Menjadi pustakawan adalah salah satu plot twist paling tidak terduga dalam hidup saya. Waktu kecil, tidak pernah sekalipun saya menjawab pustakawan sebagai cita-cita saya. Tidak pernah. Pilihan saya waktu itu masih standar, dokter (biar bisa nyuntik orang), polisi (biar bisa menilang), atau artis (biar bisa masuk TV). Apalagi sekarang, di tengah kemajuan teknologi yang membuat banyak orang memilih kerja di dunia digital. Alasannya cukup beragam mulai dari fleksibilitas kerja hingga alasan ingin terbebas dari tekanan atasan.
Tapi semua itu seperti tidak menggerakan hati saya untuk beralih ke sana. Sampai akhirnya kini pustakawan menjadi pilihan saya, padahal kalau dipikir-pikir, menjadi pustakawan itu seperti menjalani hubungan yang penuh keluhan tapi tidak pernah benar-benar ingin diakhiri.
Saya sering ngedumel, sering merasa lelah, sering bertanya, “Kenapa, sih, hidup saya begini?” Tapi setiap kali ada kesempatan keluar, saya malah balik lagi jadi pustakawan. Setelah direnungkan, ternyata ada beberapa alasan kenapa saya masih betah jadi pustakawan.
Lowongannya jelas, tidak aneh-aneh
Di negara dengan lowongan kerja yang kadang ditulis seperti mencari menantu: “maksimal usia 23 tahun, pengalaman 5 tahun, menguasai 12 software, siap bekerja di bawah tekanan, dan bersedia tidak punya kehidupan pribadi”. Lowongan pustakawan adalah oase yang jujur.
Biasanya bunyinya sederhana saja: minimal D3/S1 Ilmu Perpustakaan. Sudah selesai dan tidak neko-neko. Tidak ada tambahan good looking, tidak ada berpenampilan menarik, tidak ada syarat wajib tinggi minimal sekian. Ini mungkin terdengar sepele, tapi bagi saya justru sangat melegakan.
Dunia kerja di luar sana seringkali tidak peduli kamu belajar apa. Lulusan perpustakaan bisa saja kalah saing dengan lulusan apa saja, bahkan dengan orang yang tidak tahu perbedaan antara sinopsis dengan blurb.
Tapi di lowongan pustakawan, untuk sekali saja, saya merasa: oh, ini wilayah saya. Saya jelas tahu kudu gimana.
BACA JUGA: Derita Jadi Pustakawan: Dianggap Bergaji Besar dan Kerjanya Menata Buku Aja
Pustakawan bisa “belanja” buku jutaan rupiah, tanpa takut miskin
Ini mungkin privilege yang agak tidak etis tapi sah secara administratif: saya bisa “belanja” buku dengan uang jutaan rupiah, tanpa perlu takut saldo rekening menipis. Tentu bukan untuk saya bawa pulang. Saya masih punya moral. Tapi saya yang memilihnya. Setiap periode pengadaan, saya berubah menjadi versi paling bahagia dari diri saya sendiri.
Saya yang duduk berjam-jam menyisir katalog penerbit, marketplace buku, membaca blurbs, membandingkan harga, memastikan edisi terbaru, memastikan buku itu layak hidup di perpustakaan kami. Rasanya seperti jadi kurator, sekaligus anak kecil di toko mainan. Ada sensasi kuasa yang aneh, bahwasannya saya tidak membeli buku untuk dimiliki, tapi untuk dihadirkan.
Yang lebih membahagiakan lagi, beberapa buku itu dulunya cuma bisa saya masukkan wishlist pribadi. Buku-buku yang dulu cuma bisa saya lihat, sekarang bisa saya beli lewat anggaran perpustakaan. Bisa saya sentuh duluan dan saya baca secara gratis.
Secara tidak langsung, saya juga menjadi penentu takdir buku itu. Jika Tuhan menciptakan manusia, maka pustakawan menciptakan alamatnya melalui klasifikasi dan penataan rak.
Pustakawan diam-diam ikut menentukan cara orang menemukan ilmu
Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi pustakawan adalah arsitek diam-diam dari pengetahuan. Orang datang ke perpustakaan dengan satu pertanyaan. Tapi bagaimana mereka menemukan jawabannya, itu tergantung bagaimana pustakawan mengaturnya.
Nomor klasifikasi bukan sekadar angka. Itu sistem yang menentukan buku mana yang akan berdampingan, dan buku mana yang akan hidup sendirian. Buku tentang filsafat bisa berdampingan dengan buku psikologi, lalu tanpa sadar, seseorang yang awalnya cuma mau cari buku motivasi, pulang membawa krisis eksistensial.
Dan itu semua terjadi karena pustakawan. Pustakawan mungkin tidak mengubah dunia secara langsung. Tapi pustakawan mengubah rak. Dan melalui rak itulah, pustakawan bisa “mengubah” manusia.
Bikin saya terlihat pintar, walaupun belum tentu juga
Mari jujur. Tidak semua waktu pustakawan dihabiskan untuk membaca buku berat sambil minum kopi hitam dan terlihat pintar. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk hal-hal seperti memperbaiki data yang salah, mencari buku yang hilang (padahal tidak hilang, cuma salah taruh), atau sekadar mengingatkan peminjam yang pura-pura lupa. Tapi tetap saja, ada ilusi intelektual yang menyenangkan.
Berada di ruangan penuh buku membuat saya merasa lebih pintar, meskipun sebenarnya belum tentu. Minimal, kalau ada yang lewat, mereka akan berpikir: “Wah, serius sekali orang ini.” dan akan Tampak sangat kutu buku. Padahal saya cuma lagi benerin label.
Sepi peminat, jadi minim drama
Menjadi pustakawan bukan profesi yang ramai peminat. Tidak banyak orang bercita-cita menjadi pustakawan, dengan berbagai alasan klise, katanya membosankan, sampai bayaran yang dianggap tidak seberapa. Ironisnya, justru karena sepi peminat, profesi ini terasa cukup nyaman. Tidak banyak kompetitor, tidak banyak drama, dan tidak banyak orang yang tiba-tiba merasa paling ahli.
Profesi ini sepi. Dan di dunia yang terlalu berisik, sepi adalah kemewahan. Menjadi pustakawan itu seperti duduk di bangku paling belakang: tidak disorot, tidak diincar, tapi juga tidak diganggu. Sunyi, dan stabil secara mental.
Intinya…
Saya tidak akan berbohong. Pustakawan bukan profesi paling glamor. Profesi yang tidak membuat orang terkesan dan tidak membuat mantan menyesal juga. Bahkan kadang, tidak membuat orang paham saya ini sebenarnya kerjanya ngapain.
Tapi ada satu hal yang diam-diam saya sadari. Di dunia yang sibuk menyuruh semua orang menjadi sesuatu, perpustakaan tidak pernah menyuruhku menjadi siapa pun. Aku bisa bersikap normal di sini, terkadang aku masih bisa terlambat. Dan mungkin itulah alasan paling jujur kenapa aku bisa bertahan.
Bukan karena ini pekerjaan impian. Tapi karena di antara semua kemungkinan hidup yang melelahkan, menjadi pustakawan adalah salah satu tempat di mana saya masih bisa bernafas pelan-pelan. Sambil, tentu saja, tetap ngedumel dengan perlahan.
Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Saya Lulusan Ilmu Perpustakaan, tapi Saya Nggak Mau Jadi Pustakawan Sekolah, Isinya Cuma Makan Hati!
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini dari.
Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh