1. News
  2. Mojok
  3. Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

gamping,-gerbang-masuk-barat-sekaligus-tempat-bersejarah-di-jogja-yang-kehilangan-harga-dirinya
Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya

Sebagai wajah pertama Yogyakarta yang kerap kali diingat dari arah barat, seharusnya orang-orang punya kesan yang dalam terhadap Gamping. Namun, Gamping sering kali hanya dianggap sebagai pelataran rumah yang hanya dilewati saja. Orang tidak mengingat Gamping kecuali aroma durian yang menyerbak di kala musimnya. Selain itu, ya, tidak ada yang kepikiran untuk melirik.

Sekarang, kita singkirkan dulu apa-apa yang menghalangi pandangan kita. Kita bahas hal yang lebih penting. Gamping kini terjebak dalam krisis identitas yang akut antara kejayaan masa lalu dan ambisi pembangunan masa depan.

Nama “Gamping” bukanlah sekadar label administratif yang muncul begitu saja dari meja birokrasi. Nama daerah tersebut diambil dari nama batu kapur. Kapur adalah komoditi yang sempat menjadi napas ekonomi dan identitas geologis wilayah ini. Gamping juga jadi daerah yang amat penting untuk Yogyakarta. Sultan Hamengkubuwono I membangun istana darurat yang diberi nama Pesanggrahan Ambarketawang.

Di sanalah, Sang Sultan tinggal selama setahun sembari menunggu pembangunan Keraton Yogyakarta yang sekarang selesai. Nama “Ambarketawang” sendiri berasal dari kata Ambar (harum) dan Ketawang (angkasa). Sebuah nama yang sangat puitis dan jauh dari kesan semrawut yang kita lihat hari ini.

Dahulu, Gamping adalah pusat penambangan batu kapur yang sangat vital. Kapur dari sini bukan hanya sekadar bahan bangunan, tapi adalah pondasi awal berdirinya peradaban Mataram Islam di Yogyakarta.

Identitas kapur yang putih dan kokoh itu pernah berdiri tegak sekokoh kedaulatan kedaerahan kita. Namun sekarang, coba cari di mana kita bisa menemukan “ruh” batu kapur itu di tengah kepungan ruko-ruko modern, kampus-kampus raksasa, dan deretan kos-kosan yang tumbuh lebih cepat daripada jamur di musim hujan.

Gamping yang dulu dikenal dengan bukit-bukit kapurnya yang ikonik, kini mulai rata dengan tanah, digantikan oleh hutan beton yang gersang dan tidak punya karakter.

Kontradiksi yang bikin pedih

Sebagai orang yang setiap hari berkelindan dengan aspal sebagai driver Shopee Food paruh waktu, saya melihat kontradiksi ini dengan kacamata yang pedih. Gamping dipaksa menjadi “hutan beton” penyangga kota yang tidak punya pilihan selain menerima tumpahan beban kendaraan dari arah Wates. Setiap kali saya mangkal menunggu orderan di sekitar pertigaan ringroad, saya sering teringat bahwa di bawah aspal yang panas ini, pernah ada sejarah besar tentang sebuah keraton darurat.

Kini, keharuman “Ambarketawang” itu telah sirna. Gamping telah digantikan oleh bau sangit kopling bus AKAP dan aroma durian yang kadang terasa ironis di tengah pekatnya polusi.

Keresahan ini makin memuncak saat kita melihat realitas di jalur Pasar Gamping sampai Pelem Gurih. Jalur ini adalah bukti nyata bagaimana sosiologi masyarakat aslinya tergerus oleh egoisme logistik nasional.

Gamping bukan lagi milik warganya yang ingin bercengkerama di teras rumah tanpa takut kena debu. Gamping kini jadi milik siapa pun yang punya mesin paling berisik dan bodi kendaraan paling besar. Truk-truk tronton pembawa barang kebutuhan industri melaju tanpa ampun, seolah-olah warga lokal hanyalah figuran.

BACA JUGA: Kecamatan Gamping, Kecamatan Paling Underrated di Kabupaten Sleman

Gamping lupa siapa dirinya

Sepertinya, pembangunan di Gamping ini mengalami amnesia sejarah. Kita terlalu sibuk membangun fasilitas pendidikan dan komersial, tapi lupa merawat “akar” yang memberi nama pada tanah ini. Mahasiswa yang tinggal di kos-kosan elit sekitar Gamping mungkin lebih tahu di mana tempat ngopi estetik untuk mengerjakan tugas. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang menginjak tanah yang pernah menjadi pusat komando Sultan Hamengku Buwono I. Pendidikan tinggi hadir di sini, tapi literasi sejarah lokalnya seolah jalan di tempat.

Aroma durian di Pasar Gamping yang membelai hidung pelancong itu sebenarnya adalah sebuah kamuflase sosial. Wangi durian itu seolah-olah ingin mengatakan bahwa Gamping baik-baik saja serta ekonomi rakyat masih berputar. Padahal, jika kita masuk lebih dalam, kita akan menemukan kegelisahan warga asli yang merasa asing di tanahnya sendiri. Tanah-tanah bukit kapur atau sawah hijau kini telah berganti menjadi ruko-ruko yang pemiliknya entah ada di mana. Identitas kapur yang kokoh telah tergantikan oleh struktur baja dan kaca yang rapuh secara sosiologis.

Kita butuh lebih dari sekadar perbaikan jalan atau penambahan lampu lalu lintas di perempatan Pelem Gurih. Kita butuh pengakuan kembali atas identitas Gamping. Mengapa tidak ada narasi visual atau apalah begitu yang sangat kuat di pintu masuk Gamping yang menceritakan tentang kejayaan Ambarketawang dan sejarah batu kapur?

Potret pembangunan terburu-buru

Gamping adalah potret dari pembangunan yang terburu-buru, sebuah wilayah yang kehilangan “ruh”-nya demi mengejar predikat modern. Jika Gamping terus-menerus hanya dianggap sebagai “pintu masuk” atau gerbang transit tanpa pernah dirawat karakternya, jangan kaget jika suatu saat nanti, nama Gamping hanyalah tinggal barisan huruf di papan alamat dan KTP.

Mari kita lebih jujur untuk melihat Gamping dengan cara yang berbeda. Bukan hanya sebagai tempat membeli durian atau jalur menuju kampus. Kita harus mengingat daerah ini sebagai wilayah yang punya martabat sejarah. Jangan biarkan “ruh” batu kapur itu benar-benar hilang tertutup abu-abu aspal dan polusi kendaraan. Karena sebuah bangsa yang besar bukan hanya mereka yang punya gedung tinggi, tapi mereka yang tetap memijak akar sejarahnya. Pendahulu kita membangun pondasi yang kuat di Ambarketawang, dan sudah tugas kita menjaganya.

Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kisah Saya Hidup di Kecamatan Gamping Sleman, Desa Enggan, Kota Tak Mampu, Akhirnya Terjebak di Tengah-tengahnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

0
joy
Joy
0
cong_
Cong.
0
loved
Loved
0
surprised
Surprised
0
unliked
Unliked
0
mad
Mad
Gamping, Gerbang Masuk Barat sekaligus Tempat Bersejarah di Jogja yang Kehilangan Harga Dirinya
Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Login

To enjoy KOMBI.ID privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Follow Us