ilustrasi)

Di tengah pikiran yang mulai ke mana-mana, saya coba menenangkan diri. Saya meyakinkan diri sendiri kalau perjalanan ini akan baik-baik saja.

Tapi di sisi lain, ada fakta yang tetap bikin pikiran nggak tenang. BMKG menyebutkan kalau puncak cuaca buruk justru diprediksi terjadi di tanggal 27 Desember, tepat di hari saya mulai pendakian.

Hari Keberangkatan ke Kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu di Boyolali

Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya berangkat juga menuju Jawa Tengah, tempat berdirinya Gunung Merbabu. Gunung dengan tinggi sekitar 3.145 mdpl ini merupakan salah satu gunung favorit pendaki yang berada di antara Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Semarang. 

Merbabu memiliki 5 jalur pendakian resmi, antara lain jalur pendakian via Selo di Kabupaten Boyolali, jalur pendakian via Cuntel dan Thekelan di Kabupaten Semarang, serta jalur pendakian via Wekas dan Suwanting di Kabupaten Magelang. 

Untuk pendakian kali ini, saya ikut open trip bersama Falisha Journey, operator yang sama seperti pendakian terakhir saya ke Gunung Kembang dan Gunung Bismo.

Suasana di area sekitar RS UKI selalu ramai oleh pendaki saat weekend
Suasana di area sekitar RS UKI selalu ramai oleh pendaki saat weekend

Keberangkatan dimulai dari RS UKI pukul 21.00 WIB malam. Rombongan saya kali ini digabung dengan peserta dari Weekend Traveler, yang kebetulan tujuan pendakiannya sama.

Singkat cerita, kami tiba di Basecamp Merbabu via Selo sekitar pukul 8 pagi. Bukannya disambut udara segar pegunungan, kami malah disuguhkan hujan disertai angin yang cukup kencang.

Di situ pikiran saya langsung ke mana-mana. Dalam hati saya sempat mikir, “Wah, jangan-jangan gagal naik gunung nih gue.”

Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat dulu. Sarapan, repacking, dan menunggu hujan benar-benar reda sebelum pendakian dimulai.

Akhirnya Naik Juga, Begini Jalur Pendakian Gunung Merbabu via Selo

Berfoto di depan gerbang pendakian Gunung Merbabu via Selo
Berfoto di depan gerbang pendakian Gunung Merbabu via Selo

Setelah semua persiapan selesai dan hujan mulai mereda, nggak ada lagi alasan buat menunda. Dari Basecamp Selo, perjalanan pendakian akhirnya benar-benar dimulai sekitar pukul 10.30 WIB.

Rombongan kami saat itu berjumlah sembilan orang. Pendakian dipandu oleh Mas Fani, bersama Mas Rizki yang sudah lebih dulu berada di atas karena memandu rombongan lain sehari sebelumnya.

Jadi secara teknis, kami sudah cukup tenang karena jalur dan kondisi lapangan bukan hal baru buat mereka.

Total waktu yang saya tempuh untuk mencapai Pos 4 Sabana 1 sekitar 4,5 – 5 jam, dengan rincian jalur yang akan saya jelaskan sebagai berikut:

Pos Simaksi

Foto di depan pos simaksi Taman Nasional Gunung Merbabu jalur Selo
Foto di depan pos simaksi Taman Nasional Gunung Merbabu jalur Selo

Pendakian dimulai lewat jalan makadam yang kemudian berubah jadi jalur tanah dengan kontur masih relatif landai. Dari Pos Simaksi menuju Pos 1, jalurnya terasa panjang dengan pola yang berulang yakni datar sebentar, lalu menanjak, kemudian datar lagi, begitu seterusnya.

Kalau harus dibandingkan, karakter jalurnya sedikit mengingatkan saya pada jalur Gunung Gede-Pangrango via Cibodas. Bedanya, di Merbabu jalurnya lebih didominasi tanah, yang terasa licin di beberapa titik karena kondisi masih basah.

