Cilok merupakan makanan yang tidak neko-neko. Jajanan kaki lima yang terbuat dari pati diberi sedikit bumbu, dibentuk bulat kecil-kecil seperti bakso lalu direbus. Sederhana, merakyat, dan murah meriah. Tidak ada yang salah dari cilok sebelum suatu kenyataan pahit menghatam.
Faktanya ada penjual cilok di luar sana yang nggak amanah. Mereka merusak kepercayaan pembeli dengan melakukan segala cara untuk menekan kualitas demi mendapatkan keuntungan besar. Ujung-ujungnya, pembeli yang jadi korban karena membeli jajanan yang tidak berkualitas seperti di bawah ini:
#1 Saus kacang yang lebih mirip air cucian kacang
Cilok tanpa saus kacang itu ibarat nonton film tanpa suara, hambar dan bikin bingung. Namun, yang lebih menyakitkan adalah ketika saus kacangnya ada, tapi terlalu encer seperti air cucian kacang. Bukan kental menggoda seperti yang kita bayangkan, melainkan cair seperti kuah bakso yang lupa jati dirinya.
Saya pernah beli cilok dengan ekspektasi tinggi. Begitu sampai rumah, saya buka bungkusnya, dan langsung disambut saus kacang yang bentuknya lebih mirip sup. Rasanya? Ya jelas hambar kacangnya seperti cuma numpang lewat, sambalnya juga setengah hati. Ini bukan lagi soal selera, tapi soal pengkhianatan.
#2 Cilok yang teksturnya lebih keras dari kenyataan hidup
Cilok itu seharusnya kenyal, bukan keras. Kenyal itu menyenangkan, bikin nagih. Tapi, ada penjual cilok yang entah kenapa berhasil menciptakan tekstur yang lebih cocok jadi bola pingpong daripada makanan.
Gigitan pertama langsung bikin rahang kerja lembur. Gigitan kedua mulai muncul rasa curiga. Setelahnya? Sudah pasrah. Ini cilok atau latihan kekuatan gigi? Saya sampai berpikir, ini mungkin bukan karena tepungnya kebanyakan, tapi karena niat penjualnya kurang tulus.
#3 Konten tidak konsisten antara ya dan tidak
Salah satu daya tarik cilok adalah isiannya. Entah itu daging cincang, telur, atau bahkan keju. Tapi, penjual yang tidak amanah membiarkannya kosong atau diisi dengan isian minim. Dari luar, bulatan cilok terlihat meyakinkan, ukurannya sedikit lebih besar, bikin kita berharap ada sesuatu yang spesial di dalamnya. Tapi, begitu digigit kosong, hampa.
#4 Sambal yang pedasnya nggak konsisten
Saya bukan tipe orang yang tidak bisa pedas. Kadang saya suka, kadang saya ingin menghindarinya dahulu. Persoalannya, tidak semua penjual punya sambal yang pedasnya konsisten. Kadang sedikit sambal saja sudah terasa pedasnya, kadang tidak terasa sama sekali.
Ketidakpastian itu bikin saya sebagai pembeli bingung. Setiap gigitan jadi semacam perjudian. Dan, saya tidak pernah mendaftar untuk permainan ini.
#5 Kebersihan penjual cilok yang dipertanyakan
Penjual cilok yang tidak amanah mengabaikan kebersihan supaya tidak repot. Kadang gerobak kotor dibiarkan saja, air rebusan cilok keruh tanda jarang diganti, hingga tangan penjual yang multitasking tanpa jeda pegang uang. itu baru kebersihan yang bisa pembeli lihat secara langsung. Belum proses pembuatan cilok yang kita tidak pernah tahu bagaimana proses dan standar kebersihannya.
#6 Porsi yang tidak konsisten
Dosa yang satu ini mungkin tidak begitu terlihat, tapi sangat menyebalkan dan menggerogoti kepercayaan. Ada lho penjual yang tidak adil melayani pembelinya. Misal, sama-sama beli Rp10.000, tapi jumlah butir cilok yang diberikan berbeda. Tidak ada dasar yang jelas, suka-suka pembeli saja. Sekali atau dua kali mungkin tidak masalah, tapi kalau berkali-kali seperti itu, bikin kesal juga.
Di atas beberapa “dosa” penjual cilok yang bikin pembeli kapok. Memang tidak semua penjual cilok melakukan siasat curang di atas, tapi sebagai pembeli, sebaiknya kalian semakin hati-hati.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 5 Kuliner Bandungan Semarang yang Sayang kalau Dilewatkan Wisatawan.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 21 April 2026 oleh