Pos 1 Dok Malang

Pos 1 Dok Malang, jalur pendakian Merbabu via Selo
Pos 1 Dok Malang, jalur pendakian Merbabu via Selo

Waktu yang kami tempuh untuk mencapai Pos 1 sekitar 70 menit, lebih cepat sekitar 20 menit dari estimasi normal 90 menit. Saat briefing di Basecamp, Mas Fani sempat menyampaikan bahwa Pos 1 ini bisa jadi titik evaluasi. Kalau ada yang merasa tidak kuat atau ingin menyerah, sebaiknya diputuskan di sini.

Alasannya sederhana, setelah Pos 1 jarak antarpos semakin jauh dan otomatis makin menjauh dari Basecamp maupun Pos Simaksi.

Di Pos 1 ini kami juga bertemu Mas Rizki, yang kemudian memberikan estafet handy talky kepada saya untuk memudahkan komunikasi dengan Mas Fani di belakang.

Sejak titik ini, rombongan terbagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama di depan terdiri dari saya, Isra, dan Faiz. Kelompok kedua diisi peserta asal Jawa Tengah, yaitu Baskoro, Alwi, Iqsal, dan Idam.

Sementara kelompok ketiga sebagai sweeper dipandu langsung oleh Mas Fani dan Mas Rizki, menemani Indry dan Shila di belakang.

Simpang Macan

Tenang tanpa sinyal, Pos Simpang Macan
Tenang tanpa sinyal, Pos Simpang Macan

Sekitar 27 menit berjalan dari Pos 1, saya dan Isra tiba di Simpang Macan. Area ini berupa lahan kecil yang cukup datar dan tertutup pepohonan, cocok dijadikan tempat istirahat sejenak.

Menuju Simpang Macan, tanjakannya sudah mulai terasa menantang, terutama buat yang membawa carrier cukup berat. Meski begitu, jalurnya masih belum securam tanjakan-tanjakan di pos berikutnya.

Pos 2 Pandean

Pos 2 Pandean di Gunung Merbabu
Pos 2 Pandean di Gunung Merbabu

Sekitar pukul 13.03 WIB, saya dan Isra tiba di Pos 2 Pandean, disusul oleh tim kedua tak lama setelahnya. Di sini kami beristirahat agak lama karena sekalian makan siang dan mengisi tenaga.

Pos 2 Pandean dilengkapi shelter yang bisa digunakan pendaki untuk beristirahat, atau jadi area darurat untuk berlindung saat cuaca memburuk. Waktu tempuh dari Simpang Macan menuju Pos 2 sekitar 53 menit.

Pos 3 Batu Tulis

Kedatangan kami di Pos 3 Batu Tulis disambut angin kencang
Kedatangan kami di Pos 3 Batu Tulis disambut angin kencang

Selesai istirahat dan makan siang, kami kembali melanjutkan pendakian menuju Pos 3. Perjalanan dimulai pukul 13.34 WIB dan tiba sekitar pukul 14.14 WIB, dengan waktu tempuh kurang lebih 40 menit.

Jalur menuju Pos 3 sudah mulai menanjak cukup tegak, meski belum setegak tanjakan setelahnya. Ya lumayan lah ya, tenaga yang baru saja diisi saat makan siang langsung terkuras lagi, hahaha…

Saat saya tiba di Pos 3, kondisi cuaca mulai memburuk. Angin bertiup kencang dengan suhu dingin yang cukup menusuk. Pos 3 Batu Tulis sendiri merupakan salah satu titik yang biasa digunakan para pendaki untuk mendirikan tenda, selain Pos 4 Sabana 1 dan Pos 5 Sabana 2.

Karena kondisi angin dan suhu yang tidak bersahabat, saya dan Isra memutuskan untuk tidak berlama-lama di Pos 3 dan langsung melanjutkan perjalanan ke Pos 4. Terlalu lama diam justru berisiko bikin badan makin dingin.

Pos 4 Sabana 1

Pos 4 Sabana 1 menjadi tempat kami mendirikan tenda
Pos 4 Sabana 1 menjadi tempat kami mendirikan tenda

Buat saya pribadi, rute menuju Pos 4 Sabana 1 menjadi awal dari trek tersulit selama pendakian Merbabu via Selo. Jalurnya tegak dan cukup terjal, dengan pijakan tanah yang licin ditambah terpaan angin kencang yang lumayan menguji mental.

Dengan modal semangat dan bayangan hangatnya tenda, saya dan Isra akhirnya tiba di Pos 4 tepat pukul 15.30 WIB. Kalau dihitung, waktu tempuhnya sekitar 70 menit.

Sesampainya di area camp, kami langsung menuju tenda. Di dalamnya ternyata sudah ada Faiz yang tiba sekitar 30 menit lebih dulu. Tak lama berselang, tim kedua dan tim sweeper akhirnya menyusul dan tiba di area camp.

Cuaca Cerah, Gaskeun Summit Attack ke Puncak Merbabu

Istirahat di dalam tenda sambil berharap badai di Gunung Merbabu cepat reda
Istirahat di dalam tenda sambil berharap badai di Gunung Merbabu cepat reda

Cuaca di Pos 4 Sabana 1 sejak siang sampai malam benar-benar nggak bersahabat. Angin bertiup kencang dan suhu terasa menusuk, bisa dibilang, kami lagi kena badai. Suaranya serem, kadang terdengar seperti deburan ombak, kadang mirip bunyi teko air yang lagi mendidih, tapi versi jauh lebih nyaring dan nggak berhenti-berhenti.

Di kondisi seperti itu, jujur saja saya sudah mulai pasrah. Dalam hati saya mikir, kemungkinan besar dini hari nanti cuaca masih belum kondusif. Lagipula, saya juga sudah pernah menginjak puncak Gunung Merbabu beberapa tahun lalu lewat jalur Suwanting. Jadi kalaupun kali ini gagal summit karena cuaca, rasanya nggak sampai bikin kecewa berat.

Tapi alam memang kadang suka bercanda. Tepat sekitar pukul 12 malam, suasana di sekitar Taman Nasional Gunung Merbabu mendadak hening. Angin berhenti, hujan nggak turun, dan ketika saya coba mengintip keluar tenda, langit terlihat cerah dengan bintang-bintang bertebaran di atas kepala. Di situ saya cuma bisa bergumam pelan, “Wah, Alhamdulillah. Kayaknya hari ini kita direstui buat summit.”

Kondisi langit dini hari cerah, sangat memungkinkan untuk summit
Kondisi langit dini hari cerah, sangat memungkinkan untuk summit

Pukul 2 dini hari kami mulai bersiap, sarapan ringan, beberes perlengkapan, lalu sedikit aklimatisasi buat menyesuaikan tubuh dengan suhu dingin saat itu. Sekitar pukul 03.25 WIB, perjalanan summit attack akhirnya dimulai, dengan estimasi waktu sebagai berikut:

  • Pos 4 Sabana 1 ke Pos 5 Sabana 2: ±25 menit
  • Pos 5 Sabana 2 ke Batu Lumpang: ±20 menit
  • Batu Lumpang ke Puncak Merbabu: ±50 menit

Dari semua rute summit, jalur Batu Lumpang menuju puncak jadi bagian paling berat buat saya. Trek-nya tegak dan cukup menguras tenaga. Ditambah lagi antrean pendaki di beberapa titik, bikin kaki terasa makin pegal dan langkah harus ekstra sabar.

Untuk pendakian Merbabu jalur Selo, puncak yang akan dicapai adalah Puncak Triangulasi dan Puncak Kenteng Songo. Kedua puncak ini jaraknya saling berdekatan dan relatif mudah dicapai, tinggal bagaimana tenaga dan mental tetap dijaga sampai benar-benar tiba di atas.

Ringkasan Pendakian Gunung Merbabu via Selo

Berpose di Tugu Puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu
Berpose di Tugu Puncak Kenteng Songo Gunung Merbabu

Buat yang mau tahu gambaran singkat tanpa baca cerita panjang di atas, berikut ini ringkasan pendakian Gunung Merbabu via Selo berdasarkan pengalaman saya.

Keterangan Detail
Jalur Pendakian Merbabu via Selo
Panjang Jalur ±5,63 km (Data dari Taman Nasional Gunung Merbabu)
Jenis Trip Open Trip
Operator Falisha Journey
Biaya Open Trip Rp799.000
Waktu Pendakian ±5 jam perjalanan ke Sabana 1 & ±2 jam summit attack
Puncak Triangulasi & Kenteng Songo
Fasilitas Trip Tenda (tanpa matras & lampu), guide, porter tim, makan selama pendakian
Sistem Booking Pendakian melalui booking online dibantu oleh trip operator, peserta hanya perlu membuat akun pendakian di https://booking.tngunungmerbabu.org/app/index.php

Dari pengalaman ini, jalur Selo menurut saya cukup ramah untuk pendaki pemula yang punya fisik dan persiapan matang, tapi tetap nggak bisa diremehkan karena panjang jalur dan cuaca yang cepat berubah. 

Merbabu via Selo atau Merbabu via Suwanting, Lebih Enak Jalur Mana?

Jalur Merbabu via Selo VS Suwanting, mana yang lebih baik
Jalur Merbabu via Selo VS Suwanting, mana yang lebih baik?

Karena saya pernah mendaki Gunung Merbabu lewat dua jalur yang berbeda, yaitu Selo dan Suwanting, rasanya cukup adil kalau saya membandingkan keduanya berdasarkan apa yang benar-benar saya rasakan di lapangan.

Secara karakter jalur, Selo terasa lebih variatif. Ada bagian landai, lalu tanjakan, kemudian landai lagi, tapi dengan rute yang cukup panjang.

Sementara itu, Suwanting cenderung konstan menanjak sejak awal sampai ke area camp. Jalurnya lebih “to the point”, tapi justru di situ tantangannya, karena hampir nggak ada jeda buat bernapas santai.

Titik ekstrem di masing-masing jalur juga terasa berbeda. Di jalur Selo, bagian paling menguras tenaga buat saya ada di tanjakan dari Sabana 2 menuju puncak. Sementara di Suwanting, titik terberat justru terasa sejak Pos 2 sampai ke Pos 3 Camp Area. Apalagi kalau kondisi hujan, jalur Suwanting bisa berubah jadi kubangan lumpur yang bikin langkah makin berat dan rawan terpeleset.

Pemandangan Sabana 1 dan 2 dari area dekat puncak
Pemandangan Sabana 1 dan 2 dari area dekat puncak

Soal area camp, jalur Selo jelas lebih unggul dari segi pilihan dan luas lahan. Pendaki bisa mendirikan tenda di beberapa titik, mulai dari Pos 2, Pos 3, Pos 4, sampai Pos 5. Berbeda dengan Suwanting yang area camp-nya lebih terbatas, umumnya hanya di Pos 3 atau Pos 2 sebagai alternatif jika para pendaki sudah tidak kuat membawa carrier ke Pos 3. 

Untuk jalur summit, keduanya menawarkan pengalaman yang berbeda. Jalur summit via Selo terasa cukup menantang dengan tanjakan-tanjakan curam yang menguras sisa tenaga. Sementara Suwanting justru menyuguhkan jalur summit yang relatif lebih bersahabat, berupa tanjakan bukit dengan pemandangan sabana yang terbuka dan indah. Meski jalurnya berbeda, pada akhirnya kedua jalur ini akan membawa pendaki ke puncak yang sama.

Kalau ditanya mana yang lebih cocok untuk pemula, jawabannya kembali ke kesiapan masing-masing.

Selo lebih ramah secara teknis dan variasi jalurnya membuat pendakian terasa lebih dinamis, tapi tetap menuntut stamina karena panjangnya rute. Suwanting terasa lebih singkat, namun tanjakan dan kondisi jalurnya bisa lebih menguras mental, terutama saat cuaca buruk.

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Pengalaman Saya Mendaki Gunung Merbabu via Selo, Cocok untuk Pemula?
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us